Suatu saat ketika di demo sejumlah wartawan.

Pekan ini, komunitas wartawan Surabaya diramaikan dengan “dugaan” pemukulan oknum Polri terhadap wartawan ketika mereka meliput kegiatan Falun Gong di Surabaya Sabtu 7 Mei lalu. Para wartawan melakukan demo ke polisi menuntut Polri untuk menindak pelaku pemukulan tersebut. Nah, soal demo wartawan itu, saya jadi teringat pada pengalaman ketika saya di demo oleh sejumlah  wartawan.

Kejadiannya beberapa tahun lalu, ketika itu salah satu tugas saya adalah menyiapkan Peraturan Daerah (Perda) tentang Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kota Surabaya. Sesuai ketentuan Undang-Undang, RTRW Kota penetapannya harus berupa Perda yang prosesnya melalui DPRD. Setelah rancangan Perda diserahkan, DPRD kemudian membentuk Panitia Khusus (Pansus) untuk membahas materi rancangan itu sebelum dapat ditetapkan melalui sidang paripurna.

Pembahasan dengan Pansus RTRW Surabaya pada saat itu cukup panjang, mengingat RTRW adalah sebuah produk strategis. Setelah pembahasan beberapa kali di ruang rapat DPRD dan studi banding ke Jakarta dan ke Batam, Pansus meminta supaya pembahasan akhir dilakukan secara intensif. Untuk itu diusulkan pembahasan secara maraton 3 hari di tempat khusus sehingga para anggota Pansus bisa konsentrasi menyelesaikan pembahasan. Pansus mengusulkan agar pembahasan itu dilakukan di salah satu hotel di Surabaya. Tetapi para anggota Pansus mewanti-wanti agar rencana pembahasan intensif di hotel itu jangan sampai diekspose media. Jangan sampai ada wartawan yang mengetahui acara di hotel itu. Karena kalau terkepos ke media, nantinya akan ramai diperbincangkan masyarakat, dan Pansus tidak menginginkan hal itu.

Kemudian saya menyampaikan permintaan Pansus tersebut kepada atasan saya, dan secara prinsip atasan saya setuju dengan usulan Pansus, lagi pula dalam anggaran penyiapan rancangan Perda itu, sudah tersedia biaya untuk workshop bersama Pansus. Karena itu saya kordinasikan kepada kolega saya persiapan untuk melaksanakan workshop pembahasan Pansus di hotel berbintang (Pansus minta di hotel bintang lima), termasuk agar rencana itu jangan sampai bocor kepada wartawan.

Alhasil disepakatilah pembahasan dimulai pada hari Jumat dan berakhir Minggu di salah satu hotel bintang lima di Surabaya. Semua persiapan sudah beres dan pemberitahuan kepada anggota Pansus, termasuk surat penugasan dan surat undangan (untuk keperluan administrasi). Anngota Pansus mengatakan kepada saya supaya pembahasan itu dikondisikan sedemikian rupa jangan sampai bocor ke wartawan supaya tidak rame. Dan disepakati acara workshop dimulai Jumat setelah jadwal sholat Jumat.

Jumat menjelang siang, ketika semua persiapan sudah mulai, dan saya sudah berada diruangan rapat menunggu kedatangan para anggota Pansus, saya dilapori oleh salah satu staf saya bahwa ada seorang wartawan yang datang mengambil gambar “signage” (lembar petunjuk ruangan), daftar hadir, dan suasana di function room hotel itu. Saya kaget juga, bagaimana wartawan jadi tau keberadaan acara itu. Lalu saya menemui si wartawan  (sebut saja namanya JaMellep) yang berasal dari salah satu stasiun TV lokal Surabaya. Saya sebenarnya sudah kenal dengan JaMellep, dan dia juga mengenal saya. Lalu saya jelaskan bahwa kami mengadakan workshop terbatas, yang pesertanya hanya mereka yang diundang.

“Mohon maaf mas, karena wartawan bukan peserta yang diundang, jadi saya tidak bisa mengijinkan untuk ikut masuk ruangan, dan kalau boleh untuk tidak diliput“.

Dengan alasan tugas jurnalistiknya, JaMellep bersikeras akan meliput dan mengikuti workshop. JaMellep dan saya sempat berdebat beberapa saat. Yang tidak saya sadari, ketika kami adu argumentasi, JaMellep tetap menghidupkan handycam, sehingga adu argumentasi kami itu terekam oleh kamera.  Perdebatan kami agak lama juga, tapi akhirnya saya tetap pada permintaan saya dan saya tidak memperbolehkan JaMellep masuk ruang rapat. Lalu saya masuk ruang rapat dan meninggalkan si JaMellep di koridor function room.

