Menembang puisi dalam vokal

Kalau lagu seriosa berpuisi, maka jadinya tidak mudah mencerna, terutama bagi orang-orang yang terbiasa di lapangan, seperti saya. Maka ketika menyaksikan Christine Tambunan, Pharel Silaban dan Tanti Sinaga ikut menembang puisi dalam vokal, saya jadi seperti masuk ke suatu dimensi kehidupan sastra lagu yang puitik. Saya tidak bisa menuliskannya secara tepat, tapi mungkin kira-kira seperti itulah. Sejujurnya saya mencoba masuk dimensi itu karena didorong keingin tauan, bukan karena pemahaman yang ada.

Ketiga vokalis Christine, Pharel dan Tanti mengikuti festival Tembang Puitik Ananda Sukarlan 2011 di Surabaya. Ketiganya berdomisili di Jakarta, karena festivalnya berlangsung di Surabaya, mereka sepakat nginap di rumah saya selama festival. Festival ini bukan sekedar nyanyi seriosa, apalagi seperti Indonesian Idol dan sejenisnya. Jauh, sangat jauh dari festival seperti American Idol sekalipun. Festival tembang puitik ini adalah seperti opera, bercerita puisi dalam lagu sastra dengan vokal yang mirip-mirip Luciano Pavaroti.

Christine dan Tanti, masuk dalam satu katagori: senior female, sementara Pharel Silaban masuk katagori profesional, yang secara administratif syaratnya harus sudah pernah juara vokal, atau punya latar belakang vokal akademis. Di babak semifinal yang dilangsungkan di Pusat Kebudayaan Perancis (CCCL) jalan Darmo Kali, ketiganya berhasil masuk final. Tapi, sebelum pengumuman hasil semifinal, mereka sempat “mejeng” seperti foto dibawah ini.

Dari kiri, Dennis Silaban, Tanti Sinaga, Maya Situmeang, Christine Tambunan dan Pharel Silaban (saya ngumpet ambil foto).

Meski ketiganya masuk final, sesampai di rumah malam harinya, ketiganya mengaku perutnya “bergejolak”, dan harus membuang hajat beberapa kali. Saya pikir karena makanan di rumah yang jadi penyebabnya.

“Aku sudah diare sejak dua hari yang lalu kok Pung“,

kata Pharel, dia manggil Oppung ke saya. Syukurlah pikir saya dalam hati. Ternyata ketiga vokalis itu tegang dalam menghadapi festival Ananda Sukarlan, dan sampai perut “murus” alias diare. Rupanya festival ini berhasil memacu adrenalin mereka sampai tegang dan bahkan sampai perut bergolak hebat. Tapi ketiganya masuk final, dan wajah ketiganya cukup ceria, walau tidak bisa menghapus ketegangan.

Pharel mengabarkan ke papa dan mamanya di Medan, kalau dia masuk final. Untuk memberi semangat, kedua orang tua Pharel langsung memutuskan akan menonton babak final di Surabaya. Mereka terbang dari Medan ke Surabaya Minggu pagi dan sampai Surabaya siang beberapa jam sebelum Pharel tampil di final.

Babak final hari Minggu 10 April di UK Petra mulai dari siang. Tanti dan Christine yang tampil lebih dulu dalam kategori Senior Female. Selesai tampil, Christine langsung nyerocos kalau dia grogi. Keringat mengucur deras dari wajahnya. Tanti yang tampil lebih dulu sepertinya lebih tenang. Kategori profesional dimana Pharel akan tampil,  dijadwalkan paling akhir. Karena itu mereka sempat mejeng lagi di UK Petra.

Dari kiri ke kanan Papanya Pharel, Mamanya Pharel, Tanti, Stefani (pianis), Christine dan Maya.

Waktu giliran final Senior Male, mendadak hujan deras, dan suara gemuruh memasuki ruangan Auditorium UK Petra. Kontan festival dihentikan, karena penilaian terganggu suara bising yang sangat keras. Juri Ananda Sukarlan sendiri yang meminta festival di break. Rupanya masih sangat sulit mencari gedung di kota Surabaya yang representatif untuk pementasan vokal, tanpa terganggu oleh suara bising hujan. Setelah lebih dari setengah jam, hujan mulai berkurang dan pentas dibuka lagi.

Sampai selesai kelompok profesional, hujan tidak mengganngu lagi. Juri break untuk kompilasi penilaian. Dan akhirnya ketiga juri, Ananda Sukarlan, Aning Katamsi, dan Agastya Rama Listya (thanks Evelyn Merrelita!) mengumumkan hasilnya. Ketiga vokalis yang nginap di rumah saya Tanti Sinaga sebagai juara-1 kelompok Senior Female1, Christine Tambunan juara-2 kelompok Senior Female1 dan Pharel Silaban juara-3 kelompok Profesional.

Christine dan kawan-kawan menerima hadiah dari Aning Katamsi

Pharel dan juara lainnya dengan Ananda Sukarlan di sebelah kiri

Ki-ka: Christine, Ananda, Tanti, dan Stella

Juri Aning Katamsi diapit Pharel dan Christine

We are happy family folks!

Anakku Dennis dan mamanya sedang bisik-bisik didekat panggung

Pharel dan gurunya Aning Katamsi

Mantan pacarku dengan keponakannya Christine Tambunan

Akhirnya foto saya muncul juga dengan istri, bersama ortunya Pharel.

Tim dari rumah saya berhasil jadi Juara-1, Juara-2 dan Juara-3 di kategori masing-masing. Worthed jugalah, sampai saya harus melewatkan nonton F-1 dari Sepang, Malaysia. Favorit saya si Lewis masih belum sestabil Sebastian Vettel yang sangat cool.

Selamat guys, back to your place in happiness.

5 thoughts on “Menembang puisi dalam vokal

  1. kalo boleh saya bantu, nama juri yang dari Salatiga itu Agastya Rama Listya, terus miss X itu Stella

    Like

    • @Evelyn Merrelita: trims koreksinya, kmrn sy blum sempat tanya Christine, nama miss X, (sudah dikasi tau sih Sabtunya, tapi lupa waktu posting), juga blum sempat lihat leaflet, jadi blum lihat nama lengkap juri. Yang penting published dulu postnya. Terimakasih.

      Like

    • @Eka: Juara vokal itu bukan anak saya, Christine itu keponakan (anak pariban), Tanti itu temannya Christine, adapun Pharel “cucu sepupu” (dia mar-Oppung ke saya).

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s