Dari hijau perbukitan ke laut biru

Setelah penerbangan yang cukup panjang, akhirnya si burung besi garuda menapakkan kakinya di Sentani. Segarnya udara perbukitan menyambut kedatangan kami. Inilah pertamakalinya saya menginjakkan kaki di ujung Timur Indonesia.   Saya dan kolega saya segera menuju pintu luar terminal. Ternyata kami sudah ditunggu oleh Pak Bahar, “asisten” yang akan mengantar kami ke kota.  Pak Bahar termasuk pengemudi yang banyak omong. Dia bilang dia sudah lebih dari 20 tahun datang ke daerah ini, Pak Bahar mulai cerita banyak hal, tentang kebiasaan orang lokal, begitu juga para pendatang.

Sambil mendengar celoteh Pak Bahar, tidak terasa, kami sudah sampai di pusat kota Jayapura. Hari masih pagi, setelah check-in di hotel,  kolega saya langsung membereskan persiapan acara kami besok harinya di kota ini. Saya menyempatkan diri untuk berbaring sebentar dikamar, soalnya di penerbangan tengah malam dari Jakarta, tidur saya kurang pulas, meski sudah dibantu obat tidur ringan. Tapi saya tak dapat memejamkan mata, karena itu segera mandi biar badan lebih segar.

Usai mandi, saya keluar kamar dan berjalan kearah pantai. Dari pintu hotel, bisa terlihat perbukitan tidak jauh diseberang. Disebelah kanan, terlihat laut teluk Jayapura. Secara geografis kota ini sangat indah. Kota dikelilingi perbukitan, dan mempunyai laut biru yang mempesona. Bila direncanakan dengan baik, kota Jayapura sangat ideal sebagai kota yang cantik. Pesona alam ada lengkap dikota ini.

Sebagai orang yang pernah “mengurus” perkotaan, saya seperti menemukan suatu bentuk kota ideal yang siap untuk dikelola. Apalagi jumlah penduduk yang masih relatif sedikit, secara teknis kota ini “manageable“, seolah penataan kotanya ada dalam genggaman tangan. Kota ini seperti remaja putri yang siap dipromosikan menjadi ratu cantik yang berwibawa. Kota ini menjanjikan kesejahteraan bagi warganya. Ah, alangkah mempesonanya. Itulah kesan sepintas saya tentang Jayapura.

Sambil memperhatikan “urban furnitures“, saya melangkah pelan-pelan menyusuri jalan kota. Langkah kaki saya berhenti sejenak memperhatikan sungai yang bermuara ke laut, tidak jauh dari gedung DPRD Propinsi Papua. Sungainya tidak terlalu besar, air yang mengalir juga tidak banyak, sehingga sebagian dasar sungai bisa terlihat. Saya melihat sudah banyak sampah plastik di dasar sungai. Sayang, kebersihan sungai belum diperhatikan. Air keruh ke coklatan menandakan ada sedimen lumpur yang terbawa dari hulu.

Kaki saya terus melangkah kearah pantai, saya menuju arah terminal yang berada persis di pinggir pantai. Pagi itu tidak banyak angkutan umum yang parkir di terminal ini.  Sebagian pelataran terminal juga dimanfaatkan sebagai pasar tradisional. Terminal ini dibangun dibibir pantai, jadi bagian yang berbatasan dengan laut malah terkesan sebagai dermaga kapal.

Di salah satu sisi terminal terdapat deretan warung makan, sekitar 3 warung makan menyiapkan ikan bakar sebagai menu andalan. Susunan ikan yang sudah dibakar setengah matang ditata diatas pemanggangan menunggu pembeli. Ada kakap, kerapu, baronang, dan berbagai jenis ikan laut lainnya. Mencium aroma ikan bakar seperti itu, saya tidak dapat menahan godaan untuk segera mampir menikmatinya. Saya pilih warung paling ujung, yang meja makannya menghadap laut.

