Taksi bandara SHIA tidak efisien dan merugikan masyarakat

Bandara Soekarno Hatta (Soekarno Hatta International Airport, SHIA) Cengkareng adalah etalase (showcase) Indonesia bagi dunia luar. Apa yang tampil dan terjadi di SHIA sekaligus menjadi cerminan dan citra Indonesia. Kalau pelayanan di SHIA bagus dan efisien, maka baguslah Indonesia, tapi kalau suasana dan pelayanan SHIA amburadul, maka keamburadulan itu akan selalu diingat orang. Kalau mau jujur, masih banyak pelayanan SHIA yang harus dibenahi secara sistematis, supaya bisa memberikan pelayanan yang baik bagi customernya. Banyak kelemahan sistematis di SHIA, salah satunya adalah pelayanan taksi bandara.

Saya kadang menggunakan taksi dari SHIA ke pusat kota Jakarta. Kalau ingat kemacetan Jakarta, saya pilih naik Damri, karena naik taksi tidak lebih cepat dari naik Damri. Pagi itu saya putuskan naik taksi dari SHIA ke kawasan Kebon Sirih Jakarta Pusat. Begitu keluar dari pintu kedatangan, sejumlah orang sudah mendekati dan menawarkan taksi (liar) yang berupa mobil sedan atau yang berupa kendaraan niaga. Ada juga yang menawarkan ojek. Di pinggir jalan, ada beberapa orang yang memakai seragam petugas perusahaan taksi yang juga menawarkan taksinya. Kalau kita jalan agak lebih jauh, beberapa taksi tanpa stiker juga berjalan perlahan menawarkan pelayanan. Dibagian dalam terminal kedatangan ada loket yang menawarkan taksi “kelas premium” dengan kendaraan dari jenis yang lebih mahal. Jadi dibagian luar pintu kedatangan, setidaknya ada beberapa pilihan transportasi, ada yang “resmi” (artinya disetujui pengelola bandara) dan ada yang “liar”.

Saya menuju taksi-taksi yang sudah berjejer dipinggir jalan, dan kemudian memasuki salah satu taksi yang tersedia disitu. Petugas berseragam kemudian memberi kartu setelah saya duduk didalam taksi, dan menanyakan tujuan saya. Setelah saya menyebutkan tujuan, taksipun bergerak meninggalkan terminal kedatangan.

Sudah berapa lama ngetem pak?”, tanya saya kepada pengemudi.

“Hampir dua jam pak”, lumayan lama juga. Pas rame kadang cuma setengah jam sudah dapat penumpang, tapi kalau lagi sepi, bisa tiga jam ngetem. Gimana rejeki lah pak”.

Saya kemudian berbincang bincang dengan pak supir taksi tentang hal-hal pertaksian di Bandara SHIA. Dari nonang, (obrolan) dengan Pak Warno, supir taksi itu, saya menjadi tau beberapa hal. Untuk tahun 2011, setiap taksi yang berstiker “Taksi Bandara Soekarno Hatta” harus membayar biaya sekitar Rp. 2000.000 pertahun. Biaya itu biasanya ditanggung oleh perusahaan pengelola taksi. Tetapi “setoran harian” taksi berstiker lebih tinggi dari “setoran harian” taksi tanpa stiker. Menurut Pak Warno, ia harus menyetor sekitar Rp. 360.000 per hari, biaya itu sudah termasuk ongkos cuci mobil di pool dan untuk dapat sebotol air mineral.

Meski sudah ada stiker bandara, setiap masuk ke area parkir di bandara, taksi masih harus bayar Rp. 5.000 sekali masuk untuk ngetem (menunggu penumpang). Taksi tanpa stiker tidak dapat ngetem di bandara, dan bila taksi itu berhasil mendapatkan penumpang dari bandara, bisa “ditilang” oleh petugas ketika keluar dari kawasan bandara. Di bandara ada rambu yang bertuliskan “Taksi tanpa stiker dilarang mengambil penumpang“. Jadi taksi tanpa stiker hanya boleh menurunkan penumpang, sesudah itu harus segera meninggalkan kawasan bandara.

Sistem yang diterapkan oleh pengelola bandara dalam pengaturan taksi tidak adil, tidak efisien dan merugikan pengemudi taksi dan merugikan penumpang taksi. Seharusnya biaya yang sudah dikeluarkan perusahaan taksi sebesar Rp. 2 juta pertahun adalah untuk biaya pemakaian jasa bandara berupa parkir. Tapi mengapa setiap masuk parkir, pengemudi masih harus membayar Rp. 5.ooo. Ada kemungkinan ini adalah ulah dan permainan oknum. Karena itu pengelola bandara, apakah dari PT Angkasa Pura atau dari Ditjen Perhubungan Udara harus menindak oknum-oknum yang bermain di sistem parkir bandara.

Penumpang yang menggunakan taksi resmi bandara, masih harus mengeluarkan biaya tambahan berupa “surcharge” yang berkisar sekitar Rp. 10.000 (tergantung tujuan)  selain harga yang tertera di argo meter. Biaya ini seharusnya tidak perlu, kalau saja pengaturan pertaksian di bandara SHIA dikelola dengan baik. Karena perusahaan taksi sudah membayar Rp. 2 juta setahun, lalu setiap pengemudi taksi membayar Rp. 5.000 sekali masuk bandara. Biaya  “surcharge” ini merugikan penumpang taksi.  Saya tidak tau apa dasar hukum adanya biaya “surcharge”. Sepertinya biaya itu “resmi“, tapi perlu dipertanyakan dasar hukum dan bagaimana cara penentuannya.

Karena taksi tanpa stiker tidak boleh mengambil penumpang dari bandara, ini menjadi tidak adil bagi sesama pemngemudi dan perusahaan taksi. Selain itu, akan terjadi pemborosan, karena taksi tanpa stiker harus keluar dari bandara tanpa penumpang. Kalau taksi itu menuju ke arah Pluit, taksi akan kosong setidaknya sejauh lebih kurang 25 km. Kendaraan taksi membuang bahan bakar sejauh 25 kilometer adalah pemborosan dan hanya menambah emisi gas rumah kaca tanpa manfaat apapun.

Pengelola bandara dan pihak Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan, seharusnya menerapkan asa keadilan dan efisiensi di Bandara, sehingga setiap taksi boleh menaikkan penumpang di bandara. Malahan taksi tak perlu ditarik biaya parkir. Pengelola hanya perlu mengatur, agar antrian taksi teratur dalam melayani penumpang. Walaubagaimanapun, PT Angkasa Pura berkewajiban memberikan pelayanan bagi masyarakat pengguna bandara termasuk yang akan menggunakan taksi.

Hal-hal diataslah yang menyebabkan SHIA sebagai etalase Indonesia memberikan citra buruk bangsa Indonesia. Tidak adil, boros dan salah urus. Semoga PT Angkas Pura dan Ditjen Perhubungan Udara bisa memperbaiki sistim yang berlaku di SHIA, sehingga bukan cuma untuk citra Indonesia, tapi terlebih-lebih memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat.

2 thoughts on “Taksi bandara SHIA tidak efisien dan merugikan masyarakat

  1. Ini sudah berjalan puluhan tahun lamanya.

    Mungkin hanya presidenlah yg bisa membasmi mmereka(oknum-red).

    Karena aturan main disana tdk bisa di gugat katanya….!!! Coz port autorithy.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s