Jejaring kejujuran hati nurani

Tadinya pembicaraan saya dengan ibu aYu hanya ngalor-ngidul di seputar tugas dan pekerjaan. Kemudian kami ngobrol sampai ke hal-hal yang menjadi pembicaraan banyak orang. Oknum hakim tertangkap tangan menerima suap, sementara oknum penegak hukum yang lain menjadi pesakitan, lalu pejabat yang menyalahgunakan wewenang, sampai pada politisi yang bermain curang. Berita dan cerita seperti itu seolah menjadi kejadian sehari-hari. Ruang publik dijejali dengan informasi kecurangan, penyimpangan, penipuan, kebohongan, dan semuanya semakin mengkhawatirkan.

Bagaimana mungkin bangsa yang menyatakan diri sebagai bangsa berbudi luhur dan religius, tetapi berita sehari-hari di media adalah orang-orang yang terlibat kasus-kasus negatif. Pembicaraan saya dengan ibu aYu berkembang menjadi pembicaraan yang “agak serius“. Satu pertanyaan yang sangat mendasar muncul di obrolan kami. Bagaimana mengakhiri semua kekacauan ini sementara kebanyakan orang sudah skeptis akan adanya perubahan kearah positif. Bu aYu dan saya, ternyata sama-sama sefaham bahwa kalau keadaan seperti ini berlangsung terus, maka Indonesia bisa terjerumus kepada kekacauan yang berujung pada kehancuran  bangsa.

Apa yang harus dilakukan, bagaimana melakukan sesuatu dan siapa saja yang harus berbuat agar bangsa ini menjadi lebih baik. Pertanyaan ini sangat sulit untuk dijawab, tapi pencarian jawaban itu harus terus dilakukan. Sudah banyak yang dilakukan, ada KPK yang menjerat koruptor, ada banyak lembaga yang bertujuan mengawasi kemungkinan terjadinya penyimpangan, ada undang-undang yang memberi hukuman berat bagi penjahat. Para pemuka agama yang terus berkutbah dimana-mana, rumah ibadah dan pertemuan religi selalu dipenuhi orang. Sistem manajemen publik dibangun untuk memfasilitasi menuju kebaikan.

Tapi kenyataan menunjukkan, kebohongan, kepalsuan, dan penyimpangan diumbar di depan publik.  Penjahat kerah putih semakin bertambah, orang miskin semakin sengsara. Uang rakyat “dijarah” oleh banyak orang, pejabat korup, politisi busuk seolah berlomba-lomba menguras uang rakyat untuk kepentingan pribadi dan kepentingan golongan.

Dari obrolan yang semula hanya “killing time“, kami seperti menemukan suatu benang merah dari banyak persoalan itu. Teman saya, ibu aYu, yakin bahwa untuk menuju kebaikan bangsa dan sekaligus melawan kejahatan dan penyimpangan, maka perlu ada gerakan kejujuran dari hati nurani. Gerakan ini melakukan berbagai kegiatan untuk melawan kejahatan, membasmi korupsi, menghilangkan kesewenang-wenangan, menghapus kemunafikan. Gerakan ini harus terus digalakkan, meski akan menghadapi tantangan. Kejujuran hati nurani adalah jalan untuk mengembalikan bangsa ini menjadi bangsa berbudi luhur.

Kejujuran hati nurani ada pada setiap orang. Pembunuh sekalipun tetap memiliki hati nurani, koruptor kelas kakap juga punya hati nurani. Sayangnya suara hati nurani mereka dibungkam oleh nafsu serakah yang berlebihan, sehingga mereka terjerembab kekejaman dan  menjadi iblis yang gentanyangan. Kepentingan sesaat mematikan suara kemurnian hati nurani yang terus berseru akan kebaikan dan budi luhur.

Selama beberapa tahun ini saya mendalami Tauhid. Dari pendalaman itu saya meyakini bahwa hati nurani adalah universal dan bisa membawa orang menuju kecerahan rohani, dan itu akan membawa kebaikan bagi banyak orang “, bu aYu menyambung pembicaraan kami.

Saya tak mengerti terminologi Tauhid, tapi saya yakin apa yang dikatakan bu aYu adalah benar adanya. Solusi dari semua persoalan besar bangsa ini, harus dimulai dengan gerakan kejujuran hati nurani. Suara hati nurani harus dikumandangkan. Harus ada gerakan massif kejujuran hati nurani.

Gerakan individu hati nurani akan dapat bertambah besar seperti bola salju yang meluncur dari puncak gunung.  Semakin lama gerakan hati nurani digerakkan semakin besar. Teknologi informasi ikut membantu, Twitter, Facebook, Blog bisa digunakan. Gerakan kejujuran hati nurani menuju kita semua. Sekaranglah saatnya hati nurani kita ikut mengumandangkan kebenaran. Kalau tidak sekarang kapan lagi??

2 thoughts on “Jejaring kejujuran hati nurani

  1. dulu waktu saya SMA, guru saya selalu menghimbau KEJUJURAN..
    berkali-kali beliau memberikan pesan manfaat kejujuran, beliau selalu mengatakan, apapun kamu jadi orang, YANG PENTING KEJUJURAN. Katakan yang sebenarnya jangan ditutupi, banyak orang cerdas tapi tidak jujur, Tapi orang yang jujur malah tertindas seperti Ibu Siami yang lalu. menurut saya Kejujuran adalah emas yang tak tergantikan oleh apa pun..

    sekedar info bpk…
    tauhid adalah dasar Islam yang paling agung dan hakikat Islam yang paling besar, dan merupakan salah satu syarat merupakan syarat diterimanya amal perbuatan disamping harus sesuai dengan tuntunan rasulullah
    dan contoh tauhid itu adalah KEJUJURAN

    Like

  2. sekarang ini menjadi trend untuk para politisi membagi – bagikan uang, atau juga barang – barang seperti kalender, sarung, kerudung, sajadah, jam dingding dan lain lain. apakah ini juga menjadi bagian permainan para politisi untuk memikat para pemilih?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s