Rafting di Sungai Kromong, Mojokerto

Anak saya Daniel sudah keranjingan ikut rafting alias arung jeram. Sampai sebelum lebaran kemarin, sudah ada 8 sungai yang ia arungi baik di Jawa Timur maupun di Jawa Barat. Ketika libur lebaran dia ke Surabaya, mamanya cerita bahwa ada sungai yang arusnya cukup deras dan penuh batu sehingga rafting yang tidak pakai alat dayung di Pacet, Mojokerto. Mendengar itu keinginan Daniel untuk segera menjajal sungai itu sudah tidak tertahan lagi.

Begitulah, Kamis, 1 September kemarin, kami berempat Maya istri saya, kedua anak saya Daniel dan Dennis,  dan saya berangkat menuju Pacet, Mojokerto. Pagi itu, hari kedua lebaran, arus lalulintas menuju Pacet tidak terlalu ramai, kecuali di Pasar Krian. Persis di perempatan jalan dimana ada rel kereta api, sempat agak macet, karena ada “petugas dadakan” yang sengaja memperlambat lalulintas supaya dia dapat “uang jasa mengatur” lalu lintas.

Perjalanan dari Krian menuju Pacet lancar sekali. Begitu kami sampai di Pacet, kemudian bertanya kepada pemilik warung arah lokasi arung jeram. Pemilik warung menunjukkan arah sambil berpesan untuk memperhatikan tanda penunjuk lokasi base camp arung jeram. Ternyata jarak base camp rafting tersebut hanya sekitar 1 km dari Pos Polisi Pacet, jadi cukup dekat.

Base camp rafting “Obech”, berada dikawasan perbukitan, dengan dikelilingi pohon cemara yang cukup tinggi. Di lokasi ini selain kantor administrasi, bangunan semacam pendopo digunakan untuk tempat makan bagi peserta rafting yang sudah selesai. Ada sejumlah kamar mandi untuk bertukar pakaian sehabis berbasah ria di sungai. Selain itu di lokasi ini juga ada fasilitas bermain outbound seperti flying fox, camping ground dan permainan outbound lainnya.

Sejenak kami memesan untuk 4 orang, dengan masing-masing biaya Rp. 190.000 per orang. Biaya itu sudah termasuk snack di pertengahan rafting dan makan siang di pendopo. Kami diawaki oleh mas Irwan, instruktur yang akan menjadi nakhoda perahu rafting kami. Lalu kami naik ke atas mobil pick-up terbuka menuju lokasi start.  Pick-up itu meraung-raung di jalan menanjak menuju lokasi start.

Berpose sebelum menuruni tebing terjal dengan background gunung

Turun dari pick-up, kami masih harus berjalan menuju lokasi start, karena mobil tidak bisa mendekat ke lokasi start. Kami menuruni tebing terjal, dengan jalan dan tangga seadanya. Kalau tidak hati-hati, kita bisa tergelincir dan terjatuh ke jurang yang dalamnya mungkin lebih dari 30 meter. Saya mengingatkan Dennis, supaya berjalan hati-hati dan konsentrasi.

Sepintas gambar diatas tidak terlihat tebing yang curam, tapi sebenarnya kecuramannya sekitar 60-70 derajat. Di latar belakang salah seorang instruktur rafting yang membawa peralatan rescue.

Inilah titik start rafting di Sungai Kromong yang liar. Saya terlihat kecil diapit kedua anak saya. Begitu menginjakkan kaki ke dalam sungai, terasa dinginnya air yang mengalir jernih. Kejernihan air mengingatkan saya pada sungai-sungai yang mirip di kawasan Bakkara, tidak jauh dari kampung saya di Tapanuli. Sungai Kromong di titik start ini tidak terlalu lebar, cukup ideal untuk memulai petualangan arung jeram.

Kami menaiki perahu karet yang kapasitasnya memang untuk 4 penumpang dengan seorang jurumudi. Mas Irwan menjadi jurumudi alias nakhoda yang akan mengendalikan perahu. Perahu kami didampingi oleh tim rescue yang terdiri dari 3 orang. Dua orang naik perahu karet terpisah, sementara seorang lagi menggunakan ban bekas yang dilengkapi dengan alas duduk.

