No, it is not my life

Hidup hampir selalu tak dapat diduga. Kadang kita mendapatkan apa yang kita mau dan kita butuhkan. Tapi sering kita harus menerima yang tak kita suka. Ketika hidup silih berganti, atau waktu kita tak menyadari adanya pergantian, sesungguhnya disanalah kehidupan sering menunjukkan jati dirinya.  Seberapa keras dan seberapa baikpun kita merencanakan kehidupan, kalau Tuhan belum berkenan mengijinkan, mungkin kita tak akan bisa melakukan apapun. Kita hanya bisa menjalani rencana yang sudah dipersiapkan-Nya di kehidupan kita. No, tidak berarti tidak. No adalah lelaki yang terus mencoba menapaki hidupnya. No tidak bisa berbuat banyak, ketika Tuhan memberi kehidupan yang turun-naik. Saya menjadi salah satu penontonnya.  

No, hanya dua huruf, begitulah orang sering memanggilnya. Nama panggilan yang sangat sederhana, sesederhana dirinya.
“Mosok namamu cuma dua huruf”, tanya saya suatu ketika.
“Ya, dari dulu orang memanggil saya begitu pak.”
“Kan mesti ada nama panjangmu.”
“Kalau nama panjang, Karno, pak”.
Sudah hampir sepuluh tahun saya mengengal No, saya sering bekerjasama dengan No. Ia sudah sering membantu saya. Sekitar sepuluh tahun lalu, ia membantu penyelesaian rumah saya. Penyelesaian rumah saya berlarut-larut, karena biaya yang seret, kadang hanya seorang tukang yang bekerja. Dalam kondisi yang belum selesai, kami sudah tinggal di rumah ini, karena kontrakan sudah habis dan kebanjiran.Saya dan istri nekat saja menempati rumah hanya dengan satu kamar yang bisa ditempati. Dapur belum ada, bahkan kamar mandipun belum selesai. Kami mandi di “ruang tengah”, kalau tukang sudah pada pulang.

No bekerja menyelesaikan rumah saya semampu yang bisa saya bayar. Dialah tukang yang banyak mengerjakan banyak hal di rumah, mulai menyelesaikan rumah kami, sampai melakukan beberapa perbaikannya beberapa tahun kemudian. Ketika rumah belum sepenuhnya selesai, saya terpaksa memberhentikan No, karena saya sudah tidak punya uang melanjutkan. Beberapa lama kemudian, ketika ada sedikit uang terkumpul, saya panggil No untuk melanjutkan pekerjaan. Dalam istilah anak muda sekarang, kerjasama saya dengan No termasuk “putus-nyambung“. Dalam beberapa tahun, ada saja yang dikerjakan No, termasuk memperbaiki kamar mandi yang buntu, atau menambal atap yang bocor. Untuk membenahi tempat jemuran di lantai atas, No jugalah yang saya minta  untuk mengerjakannya. Pendek kata setiap ada pekerjaan yang berkaitan dengan bangunan, No yang menjadi andalan saya. Ia menjadi seperti bagian dari keluarga.

Di masa-masa awal saya bekerja sama dengan No, kedua anaknya masih sangat kecil-kecil.Sepuluh tahun lalu, No dan istrinya merawat kedua anaknya dengan segala kemampuan mereka. Ketika No bekerja “putus-nyambung” dengan saya, seingat saya No, tak pernah menceritakan kalau istrinya sering sakit. Barulah ketika istrinya harus “dipulangkan” ke kampung No menceritakannya kepada saya. No terpaksa mengirim istrinya ke kampung supaya bisa dirawat oleh orang tuanya, karena No harus bekerja. Tuhan rupanya punya rencana sendiri, No, harus merelakan kepergian istrinya, meninggal dalam usia yang relatif muda.

Di usia kurang 30 tahun, No harus menduda dengan dua anak yang masih kecil. Ia harus membanting tulang bekerja, sekaligus membesarkan dan mendidik anaknya. Sekitar jam 4 pagi, No harus bangun untuk mencuci pakaian, sambil mencuci, ia memasak nasi buat makan siang anaknya. Sebelum berangkat kerja, ia harus memandikan kedua anaknya.

Ketika No pergi bekerja, kedua anak itu bermain bersama anak tetangga. No, minta bantuan tetangga untuk sekali-sekali memperhatikan kedua anak itu. Ayu yang sudah masuk sekolah, mau-tidak mau harus membantu ayahnya No, menjaga Bayu yang lebih kecil. No menjalani kehidupan dengan kedua anaknya mengandalkan kepasrahan pada keadaan. Kalau suatu pekerjaan telah selesai, dan pekerjaan berikutnya belum ada, No harus kesana-kemari mencari teman  yang mau memanfaatkan tenaganya untuk mengerjakan apa saja. Kalau sudah begitu, terasa sekali gunanya mempunyai teman yang bisa membantu. Teman menjadi saluran berkat bagi No dan keluarga kecilnya.

Selang beberapa lama, teman-teman No meperkenalkan No dengan Inah, seorang gadis yang hampir 10 tahun lebih muda dari No. Sebagai laki-laki muda, No juga sama dengan duda lainnya. No mulai berkencan dengan Inah. No beberapa kali membawa Inah ke rumah saya. Saya hanya berpesan, agar No benar-benar mantap dalam mengambil keputusan kalau mau menjadikan Inah istrinya.
“Kamu punya dua anak yang masih kecil, Inah masih muda. Kamu harus benar-benar yakin, bahwa Inah sudah cocok jadi istrimu”,

saya berkata ketika No datang ke rumah bersama kedua anaknya dan Inah. Saya tak bermaksud untuk mencampuri urusan No dengan Inah. Itu adalah hak hidupnya, it is not my life, it is his life.
“Kayaknya Inah sudah cocok dengan kedua anak saya pak”, No menjelaskan.

Sekitar sebulan kemudian, No datang ke rumah menceritakan rencana pernikahannya dengan Inah. Ia akan ke Jombang melamar ke rumah orang tua Inah.

“Uang saya kurang untuk pernikahan ini, kalau boleh saya pinjam, nanti saya kembalikan nyicil pak”, kata No. Ia berterimakasih atas bantuan yang kami berikan.

“Semoga semua lancar ya” kata saya.

Setelah pernikahan kedua itu, No, sesekali ke rumah saya. Inah kadang ikut menemani No  dengan kedua anaknya. Nampaknya Inah berusaha untuk bisa akrab dengan anak No dari pernikahan pertamanya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s