Membuka kacamata kuda

Kalau kuda memakai kacamata bukanlah untuk gaya dan penampilan, tapi untuk memfokuskan penglihatan agar terus melihat lurus kedepan. Rupanya kuda suka jelalatan, lirik kanan-lirik kiri kalau sedang menarik kereta. Supaya jalannya lebih terarah dan efisien, maka kuda penarik kereta biasanya dipakaikan kacamata. Jadi kuda berkacamata hanya akan melihat lurus kedepan, dan tidak bisa melihat kesana-kemari.  Penglihatannya hanya ke satu titik, yaitu kedepan saja.

Kalau orang hanya melihat atau menilai sesuatu dari satu sisi saja atau satu aspek saja, biasanya orang tersebut diumpamakan seperti orang memakai kacamata kuda. Mengamati suatu obyek dari satu sisi saja, seringkali memberi kesan yang bias tentang obyek yang dilihat. Seperti kuda yang memakai kacamata, penglihatannya memang ditujukan hanya ke satu titik saja. Tapi kalau seseorang yang dianggap pakar hanya melihat suatu obyek atau menganalisa data dari satu sisi saja, si pakar bukan cuma salah “menangkap gambar” obyek yang sesungguhnya, tetapi bisa juga bisa menyesatkan orang lain. Si pakar tidak mau melihat persoalan dari berbagai segi, tidak mau menganalisa secara utuh. Hal itu terjadi karena si pakar tidak mau membuka kacamata kudanya.

Kalau memperhatikan pemberitaan di masmedia, sekarang ini banyak orang yang dianggap pakar, tapi sering memberi penilaian sempit, memakai kacamata kuda. Sebagai contoh adalah pemberitaan sejumlah media tentang pidato Presiden di depan DPR tanggal 16 Agustus 2011 yang menyampaikan Nota Keuangan untuk tahun 2012. Beberapa media meminta pendapat seorang “pakar pemula“, dan si pakar pemula mengatakan kalau rencana APBN 2012 yang disampaikan Presiden SBY tersebut hanya untuk anggaran birokrasi.

Dengan blak-blakan si pakar pemula itu mengatakan bahwa RAPBN 2012 yang disampaikan itu tidak mencerminkan kepentingan masyarakat. Media cetak menulis pendapat si pakar pemula apa adanya (atau mungkin diinterpretasikan sendiri oleh wartawan?). Sudah menjadi kebiasaan media untuk memuat dan mengulas pendapat yang berseberangan dengan narasumber. Media beranggapan, pendapat berseberangan mempunyai “nilai jual” berita yang tinggi. Sering wartawan secara sengaja mengajukan pertanyaan yang “menggiring” si pakar untuk mengatakan pendapat yang sangat berseberangan. Itu adalah standar operasi (SOP) wartawan ketika mewawancarai seseorang.

Di sisi lain seorang pakar pemula harus berusaha mencari panggung, agar pendapatnya didengan orang. Si pakar ingin lebih dikenal masyarakat, untuk itu ia harus memberikan pendapat yang “vokal” agar diliput wartawan. Si pakar bukannya tidak tau kalau pendapatnya itu sebenarnya sangat sempit, tapi ia sengaja seperti memakai kacamata kuda. Demi mencari nama populer, si pakar membiarkan dirinya memberi pendapat jomplang, yang tidak utuh.

Dari sisi wartawan pendapat berseberangan yang jomplang dianggap mempunyai nilai jual tinggi. Jadi kepentingan antara pakar pemula dan wartawan klop saling mendukung. Sering kedua belah pihak ini secara sengaja mengatur sedemikian rupa, sehingga berita yang muncul terkesan bombastis.  Tentu ada tujuan dan benefit dari keduanya mengatur seperti itu. Si pakar pemula akan semakin populer, dan semakin sering dimintai pendapat. Semakin sering dimintai pendapat, biasanya diiringi dengan meningkatnya pendapatan dari si pakar pemula.  Bagi media, kepentingannya adalah menaikkan rating atau oplah.

Tetapi sebagaimana disebutkan diatas, pendapat yang sempit, seperti memakai kacamata kuda, bisa menyesatkan orang. Karena itu pula, kalau membaca pengamat memberi pendapat, saya selalu mengingatkan kepada diri sendiri.

“Ah, mereka ibarat komentator sepakbola, pintar memberi analisa ini-itu, tapi menendang bola sejauh 10 meter pun tidak bisa lurus.”

Buka dulu kacamata kudamu itu bung!.

2 thoughts on “Membuka kacamata kuda

  1. Hahaha..masalah klise yang lazim menerpa khalayak ramai, bahkan saya sendiri. Begitu mudah untuk mengomentari orang atau hasil karya orang lain apabila melenceng dari standart yang kita buat. Seringkali menganggap apa yang kita lakukan paling benar dan malas menerima kritik. Pertanyaannya, apakah dengan mempertahankan hal tersebut akan membuat kita jadi “better person”? Mari menjawabnya dengan perubahan🙂
    Gb us

    Like

  2. “Sudah menjadi kebiasaan media untuk memuat dan mengulas pendapat yang berseberangan dengan narasumber. Media beranggapan, pendapat berseberangan mempunyai “nilai jual” berita yang tinggi.”
    Menanggapi pernyataan di atas, saya ingin menyampaikan bahwa media mencoba memenuhi standar cover both sides, agar berita berimbang. Jadi, diperlukan pendapat yang berbeda dari suatu peristiwa atau moment. Sehingga pembaca mendapatkan wawasan plus. Begitu, sedikit penjelasan dari saya. Horas!

    Anyway, visit my blog http://www.smartata.wordpress.com and http://www.tempo.co (find us more)

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s