Sambil menunggu hidangan, saya menikmati semilir tiupan angin laut teluk Jayapura. Di kejauhan terlihat pulau kecil berbukit, di mana di puncaknya ada monumen Salib. Dibibir pantai terlihat rumah-rumah penduduk. Di sisi daratan, di sebelah kanan saya duduk, terlihat pelabuhan Jayapura. Sementara ke arah berlawanan, saya melihat deretan bangunan-bangunan yang tepat berdiri dibibir pantai. Salah satu hotel yang cukup representatif, berada di bibir pantai, tidak jauh dari lokasi “Lot-2” (menurut istilah lokal).

Laut biru sudah terlihat hanya beberapa meter dari bibir pantai, itu artinya kedalaman laut di lokasi itu cukup dalam, sehingga sangat ideal bagi pelabuhan dengan kapal-kapal besar. Artinya, secara geografis, sebuah pelabuhan besar sangat ideal di teluk Jayapura. Kalaulah nantinya bagian “hinterland” dari Jayapura berkembang pesat, teluk Jayapura siap menjadi outlet sebagai pelabuhan untuk mengangkut produk-produk ke luar dari Papua.

Seekor ikan baronang bakar diatas piring, sangat menggoda sambil memandang keindahan laut teluk Jayapura. Sambal khas dari Sulawesi menjadi pelangkap ikan baronang bakar. Nikmatnya makan ikan bakar memandang teluk Jayapura ditiup angin sepoi-sepoi dari lautan. Meski telah selesai makan, saya masih santai-santai saja di warung itu, menikmati pemandangan teluk Papua.

Setelah puas mata memandang, saya melangkah ke arah pelabuhan Pelindo. Sengaja berjalan kaki untuk mengamati detail kota ini, mendapatkan atmosfir kota. Saya kemudian berhenti di dekat pintu masuk ke pelabuhan penumpang. Saat itu pintu gerbangnya masih tertutup, sehingga saya tidak bisa masuk. Tidak lama kemudian sebuah sepeda motor berhenti didekat tempat saya berdiri, pengendara turun dan memarkir motornya. Saya menduga ia adalah seorang pengojek, lalu saya tanya apa kegiatannya, dan benar saja dia mengaku sebagai tukang ojek yang mangkal disitu dan habis mengantar penumpang.

Saya minta abang pengojek mengantar saya ke kawasan perbukitan, karena saya ingin melihat teluk Jayapura dari ketinggian perbukitan. Dari ketinggian ini pemandangan teluk Jayapura terlihat lebih indah lagi daripada pemandangan dari warung di terminal. Dari bukit ini, selain memandang teluk Jayapura, bagian lain kota bisa terlihat lebih luas. Diseberang kota juga terdapat perbukitan, sehingga kota Jayapura sesungguhnya adalah lembah-lembah yang diapit perbukitan dan berada di tepi pantai. Kondisi geografis yang seperti ini menjadikan kota ini sangat indah. Tidak banyak kota di Indonesia yang mempunyai kondisi geografis seperti Jayapura.

Kehijauan perbukitan, lembah di bagian bawah, dan lautan diujung yang lain adalaha pesona alam ciptaan Tuhan yang tak ternilai bagi kota ini. Semestinya kota ini bisa dikelola menjadi “surga” bagi para warganya.  Polesan manajemen handal bisa menjadikan kota Jayapura menjadi kota yang sangat kompetitif, didukung oleh potensi alam di propinsi Papua. Saya membayangkan kemakmuran bagi kota ini. Jayapura, akan seperti namanya JAYA melayani warga kotanya.

Tapi kalau sampai nantinya dimasa depan, entah 10 atau 20 tahun lagi, kota ini tidak bisa menyejahterakan warganya, saya yakin itu adalah karena kegagalan para pengelola kota menjaga dan mengembangkan kota ini. Sangat menyedihkan kalau itu sampai terjadi…..

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s