Sepeda motorku, nasibku malang

“Bang, bapak sudah meninggal tadi pagi, aku kepingin pulang melihat bapak untuk terakhir kali, tapi aku tidak punya uang untuk ongkos pulang. Sudah enam bulan aku sakit dan tidak bisa kerja. Aku ditabrak sepeda motor, kaki patah dan terpaksa opname di rumah sakit”. Sambil terisak-isak, Jumollang (bukan nama sebenarnya) sesenggukan diujung telepon. Saya berusaha memberi kata-kata penghiburan untuk menguatkan hati Jumollang, meski saya tau pasti bukan kata-kata penghiburan yang dibutuhkan Jumollang saat ini, ada yang lain yang lebih penting untuknya. 

Sudah beberapa tahun saya tidak bertemu Jumollang. Awal tahun lalu, sepupu saya itu, tiba-tiba menelepon saya. Sambil berbicara ini itu, dia menceritakan kehidupan “perantauannya” di Tangerang berusaha bersama temannya menjadi pemborong kecil-kecilan. Menurut Jumollang, usahanya masih sekedar untuk menutupi kebutuhan kehidupan sehari-hari. Terkadang ada proyek untuk dikerjakan, lain waktu tidak ada pekerjaan sama sekali. Isterinya tidak bekerja, mereka belum dikaruniai anak meski sudah hampir 10 tahun berkeluarga.

Maka ketika beberapa saat lalu dia menelepon lagi, Jumollang menceritakan meninggalnya ayahnya di kampung. Dengan menahan isak sambil terbata-bata dia menceritakan kejadian yang menimpa dirinya enam bulan lalu.
“Aku naik sepeda motor, sedang menuju tempat pembayaran rekening listrik. Sepeda motor yang susah payah kubeli itu tiba-tiba ditabrak sepeda motor lain. Aku terlempar ke jalan, tak sadarkan diri. Tau-tau aku di rumah sakit, kaki ku patah dan harus dioperasi. Sudah enam bulan aku tidak kerja, sampai sekarang kakiku masih sakit, aku masih pincang kalau jalan. Hidup keluarga tambah susah.”

Kisah hidup Jumollang, bukanlah satu-satu-satunya yang terjadi di negeri ini. Setiap hari, kecelakaan lalu lintas yang melibatkan sepeda motor terjadi, dan menghiasi berita harian koran. Korban banyak yang seperti Jumollang, kepala keluarga, penopang kehidupan ekonomi, tiba-tiba kecelakaan, diopname dirumah sakit. Ketika kepala keluarga mengalami kecelakaan lalu lintas, kondisi ekonomi keluarga langsung ambruk. Penopang keluarga tidak bisa bekerja. Selain, kehilangan sumber pencaharian, keluarga juga harus menanggung biaya pengobatan yang tidak sedikit. Sepeda motor yang kreditannya belum lunas, rusak tidak bisa dipakai.

Kecelakaan sepeda motor telah menjerumuskan para Jumollang di negeri ini menjadi lebih miskin dari kondisi yang pas-pasan. Boleh jadi, sudah ada ratusan ribu keluarga yang mengalami nasib yang sama dengan Jumollang. Penjualan sepeda motor meningkat luar biasa dalam dekade terakhir ini. Hampir setiap orang bisa mendapatkan sepeda motor dengan membeli lunas, ataupun kredit. Untuk mendapatkan kredit sepeda motor, nyaris tidak memerlukan persyaratan yang berarti. Asal mau kredit, sepeda motor sudah bisa dibawa pulang. Promosi penjualan sepeda motor dilakukan dengan sangat ekspansif, gerai penjualan sepeda motor tidak lagi hanya dibangunan apik, tapi di ujung gang yang banyak dilalui orang sudah ada tenda penjualan sepeda motor.

Peningkatan pemakaian sepeda motor yang sangat tinggi tidak diikuti dengan kesiapan sarana dan prasarana keamanan yang memadai. Peralatan keamanan yang tidak berarti, berbanding terbalik dengan kemampuan manuver gerak sepeda motor yang sangat fleksibel. Naik sepeda motor serasa seperti bisa “terbang bebas” di jalan raya. Disisi lain, perilaku pengguna lalu lintas (termasuk sepeda motor) sangat buruk. Kombinasi antara prasarana yang minim, kemudahan dan fleksibilitas penggunaan sepeda motor, ditambah peralatan keamanan yang seadanya, dan perilaku pengguna lalu lintas yang buruk, menjadikan bersepeda motor menjadi seperti layaknya mengendara di sirkuit jalanan. Manusia di jalan raya seolah menjadi tidak berharga, nyawa sangat mudah melayang hanya karena kecerobohan kecil yang berdampak malapetaka.

Sepeda motorku malang membawa sengsara keluarga. Meratapi nasib saja tidaklah cukup. Saatnya semua orang melakukan sesuatu untuk mengentikan “pemiskinan” keluarga miskin karena kecelakaan sepeda motor.

Perlu ada perlingungan bagi masyarakat untuk terhindar dari pemiskinan akibat kecelakaan sepeda motor. Negara berkewajiban menyiapkan sistem yang melindungi masyarakat. Semua elemen negara wajib membangun bersama untuk melindungi dan menghargai martabat manusia. Prasarana lalu lintas harus ditingkatkan, pengaturan pemanfaatan sepeda motor harus menjamin keselamatan pengendara dan pengguna lalu lintas lainnya, perilaku masyarakat di jalanan harus dirubah untuk lebih taat dan menghargai aturan main berlalu lintas. Semua pihak bertanggung jawab untuk mewujudkan peningkatan martabat pennguna lalu lintas.

4 thoughts on “Sepeda motorku, nasibku malang

  1. amangboru,
    saban hari saya selalu mengingatkan rekan yang naik motor. lalu apa kata mereka ” gok ni hatami, ibban na marmobil i ho” padahal saya serius dan tentunya peduli. sebab, kulihat, dijaman bebas saat ini, menggukan jalan adalah seenak dewe. sikut sana sini, truk muatan tanah pun mau di lawan, ya modar.
    banyak halak hita di kota kecil ini yang mengalami nasib tragis, tapi itulah, resiko nyawa melayang dipertaruhkan hanya karena tak mau nambah biaya buat naik angkot….

    Like

  2. Beruntung di tempat saya kesadaran masyarakat/karyawan sdh sangat tinggi. Walaupun sekali2 ada ‘razia’ limit speed, saya sendiri lebih suka naik sepeda motor
    karena lebih praktis bukan ‘holit’ he he he.
    Apa khabar di Surabaya Amangboru?

    Like

  3. Makanya amangboru tempo hari aku ikutan nulis soal Safety Riding.
    Ngeri! Harus lebih banyak sosialisasi dan kampanye untuk mencegah (pinjem kalimat amangboru) pemiskinan akibat kecelakaan motor.

    Sedih banget siy, sampe mau mudik krn ayah meninggal aja sulit…😐

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s