Diskriminasi terhadap nasabah kecil

Jam istirahat siang itu saya manfaatkan ke bank untuk bayar uang sekolah anak saya. Sekolahan anak saya mewajibkan pembayaran SPP melalui transfer autodebet dari rekening bank. Rupanya, sekolah tidak mau ambil resiko banyaknya yang terlambat bayar SPP bulanan. Sekolah menentukan Bank Mandiri sebagai pelaksana autodebet SPP tersebut. Karena itu saya terpaksa buka rekening  tabungan di bank Mandiri.

Selasa kemarin (8/3) saya ke bank Mandiri dekat kantor untuk menambah saldo, supaya autodebet dari sekolah anak saya bisa diproses. Ketika sampai di bank, saya masuk di jalur antrian. Didepan saya sudah ada sekitar tujuh atau delapan orang yang antri.  Loket teller ada 3 buah, karena kantor bank itu memang tidak terlalu besar. Karena sedang jam istirahat siang, hanya dua loket yang dibuka.

Ketika menunggu ditengah antrian, ada seorang bapak yang baru datang, lalu dipersilahkan menuju loket teller memotong kami yang sudah antri. Saya sempat dongkol juga, kok enak saja memotong antrian, pikir saya. Tidak lama kemudian, ada lagi seorang ibu yang baru datang, lalu setelah bicara dengan petugas security, langsung diantar ke loket teller. Kami yang antri di dahului lagi. Saya semakin jengkel, tapi saya tidak berbuat apa-apa.

Sewaktu tiba giliran saya dilayani, saya bertanya kepada teller:

“Apa syaratnya supaya tidak antri, dan langsung dilayani mbak?”.

“Oh, mereka nasabah prioritas pak. Bapak kalau mau jadi nasabah prioritas, juga akan dilayani lebih dulu”, kata si teller yang cantik itu.

Mestinya mereka punya counter sendiri mbak, kita yang antri tidak diserobot begitu aja. Tidak enak dilihat mata.” kata saya kepada si teller.

“Maaf pak, kalau bapak tidak merasa nyaman“, si teller buru-buru menjawab.

Saya tidak tau persis apa syarat menjadi nasabah prioritas, tapi kalau tidak salah, mereka adalah yang nilai jumlah transaksinya besar. Mereka adalah “nasabah besar“. Dengan kata lain, nasabah yang bukan prioritas seperti saya adalah nasabah kecil.

Boleh jadi Bank Mandiri merasa sah-sah saja memberikan pelayanan lebih kepada nasabah besar. Yang jadi masalah adalah, bahwa pelayanan lebih kepada nasabah besar itu jangan sampai mengurangi pelayanan kepada nasabah kecil. Apalagi sampai menelantarkan nasabah kecil. Saya merasakan bahwa nasabah kecil mendapat perlakuan diskriminatif terutama dalam antrian di kantor cabang. Dari sisi saya sebagai nasabah kecil, pelayanan kepada nasabah prioritas itu terasa sangat menyakitkan perasaan, karena setiap saat si prioritas datang, dengan enaknya dia menyerobot antrian nasabah kecil.

Saya tidak sempat klarifikasi persoalan itu kepada pimpinan kantor cabang Bank Mandiri ditempat saya antri, soalnya saya harus segera kembali ke kantor. Tapi saya menilai, Bank Mandiri sepertinya keliru memperlakukan pelayanan kepada nasabah kecil. Kantor bank ini diskriminatif terhadap nasabah kecil. Inikah manajemen modern ala Bank Mandiri ??

3 thoughts on “Diskriminasi terhadap nasabah kecil

  1. untung bank yg saya ikuti tidak begitu, tapi seharusnya pihak bank cekatan ketika ada nasabah lagi bejibun. Yang pernah saya dapati adalah tellernya masih istirahat padahal sudah lewat jam istirahat.

    Like

  2. Setahu saya, kalau peraturannya belum berubah, yg dimaksud dengan nasabah prioritas adalah nasabah penyimpan dana sebesar Rp. 500 juta keatas. mereka punya kartu khusus, yg disebut kartu prioritas, dan sebenarnya ada cabang2 khusus untuk melayani mereka (priority banking), tidak bercampur dengan nasabah lain. kalaupun nasabah prioritas ini memilih untuk bertransaksi di cabang biasa, biasanya mereka dilayani di dalam ruangan pimpinan cabang, sehingga tidak menimbulkan kecemburuan sosial seperti yg Bapak alami. sayangnya, hal tersebut memang sulit dilakukan di cabang2 kecil yang manningnya terbatas namun transaksinya ramai, sehingga terjadilah hal yang Bapak alami di atas.

    Like

  3. itu tandanya bapak udah disuruh jadi orang kaya sama Tuhan, ga enak kan? makanya buruan jadi nasabah prioritas jga, saya komentar berdasarkan artikel ini, mungkin skrg udah jadi nasabah prioritas kali yah… krn orang2 yg sering protes kayak bapak ini , termasuk saya, tidak bisa tinggal diam, klu saya jadi bapak dalam artikel diatas, saya pasti bertekad jadi nasabah prioritas jga

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s