Sehari bersama dua bule

Kalau OppuJumollang dari kaki Dolok Margu dan OppuJatikkos dari kaki Dolok Pinapan bertemu di lapo NaiHumicca, maka nonang (obrolan) kedua orang berteman itu tidak akan selesai dari pagi sampai sore. Sambil terus menyeruput tuak, mereka bisa mengobrol dari soal harga cabe sampai kecurangan Pemilukada, dari hama ulat bulu sampai sakit pinggang. Nonang  di lapo (warung) NaiHumicca, atau obrolan ngalor ngidul di warung MbokNah tak ada bedanya dengan obrolan dua kawan dimanapun. Itu juga yang saya lihat ketika dua bule Mr. Paul  dan Mr. Gregory sedang chatting (ngobrol ngalor ngidul alias marnonang) di cafe. Paul dan Gregory ngobrol kesana kemari, dan sering OOT (out of topic).

Pagi itu saya sedang ngopi dengan Mr. Paul. Pembicaraan kami berkisar di sekitar masalah-masalah tugas yang sedang kami hadapi. Kami chatting masalah birokrasi yang masih jauh dari harapan, dan kira-kira apa yang dapat diperbuat untuk meningkatkan kualitas birokrasi di negeri ini. Tak lama kemudian Mr. Gregory bergabung di meja saya, setelah dia selesai menemui rekan bisnisnya.

Mr. Paul dan Mr. Gregory adalah dua sahabat dekat sejak lama. Bergabungnya Mr. Gregory di meja kami, menambah hangat pembicaraan, karena dia juga ternyata tertarik dengan topik yang sedang kami bahas. Lama-kelamaan kedua bule itu semakin intens berdiskusi dari topik yang sedang kami bahas, dan kadang bergeser ke topik lain. Kedua bule sahabat dekat itu, bahkan kadang terlihat seperti saling marah, walau sesungguhnya mereka sedang diskusi.

Saya membiarkan keduanya berbicara sesuka hati. Sesekali Mr. Gregory bahkan merasa perlu bicara ke saya:

“Sorry pak, this is something not related to you”.

“No problem, go ahead“, kata saya.

Bule-bule itu sama saja dengan OppuJatikkos dan OppuJumollang kalau sedang marnonang. Saya jadi senyum-senyum sendiri melihat keduanya. Ternyata manusia dimana saja mempunyai kemiripan. Orang Bule, orang Batak, orang Jawa, atau orang apapun, berdiskusi selalu hangat. Mr. Paul bilang:

“Sometimes I insult him, and he insults me too. But do not hurt each other. Only best friends do it.”

Malamnya kami sepakat untuk dinner bersama. Karena Mr.Paul harus menelpon istrinya terlebih dahhulu, saya dan Mr. Gregory duluan memesan makanan. Sebagaimana lazimnya orang bule, Gregory memesan appertizer terlebih dulu. Sementara saya langsung melihat daftar main course. Sambil mengacungkan tiga jarinya, Gregory bilang kepada pelayan:

“I want this three“, katanya sambil menunjuk sebuah nama di daftar appertizer.

“Excuse me sir, this appertizer is served in three taste“, sipelayan mencoba menjelaskan.

“Yes, I need three”,

katanya sambil menunjuk dirinya, lalu menunjuk saya dan menunjuk kursi Paul yang masih kosong. Maksudnya, appertizer itu untuk 3 orang. Tapi si pelayan tetap saja menjelaskan bahwa appertizer itu terdiri dari 3 roti kecil dengan 3 rasa yang berbeda. Rupanya sudah ada salah komunikasi antara keduanya. Saya kemudian mencoba menengahi.

Mas, dia sudah tau, kalau appertizer itu ada 3 rasa, tapi dia mau pesan 3 porsi. Tapi saya tidak mau appertizer itu, buat saja dua porsi untuk bule-bule ini“. kata saya.

Si pelayanpun mengundurkan diri dari meja kami. Tak lama kemudian pesanan Gregory muncul, tapi jadinya hanya satu porsi, bukan dua seperti yang dipesan. Gregory mencoba menjelaskan kepada Paul, bahwa sebenarnya dia sudah pesan appertizer untuk Paul ketika dia sedang menelpon istrinya, tapi hanya satu pesanan yang datang.

Pelayan rupanya melihat kalau ada masalah dengan orderan kami, lalu dia mendekat dan berkata:

“Excuse me sir, is there anything wrong?.

“Ooh, tidha adha yang sala, cuma you tidha mengerti apa yang dimaui Greg”, kata Paul dalam bahasa Indonesia dengan logat bule.

Gregory kelihatan sudah tidak bersemangat, dia cicipi juga appertizer dan akhirnya memilih pizza sebagai main course. Paul dan Gregory meghabiskan pizzanya, sementara saya memilih masakan Jepang. Gregory yang kurang bersemangat makan malam jadi tidak banyak bicara, berbeda ketika kami ngopi di pagi harinya.  Sehabis makan malam, saya pamit untuk pulang. Boleh jadi keduanya masih melanjutkan chatting, nonang mereka setelah makan malam itu, mungkin juga lanjut sampai larut.

***

Nonang = obrolan

Marnonang  = ngobrol

Lapo = warung

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s