Tanpa sepengetahuan saya, rupanya perdebatan kami di koridor hotel itu dilihat dan diperhatikan  oleh petugas hotel, kemudian melaporkannya ke petugas security. Setelah saya masuk ke ruang rapat, ternyata petugas security hotel meminta kepada JaMellep untuk meninggalkan tempat itu. Permintaan petugas security itulah yang kemudian dianggap oleh JaMellep bahwa dia “diusir” dari tugas peliputannya, dan dia merasa tugas kewartawanannya dilecehkan. Saya tidak tau, kalau security menyuruh JaMellep pergi, saya pikir karena sudah saya tinggalkan di koridor dia akan pergi dengan sendirinya.

Dengan cepat JaMellep menghubungi teman-teman seprofesinya dan menyebarkan berita bahwa saya “mengusir” wartawan dari tugas peliputan jurnalistik. Saya tidak tau siapa saja yang diberitahu oleh JaMellep, tapi sepanjang Jumat sore itu saya terus menerus ditelpon oleh para anggota Pansus RTRW DPRD dan atasan saya, bahwa pelaksanaan workshop sudah rame dengan wartawan. Ada yang memberitahu kepada saya bahwa organisasi wartawan Surabaya akan menyampaikan protes resmi kepada Walikota terkait dengan “pengusiran” itu. Karena berita yang cepat menyebar itu, para anggota Pansus yang sedianya memulai rapat siang itu, tidak ada yang muncul. Rapat menjadi batal.

Saya jadi sangat repot, lalu saya melaporkan ke atasan saya tentang kronologis kejadian perdebatan JaMellep dengan saya. Saya juga klarifikasi dengan kepala security hotel, tentang tuduhan “pengusiran” itu, karena ada yang memberitahukan kepada saya, bahwa seolah-olah sayalah yang meminta security untuk mengusir JaMellep. Padahal saya tidak pernah menghubungi petugas security hotel. Saya bertemu dengan petugas security yang meminta JaMellep meninggalkan tempat, dan dia mengakui, bahwa saya tak pernah meminta dia menyuruh JaMellep untuk pergi.

“Sudah menjadi tugas dan kewajiban saya pak, kalau ada hal-hal yang mengarah keamanan, tanpa diminta  saya harus mengamankan hotel ini. Itu prosedur tetap tugas saya”, si security menjelaskan. 

Ternyata di komunitas wartawan Surabaya, kejadian Jumat siang itu tersebar sebagai Pengusiran Wartawan oleh Oknum di hotel bintang lima. Sore hari itu berita itu sudah disiarkan di radio dan juga berita sore TV lokal Surabaya. Saya jadi sangat sibuk menjawab pertanyaan banyak pihak termasuk klarifikasi dari wartawan teman-teman JaMellep.

Salah satu wartawan stasiun radio di Surabaya mendesak ingin klarifikasi dan mewawancarai saya, saya menyanggupi bersedia diwawancarai, tapi uuntuk menghindari salah faham seperti kejadian Jumat siang itu, saya mengajukan syarat supaya wawancara radio disiarkan secara langsung (live). Setelah dikomunikasikan dengan manajemen stasiun radio, itu akhirnya disepakati wawancara radio yang disiarkan langsung (live). Malam itu melalui stasiun radio saya jelaskan kronologis kejadian Jumat siang di hotel bintang lima itu.

Beberapa saat setelah selesai wawancara radio, saya pulang ke rumah dengan perasaan yang sangat lelah menghadapi para wartawan sepanjang siang sampai malam. Sesampai dirumah saya menyiapkan laporan tertulis yang akan saya sampaikan kepada atasan saya. Saya harus buat laporan tertulis supaya kejadian di hotel itu bisa difahami oleh atasan saya secara lengkap. Laporan itu selesai dengan kondisi tubuh saya yang benar-benar terkuras. Tidur saya tidak nyenyak malam itu. 

Sabtu pagi saya bangun dengan kondisi badan yang masih terasa capek. Tapi pagi itu juga saya diminta harus segera bergegas ke kantor karena ditunggu oleh teman-teman terkait kegiatan workshop di hotel. Sesampainya di kantor, saya diberitahu harus segera ke hotel karena ditunggu oleh Kepala Bagian Humas dan pihak kepolisian.  Tetapi sebelum ke hotel, saya menemui Bapak Sekretaris Daerah (Sekda) untuk menjelaskan kronologis kejadian sekaligus menyampaikan laporan tertulis tentang hal itu. Bapak Sekda bisa memahami keadaan saya dan meminta untuk segera kordinasi dengan Kepala Bagian Humas agar persoalan itu bisa segera diatasi. Saya merasa lega, karena Pak Sekda bisa memahami saya, dengan arahan pak Sekda, saya jadi lebih tenang untuk menyelesaikan persoalan.

