Antara benci – cinta (bencinta)

Benci dan cinta sepertinya dua hal yang tidak terpisahkan. Ketika kita sedang mencintai seseorang atau mencintai sesuatu, sesungguhnya pada saat itu, rasa benci juga ada disamping kita. Begitu kita lengah sedikit atau ada suatu masalah, yang semula mencintai seseorang bisa berbalik menjadi membenci orang itu. Sebaliknya, pada saat membenci seseorang, bisa jadi saat itu, cinta mulai bersemi, tapi belum menunjukkan jati dirinya. Kalau tidak percaya, tanyalah para remaja yang sering-sering bolak-balik antara mencintai dan membenci. Kalau anda pernah pacaran, tentu anda paham yang saya maksud. Lalu pertanyaanya, bagaimana mengubah dari membenci menjadi mencintai? Apa yang mesti dilakukan supaya orang yang membenci berbalik jadi mencinta?.

Bagi para ABG yang sedang kasmaran, soal membenci dan mencinta adalah hal yang biasa, seolah menjadi menu harian. Meski mulut bilang benci, tapi gestures, bahasa tubuh, mengatakan sebaliknya. Biar marah sampai teriak-teriak, tapi sinar mata memancarkan cinta. Bagi playboy yang jago mengelola emosi, bukan bahasa verbal si gadis yang ditangkap, tapi aura tubuh yang menjadi acuan. Maka sang playboy akan tau cara untuk menundukkan singa betina.

Boleh jadi soal membenci dan mencinta adalah soal manajemen juga. Manajer cinta yang handal tau betul mengatur persoalan cinta dan benci. Membenci dan mencinta bisa dikelola dengan baik. Jadi analogi benci-cinta (bencinta) bisa diterapkan dibidang apapun. Yang jadi soal hanya bagaimana strategi jitu menggunakan analogi itu supaya tepat sasaran dan berbuah benefit yang besar.

Kalau soal benci dan cinta adalah soal universal, maka untuk masalah apapun, analogi bencinta bisa jadi metoda yang masuk akal dan layak diterapkan. Coba kita cermati untuk masalah KKN, semua orang membenci KKN. Apakah analogi bencinta bisa digunakan untuk memberantas KKN??. Kalau saya ditanya, maka jawaban saya adalah bisa.

Kalau kita membenci KKN, berarti kita mencintai kebenaran, kita mencintai kebersihan dan kita mencintai kejujuran. Jadi rasa membenci KKN di-counter dengan rasa mencintai kebaikan dan kebenaran dalam pekerjaan dan dalam interaksi masyarakat.  Kita tidak cukup hanya dengan mengatakan membenci KKN tapi tidak mengatakan cinta pada kebenaran. Kita tidak bisa hanya mengatakan tidak suka KKN, tapi tidak berbuat kebenaran dan kebaikan.

Rasa benci yang amat sangat terhadap KKN harus diwujudkan dengan mencintai kebenaran dan berbuat sesuatu untuk kebenaran dan memberantas KKN. Perasaan muak terhadap KKN harus dikonversi menjadi mencintai dan membangun jejaring kejujuran. Kedongkolan terhadap KKN mesti dilawan dengan perbuatan baik. Energi negatif membenci KKN diubah menjadi energi positif memberantas KKN.

Apa jadinya kalau kita cuma teriak-teriak membenci KKN, tapi setelah itu tak berbuat apapun yang positif.  Kalau itu yang terjadi, boleh jadi kita cuma maling teriak maling (mtm). Ooops… anda dan saya tentu tidak mau dimasukkan kedalam kelompok mtm itu bukan?

Lha, analogi bencinta bisa dijadikan pendorong supaya tidak sekedar  maling teriak maling.  Lagi-lagi, semua orang bisa ikut berantas KKN. So, apalagi yang ditunggu??

One thought on “Antara benci – cinta (bencinta)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s