Tim rescue mendahului kami ke hilir sungai, memastikan bahwa jalur yang akan kami lewati cukup aman. Begitu kami duduk diatas perahu dan mulai masuk ke air, kami sudah langsung didorong arus deras sungai Kromong. Daniel yang biasanya kalau rafting menggunakan dayung, kali ini tanpa dayung, dan langsung berteriak kegirangan oleh dorongan arus deras.  Sang nakhoda, Mas Irwan, sangat lihai mengarahkan perahu, tapi toh perahu kami terbentur-bentur ke batu. Tanpa di dayung laju perahu cukup keras mengikuti derasnya air.

Adakalanya kami harus berhenti, menunggu konfirmasi dari tim rescue. Setelah ada tanda siulan, barulah kami bergerak lagi mengarungi sungai. Mendekati terjunan air, tim rescue mengarahkan perahu agar bisa lancar melewati jeram. Kalau jeramnya cukup tinggi, nakhoda memerintahkan untuk jongkok di dalam perahu.

Perahu “nyangkut” di batu dan saya sempatkan mengambil foto sambil menunggu tanda dari tim rescue di depan.  Sebenarnya sangat riskan membawa kamera di arung jeram ini, selain bisa terrendam air, tapi bisa juga kamera terlempar karena bantingan perahu yang cukup keras. Saya melindungi kamera dengan membungkus didalam dua kantong plastik, baru dimasukkan kedalam case, dan dilindungi dibalik pelampung. Dengan begitu, kamera agak aman.

Di pertengahan “trip“, nakhoda Irwan meminggirkan perahu.

“Kita istirahat dulu pak, sambil minum teh”, Irwan berkata.

Di tempat peristirahatan itu sudah tersedia onde-onde dari parutan singkong, dan teh hangat. Setelah berbasah ria diterjang arus, secangkir teh hangat sungguh melegakan kerongkongan. Apalagi ada onde-onde, tempat istirahat ini menjadi tempat yang melegakan.

Setelah saya menghabiskan dua gelas teh dan menikmati onde-onde sambil bersantai, kami meneruskan petualangan mengaruni jeram.

Melewati celah sempit, tebing batu di sisi sungai, sementara di tengah sungai ada batu besar teronggok. Melewati celah dan ada terjunan air, tubuh dibanting-banting ke kiri, ke kanan dan kedepan.

Meski terbanting-banting, tapi kami semua gembira. Apalagi ada nakhoda berpengalaman mengendalikan perahu. Kita harus tetap berpegangan erat pada tali perahu. Kalau tali terlepas, kita bisa terlempar keluar perahu.

Sungai Kromong jauh lebih menantang dari sungai Pekalen di Probolinggo yang pernah saya coba arungi. Menurut Daniel, dari semua sungai yang dia arungi, sungai Kromong ini yang paling seru, sampai-sampai penumpang tidak memerlukan dayung. Dayung malah bisa membahayakan penumpang karena bisa berbenturan satu sama lain.

Titik akhir arung jeram, sejenak memandang serpihan air menuruni bendungan. Sampai disini air masih terlihat jernih.

Kami sudah lumayan capek, jadi dari titik akhir pendaratan, terpaksa naik pick-up lagi ke base-camp.

Setelah mandi, siap-siap menyantap nasi jagung dengan sambal terasi, urap-urap, lele goreng, sayur lodeh, tempe goreng dan terung goreng. Wah, namanya sudah lapar, nikmat sekali makannya diiringi semilir angin menimpa daun cemara. Gesekan daun cemara menambah nikmatnya makan nasi jagung.

Libur lebaran kami meski cuma berjarak dua jam dari rumah di Surabaya, tapi cukup berkesan. Lain kali harus cari sungai yang lebih menantang lagi, supaya lebih seru. Tapi keselamatan tetap nomor satu.

3 thoughts on “Rafting di Sungai Kromong, Mojokerto

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s