Arung jeram Kasembon, Kabupaten Malang

Bulan September 2011 ini, kami sampai dua kali ber arung jeram ria. Yang pertama di sungai Kromong, Pacet, Mojokerto, yang kedua kalinya di Kasembon, Kabupaten Malang. Itu untuk lebih memuaskan rasa petualangan arus liar kami, terutama anak saya Daniel. Sebenarnya berarung jeram ke Kasembon praktis tanpa direncanakan. Tiba-tiba saja Sabtu pagi, ketika ngobrol sambil mau bikin kopi, saya dan istri tercetus mau coba arung jeram di Batu, Malang.

“Ayo, nanti sore kita berangkat setelah Dennis pulang sekolah”, istri saya mengusulkan.  Sepulang dari sekolah, Dennis bilang, dia mau ulangan Senin, jadi mau belajar dulu ketimbang ber arung jeram. Kemudian, pembicaraan jadi tidak berlanjut. Tapi malamnya, akhirnya kami sepakat berangkat Minggu pagi, walau Dennis tidak ikut.

Minggu pagi, setelah sarapan, Daniel, anak saya, Maya dan saya berangkat dengan tujuan Batu. Daniel dibelakang kemudi, saya jadi navigator menuju Batu. Kami belum tau lokasi arung jeram di Batu, hanya dengar kalau di Batu ada penyelenggara arung jeram. Sesampai di Batu, terlihat tanda panah bertuliskan arung jeram, maka kami mengikuti tanda itu. Tak berapa jauh, kami berhenti menanya lokasi “base camp“nya. Dan kami ditunjukkan sebuah rumah pada sebuah gang yang agak sempit.

Melihat penampilan rumah itu saya tidak yakin bahwa ini adalah base camp seperti biasanya. Tapi sudah kadung berdiri di depan pintu, saya tanya juga siapa pengelola arung jeram itu. Seorang pemuda mengatakan bahwa, arung jeram di lokasi itu dikelola oleh pemuda Karang Taruna setempat. Saya lalu konsultasi bertiga mempertimbangkan keadaan itu. Kami tidak yakin rute arung jeram itu sudah disurvei dengan baik, terlalu berresiko berarung jeram dengan pengelolaan asal-asalan. Akhirnya kami putuskan tidak berarung jeram di lokasi itu, dan sepakat menuju Kasembon di perbatasan dengan Kabupaten Kediri.

Mobilpun kami arahkan ke Pujon, puncak perbukitan yang harus dilalui menuju Kasembon. Kali ini saya yang pegang setir, Daniel menjadi navigator. Jalan meliuk-liuk selepas Songgoriti menjadi ciri khas perjalanan ke Pujon. Sambil menanjak, kami melaju beriringan dengan kendaraan lain. Sebuah bis pariwisata besar ada di depan, dan kecepatannya sangat lambat. Sayangnya tidak mungkin menyalip di jalanan berliku menuju Pujon. Jadi saya harus bersabar menguntit di belakang bis besar. Begitu lepas perbatasan kota Batu dengan Pujon, jalan sudah menurun dan cukup lebar, sehingga saya leluasa menyalip bis yang ada di depan.

Setelah cukup lama menyusuri jalan, saya melihat tanda bertuliskan Rafting Kasembon, itu artinya lokasi base camp sudah dekat. Sekitar 2 km dari jalan Raya Pujon-Kediri, kami tiba di lokasi base camp Rafting Kasembon. Ternyata Kasembon, adalah nama kecamatan disini. Selain rafting, ada berbagai permainan out-door di kawasan ini seperti outbound dan off-road driving. Untuk rafting, tarifnya ada kategori family rafting dengan minimal 5 peserta dan ada juga kategori rombongan besar. Untuk family rafting dengan minimal 5 peserta tarifnya 150 ribu per orang sudah termasuk welcome drink, snack  di rest area, makan di base camp dan asuransi.

Setelah beristirahat sejenak, kami sudah siap memulai petualangan arung jeram ke titik start. Titik start berjarak sekitar 200 meter dari base camp. Di titik start, sungai adalah saluran irigasi yang lebarnya sekitar 3 meter. Kami didampingi 2 orang petugas, yaitu Hendry yang menjadi nakhoda, dan Anto, yang bertugas melengkapi jumlah penumpang supaya seimbang. Setelah mendapatkan pengarahan, kami pun turun ke perahu.

Baru sekitar 70 meter dari titik start Mas Hendry sudah memberi aba-aba akan ada terjunan.

Ya siap-siap booomm…, pegang tali erat-erat dan miringkan badan ke belakang”...”Satu… duaaa…. tigaaa….

Dan tiba-tiba perahu terjatuh, kami semua menjerit keras-keras. Begitu perahu karet menyentuh permukaan air dibawah, perahu seperti terlipat karena tekanan berat penumpang. Sesaat kemudian perahu normal lagi, kami bisa tertawa lagi. Saya berpaling ke belakang, ketinggian terjunan air itu antara 1,5 – 2 m, cukup mendebarkan juga.

Baru sekitar 100 meter dari terjunan pertama sudah ada terjunan kedua. Kembali nakhoda memberi aba-aba untuk siap.   Kembali perahu kami terbanting di terjunan. Kali ini terjunannya sedikit lebih tinggi dari yang pertama. Sama seperti yang pertama, kami menjerit keras-keras ketika perahu terjun kebawah.

