Pelajaran dari Jepang (1)

Gempa dan tsunami di Jepang awal Maret lalu mengakibatkan malapetaka bagi warga Jepang. Tapi kejadian itu bisa juga membawa hikmah yang besar bagi warga dunia (bagi yang mau belajar). Seorang kolega (mantan wartawan senior), melihat pelajaran yang berharga dari ekspose pemberitaan media (terutama televisi), membandingkan pemberitaan televisi internasional dan televisi nasional di Indonesia.

Pemberitaan televisi di CNN maupun di BBC, (yang sempat saya lihat) dan dikutip sebagian besar TV nasional, memperlihatkan betapa dahsyatnya dan mengerikannya bencana itu. Ombak besar menggulung apa saja yang berada disekitarnya. Tapi, gambar-gambar yang ditampilkan, tidak vulgar. Publik bisa mengetahui betapa besarnya kerugian dan dampak bencana. Para relawan terbantu untuk mengetahui banyaknya korban yang harus segera dibantu. Pemberitaan di TV membantu pemirsa untuk mengetahui apa yang terjadi, dan pada aatnya melakukan sesuatu untuk membantu.

Ketika terjadi gempa dan tsunami di Aceh, sejumlah TV Nasional menampilkan gambar yang menyampaikan kedahsyatan bencana Aceh. Stasiun TV seolah berlomba menjadi kampiun dalam meliput bencana, dan akhirnya banyak yang terjebak menjadi menampilkan sensasi bencana dengan memuat gambar mayat bergelimpangan di jalan dimana banyak orang berlalu lalang di sekitar mayat. Stasiun TV Nasional menayangkan gambar-gambar yang sangat mengerikan dan sangat vulgar. Pesan kengerian tersebar secara luas, terutama bagi para korban dan keluarganya.

Sampai sekarang saya masih bisa mengingat betapa mengerikan melihat sejumlah orang mencari keluarganya di tengah mayat-mayat yang tergeletak di jalanan. Bagi saya memori itu hanya sekedar gambar dan informasi, tapi bagi keluarga korban bencana, gambar itu adalah malapetaka, trauma seumur hidup yang tidak akan terlupakan.  Ketika mereka mengharapkan informasi keberadaaan keluarganya yang menjadi korban di Aceh, anggota keluarga itu disajikan dengan gambar yang memperburuk harapan dan menjatuhkan mental psikologis. Seandainya para wartawan TV dan redakturnya, ada yang keluarganya menjadi korban, mungkin mereka akan berpikir ulang untuk menampilkan gambar vulgar pada saat itu. Tapi bagi para jurnalis itu “bad news is good news“.

Pelajaran yang dapat dipetik adalah bahwa, meski tsunami di Jepang sangat mengerikan,  media Jepang menyampaikan “pesan” kedahsyatan tsunami itu secara jelas. Tetapi media Jepang tidak merasa perlu menyebarkan kengerian dan trauma bagi orang dengan menampilkan sensasi gambar mayat bergelimpangan. Stasiun TV di Jepang dan stasiun TV internasional, dapat menahan diri untuk tidak mengekspose kengerian secara blak-blakan. Dalam menghadapi bencana, tidak diperlukan sensasi, tidak diperlukan “jawara” dalam meliput berita. Tetapi informasi lengkap tentang bencana bisa tersampaikan kepada publik, kepada relawan, dan kepada para pengambil keputusan dalam penanggulangan bencana.

Ini mestinya pelajaran bagi media Indonesia.

One thought on “Pelajaran dari Jepang (1)

  1. Hmm… saya inget waktu tsunami, berita tentang bencana yang seharusnya bersifat informatif dan membuat pemirsa tergerak, malah jadi momok yang menakutkan sekaligus memuakkan. Lagu-lagu balada (bagian yang memuakkan–terlihat sekali dramatisasi dan jualannya) jadi latar belakang gambar-gambar mayat bergelimpangan atau gambar-gambar anggota keluarga yang mencari-cari keluarganya atau menemukan mayat keluarganya. Setiap malam, saya jadi bermimpi buruk. Semua stasiun TV lokal menampilkan gambar yg sama mengerikannya. I hope someday they will learn… or think.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s