Pelajaran dari Jepang (2)

Gempa dan tsunami Jepang awal Maret lalu masih disusul dengan gempa-gempa yang cukup besar. Selain itu, kekuatiran tentang kebocoran radiasi dari pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) juga mengancam warga Jepang saat ini. Berbagai persoalan yang timbul disekitar gempa dan dampaknya menjadi tantangan warga Jepang. Tantangan itu akan sekaligus menguji, apakah masyarakat Jepang dapat mengatasi persoalan dengan elegan. Walau bagaimanapun, dengan kejadian gempa tahun 2011 ini, sesungguhnya ada banyak hal yang bisa dipelajari dari Jepang.

Gempa dan tsunami yang dahsyat membawa korban yang sangat besar. Kerugian materil dan non materil sangat besar. Hari pertama gempa yang berpusat di sekitar Sendai melumpuhkan jaringan infrastruktur. Listrik padam, sehingga kereta api tak dapat beroperasi. Saya menuliskan keprihatinan saya di status wall facebook, sekaligus bertanya tentang kondisi kawan-kawan Jepang. Teman saya Noriko Kono dari Tokyo merespon status wall saya, lewat wall facebook nya Noriko mengatakan kalau dia baik-baik saja, tapi harus menginap di kantor malam itu tanpa aliran listrik, sehingga kedinginan sepanjang malam. Ia tidak dapat pulang ke rumah karena angkutan keretaapi tak berfungsi.

Teman lain Maeda dari Kitakyushu mengabarkan kalau Kitakyushu tidak mengalami tsunami. Begitu juga Naomi Hori dari Fukuoka menulis di wall facebooknya, kalau ia baik-baik saja di Fukuoka. Naomi bilang, ia merasakan guncangan gempa di Fukuoka, tapi tidak ada tsunami di perairan Fukuoka. Aliran listrik di Fukuoka (Jepang bagian Selatan) juga tidak terganggu.

Kondisi yang paling parang memang berada di sekitar Sendai di Jepang bagian Utara. Di daerah ini, banyak orang yang kedinginan (bulan Maret masih dipengaruhi musim dingin), karena aliran listrik tidak ada. Toko-toko tidak buka sehingga orang kehabisan makanan. Hari-hari pertama itu, banyak orang yang kesulitan dan kedinginan, kehilangan rumah yang hancur dan persediaan makanan menipis. Hari pertama dan kedua gempa-tsunami, bantuan untuk korban belum sampai di lokasi bencana. Pendek kata kesengsaraan menimpa orang Jepang terutama yang berada di kawasan Sendai.

Sejumlah gambar dan berita menunjukkan orang-orang yang antri didepan toko menunggu buka untuk sekedar membeli makanan. Para korban bencana dengan tertib berbaris menunggu toko buka. Menurut berita di sejumlah media, para korban itu dengan sabar menunggu giliran untuk mendapatkan bantuan, dan untuk membeli makanan.

Kesabaran dan ketertiban para korban bencana tsunami Jepang patut diacungi jempol. Dari berbagai informasi di TV maupun koran, tidak pernah dikabarkan ada warga Jepang yang berebutan mendapatkan bantuan. Mereka bisa bersabar menghadapi bencana yang sangat sulit.

Ketika terjadi bencana di Haiti, kita bisa menyaksikan dan membaca, betapa penjarahan terjadi di banyak tempat. Sebagian orang-orang Haiti yang juga korban gempa ada yang merampok toko dan pusat-pusat perbelanjaan. Pada kejadian bencana gempa dan tsunami di Aceh, kita masih mendengar dan melihat, sebagian korban bencana yang berebut untuk mendapatkan bantuan. Meski sebenarnya semua korban mendapatkan bantuan (terutama makanan), tapi masih saja ada yang berebut untuk mendapatkan lebih banyak dari orang lain.

Kesabaran dan ketertiban orang Jepang sudah sering menjadi perbincangan banyak orang. Saya sering menyaksikan ketertiban orang Jepang dalam berbagai hal. Orang Jepang adalah pekerja keras, displin, teliti dan sangat menghargai orang lain terutama orang yang lebih tua dan sangat menghargai tamu. Kalau bekerja, orang Jepang memberi yang terbaik, tidak mau asal-asalan, etos kerjanya sangat tinggi. Mungkin modal orang Jepang yang tertinggi adalah semangat dan kedisplinan yang tinggi itu. Budaya Jepang yang tinggi merupakan perbincangan yang tidak pernah selesai dibahas di dunia internasional.

Suatu ketika, saya pernah bertanya kepada Kato-san, orang muda yang bekerja di OECC di Tokyo. Saya menanyakan bagaimana orang Jepang kalau bekerja selalu memberikan yang terbaik, padahal kalau dilihat dengan orang muda di jalanan (di pusat-pusat perbelanjaan), sebagian besar adalah orang yang suka hura-hura. Dari sejumlah orang Jepang yang saya temui dalam urusan pekerjaan, saya tidak pernah menemukan orang yang malas dan hura-hura.

Ketika hal itu saya tanya kepada Kato-san, ia sejenak agak bingung mendengar pertanyaan saya. Menurutnya, orang Jepang memang sudah terbiasa bekerja disiplin dan teliti. Jadi dia merasa hal itu sebagai yang wajar-wajar saja. Kato-san merasa tidak ada yang istimewa dengan budaya kerja seperti itu. Jadi sebagai warga Jepang, Kato-san tidak merasa ada beban untuk berdisplin dan berkerja dengan kualitas terbaik. Ia malah merasa agak heran, ketika saya bertanya seperti itu.

Dalam kondisi sehari-hari, warga Jepang mempunyai kebiasaan yang terpuji. Ketika bencana terjadi, mereka bisa menahan diri untuk tidak terpuruk berbuat hal-hal yang tidak wajar. Disiplin dan kerja keras merupakan bagian kehidupan sehari-hari orang Jepang. Hal-hal inilah yang harus dipelajari banyak orang. Bagaimana Jepang bisa maju dibidang ekonomi, saya kira ada hubungannya dengan kebiasaan sehari-hari orang Jepang. Pelajaran berharga terutama bisa diperoleh ketika menghadapi kondisi sulit pada saat  terjadi bencana.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s