Selamat datang Nazaruddin

Ketika posting ini mulai saya tulis, para wartawan sudah tumpah bleg di Halim Perdana Kusumah menunggu kedatangan bintang berita Mohammad Nazaruddin. Mungkin ada wartawan yang sudah menunggu sejak pagi di Halim, soalnya, menurut informasi, ada yang bilang bahwa waktu tempuh dari Bogota, Kolombia sekitar 25 jam. Jadi kalau betul Nazaruddin diterbangkan dari Bogota Kamis sore waktu setempat, mestinya Sabtu pagi sudah akan tiba di Jakarta. Tapi kemudian informasi lain menyebutkan bahwa Nazaruddin baru akan sampai di Jakarta Sabtu Sore. Jadi wartawan sudah harus selalu siap sedia untuk meliput. Jangan sampai wartawan ketinggalan meramaikan kedatangan Nazaruddin. Tentu tidak ada wartawan yang cuma mau mengcopy berita dari media lain. Momen-momen kedatangan Nazaruddin harus dicover dari berbagai sudut pandang media. Hebat kan para wartawan.

Sesungguhnya saya tidak ingin menulis tentang kasus Nazaruddin. Pertama, karena kasus itu lebih kental domain politiknya, ketimbang pidananya. Untuk kedua hal itu, pidana dan politik, saya tidak punya kompetensi. Jadi kalau saya tulis tentang itu, kemungkinan besar tulisan saya akan kesana-kemari atau cuma sekedar berpoco-poco, maju-mundur, ke kiri, ke kanan, sesungguhnya  tidak kemana-mana. Alasan lain adalah, saya lebih tertarik mengulas cara kerja para wartawan itu.

Kawan saya yang wartawan lapangan, punya etos kerja yang sangat berbeda dengan profesi lainnya. Wartawan, boleh dibilang hampir taidak punya jam kerja. Kalau ada obyek berita yang sedang ramai, seperti kasus Nazaruddin itu, wartawan bisa kerja 24 jam sehari. Juru warta harus selalu siap dilapangan untuk memburu berita. Dalam sehari ia bisa beberapa kali sehari melaporkan hasil kerja ke atasannya, yang biasa disebut redaktur. Dari lapangan ia juga harus terus konsultasi dengan atasan, dan atasan memberi arahan-arahan bagaimana ia meliput suatu berita.

Keputusan kerja wartawan di lapangan dan redaktur di kantor, bisa berlangsung dalam waktu yang sangat cepat. Karena kalau terlambat sedikit saja, si wartawan bisa kehilangan obyek berita dan narasumber. Jadi mekanisme kerja antara reporter di lapangan dengan redaktur di kantor sangat berbeda dengan profesi lainnya.

Kalau saja kecepatan pengambilan keputusan dan pemberian arahan antara redaktur dan reporter bisa diterapkan di kebanyakan kantor instansi pemerintah, saya kira produktifitas kantor-kantor pemerintah akan jauh lebih tinggi dari kondisi sekarang.  Mengapa mekanisme kerja wartawan itu sulit diterapkan di kantor pemerintah. Mengapa kantor pemerintah tidak menerapkan cara kerja yang sangat produktif seperti wartawan. Bukankah “ilmu” kerja wartawan itu bisa dipelajari.

3 thoughts on “Selamat datang Nazaruddin

  1. Pingback: Nazaruddin Mudik « Ujang Andaleh – Unand

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s