Setelah melapor ke Sekda, saya menuju ke hotel. Tapi saya diberitahu bahwa sejumlah wartawan sudah berkumpul di halaman hotel untuk berdemo. Karena itu saya diminta masuk ke hotel melalui jalur masuk karyawan hotel di bagian dapur. Akhirnya saya dapat menyelinap masuk ke ruang rapat di hotel itu tanpa sepengetahuan para wartawan yang sudah menunggu di depan lobby hotel.

Setelah saya sampai di ruang rapat hotel, Kepala Bagian Humas Kota Surabaya pada waktu itu, Pak Juli, bersama seorang petugas kepolisian membicarakan penyelesaian demo wartawan yang semakin ramai. Rupanya kepolisian ikut menangani situasi supaya demo tidak berkembang menjadi hal-hal yang tidak baik. Kepada Pak Juli dan petugas kepolisian saya jelaskan kronologis kejadian dan laporan saya kepada Pak Sekda. Kemudian pak polisi mengatakan bahwa untuk menghentikan demo, para watawan menuntut agar saya meminta maaf di depan umum dan berjanji tidak mengulangi kejadian itu.

“Lho, salah saya apa, kenapa saya harus minta maaf, saya tidak pernah mengusir wartawan”, kata saya.

“Saya faham  kalau pak Togar tidak merasa bersalah, tapi kalau tidak ada permintaan maaf, demo wartawan ini bisa menjadi-jadi dan merembet ke hal-hal lain”,

Pak Juli berkata.  Pak polisi juga sependapat dengan pak Juli.

“Ya, ini mengalah demi kebaikan pak. Kalau sudah begini, nanti tambah rame. Saya dan anggota akan kawal bapak ke lobby menemui para wartawan itu, setelah bapak minta maaf, kami yang akan selesaikan dengan wartawan“. Petugas polisi itu menambahkan.

Saya merasa  terpojok. Saya tidak punya pilihan. Akhirnya saya setuju untuk menemui para wartawan di depan ruang loby untuk meminta maaf. Bersama Pak Juli dan petugas polisi, saya turun ke depan ruang lobby. Begitu saya sampai disekitar lobby, para wartawan yang sudah berkumpul jadi berteriak-teriak dan membentangkan poster.

“Pecat Togar, Pejabat Angkuh Pengusir Wartawan”, begitu teriakan mereka dan tulisan di poster yang mereka bawa.

Saya berjalan ke arah kumpulan para wartawan itu, saya coba memperhatikan mereka yang sambil berteriak mengacung-acungkan tangan. Menurut perkiraan saya, ada sekitar 20-25 orang yang berdemo sambil membawa kamera, handycam dan poster, mereka meneriakkan tuntutan mereka. Sebagian sambil membuat foto dan merekam dengan videocamera. Beberapa polisi berjaga-jaga dan menahan para wartawan agar tidak mendekat. Para tamu hotel menjadi terganggu untuk masuk ke lobby, karena para wartawan berjejer menutupi akses ke lobby hotel.

Saya merasa kaget,  hal yang sebenarnya sepele, salah faham antara JaMellep dengan saya, kok jadi demo wartawan yang berteriak-teriak, pikir saya. Dengan diapit oleh komandan satuan polisi dan Pak Juli, saya berdiri di depan pintu masuk hotel menghadapi para wartawan itu.

“Atas kejadian kemarin siang, saya minta maaf kepada para wartawan, dan semoga salah faham seperti itu tidak terulang lagi”.

Begitu selesai mengucapkan kalimat itu saya langsung ditarik meninggalkan pintu masuk hotel dan kembali ke ruang rapat hotel.  Selanjutnya Pak Juli, selaku Kabag Humas Pemda menjelaskan dan menghadapi para wartawan. Selang berapa lama kemudian Pak Juli kembali menemui saya dan menjelaskan bahwa ia  telah menyelesaikan masalah demo itu dengan dibantu oleh kepolisian, kemudian demo itu dibubarkan pada Sabtu siang itu.

Saya merasa lega dan mengucapkan terimakasih kepada Pak Juli dan pak Polisi. Tapi workshop dengan Pansus RTRW menjadi tidak terlaksana.

Pengalaman di demo sejumlah wartawan itu tidak bisa saya lupakan, dan sekaligus saya ambil hikmahnya. Menghadapi wartawan harus jeli dan jernih, karena mereka sering secara sengaja menyiapkan pertanyaan-pertanyaan yang memojokkan agar narasumber terpancing untuk memberikan jawaban yang diinginkan oleh si wartawan.

One thought on “Suatu saat ketika di demo sejumlah wartawan.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s