“Terjunan ke dua ini lebih berbahaya pak, karena di dasar terjunan ada lubang yang dalam dan air berputar di bawah. Kalau kita terlepas dan jatuh ke putaran air, bisa berbahaya”, Anto si pemandu berkata setelah perahu tenang kembali.

Melewati dua terjunan, saluran irigasi kemudian bertemu dengan sungai yang cukup lebar. Arusnya tidak terlalu deras, karena sungai cukup landai. Perkiraan saya sungai ini ada sekitar 10-14 meter lebarnya.

Daniel berada di posisi depan bersama Anto. Sekarang air cukup tenang, jadi saya bisa ambil foto.

Terjunan ketiga tidak terlalu tinggi, hanya kurang dari satu meter, jadi tidak terlalu “seru”. Kami melewatinya dengan lebuh santai. Sepanjang rute arung jeram Kasembon ada 5 terjunan air. Kelima terjunan itu adalah terjunan buatan untuk keperluan irigasi.

Tidak berapa lama kami sudah berhenti di rest area.

Baru sekitar seperempat perjalanan, sudah ada “rest area“, yang menyediakan teh hangat dan pisang goreng.

Di rest area ini kami bertemu dengan dua orang perempuan dari rombongan perahu di yang lebih dulu dari kami. Kedua perempuan itu tidak melanjutkan arung jeram, karena salah seorang mengalami benturan sewaktu melalui terjunan jeram air di saluran irigasi. Pipi si perempuan berbenturan dengan helm penumpang yang berada dibagian depan perahu.

Si perempuan meringis sambil menempelkan bungkusan es batu ke pipinya. Saya sebenarnya ingin mengambil gambar pipi yang bengkak itu, tapi saya merasa sungkan untuk memotret, kuatir nanti si ibu  tersinggung kalau pipinya yang membesar sebelah difoto, walaupun dia menceritakan kejadiannya sambil tertawa-tawa.

Setelah makan pisang goreng dan minum teh hangat, kami melanjutkan petualangan. Sungai ini tidak jauh dari perumahan penduduk, jadi banyak orang yang menggunakan sungai untuk keperluan sehari-hari. Saya sempat mengabadikan seseorang yang sedang “menjawab panggilan alam” di tepi sungai. Dia seolah tidak peduli dengan kehadiran kami, dia tetap “melepas hajat”  ke sungai dengan tenang.

Tidak berapa lama, Mas Hendry mengingatkan bahwa terjunan ke empat sudah dekat.Siap-siap mempererat pegangan pada tali perahu.

BOOOOMMMM…..”

Terjunan ke empat yang lebih tinggi dari terjunan kedua.

Dan “YYAAAKKKK……..”

….. AAAAKKKKHHH…..BYURRRRR……

Deburan air bergemuruh keras saat perahu membentur air di bawah terjunan. Pegangan tangan saya hampir lepas, karena perahu terjun bebas dari ketinggian sekitar 3 meter.

Setelah beberapa saat, Mas Hendry kembali mengingatkan akan ada terjunan kelima atau yang terakhir di rute ini. Saya memperhatikan kedepan, terlihat bahwa terjunan ini paling tinggi diantara yang sebelumnya, karena pinggir sungai dibawah terjunan tidak kelihatan.

BOOOMMMM…….

Perahu meluncur di terjunan yang cukup tinggi. Perkiraan saya ada 5 meter ketinggian terjunan ini. Hanya saja, kali ini perahu rasanya tidak terjun bebas, tetapi sedikit meluncur. Jadi meskipun lebih tinggi, boleh dibilang tidak se seram terjunan keempat.

Karena perahu “sedikit meluncur”, jadi perahu tidak terlipat ketika sampai di bagian bawah terjunan. Tapi tentu saja jeritan kami tetap sangat keras ketika terjun. Lanjut lagi mendayung.

Selain kelima terjunan yang sudah kami lewati, bagian lain dari sungai ini tidak terlalu menantang, apalagi dibandingkan dengan sungai Kromong di Pacet.

Sebuah batu besar teronggok di tengah sungai.

Setelah sedikit berbelok, kami ketemu dengan rombongan perahu terdahulu, dimana salah seorang anggotanya mengalami benturan di pipi. Mereka ada 5 perahu, dan kebanyakan perempuan. Mereka, rombongan se kantor dari Malang, bercanda satu sama lain. Suasana di sungai itu, seperti keramaian pasar dengan celotehan masing-masing.

Daniel langsung menceburkan diri ke sungai waktu “break” sebentar.

Mejeng dulu sewaktu “istirahat”

Trio, anak, emak dan abah

Mejeng diatas batu dengan “sun block” di pipi.

Rombongan Malang bergerak melanjutkan “trip”. Kami masih menunggu beberapa menit, kasi kesempatan mereka di depan.

Menjelang titik akhir, saya berhasil menangkap gambar seorang kakek yang sedang santai duduk diatas batu. Si kakek siap-siap mau mandi, tapi dia seperti membiarkan kami lewat dulu sambil nongkrong di batu.

Akhirnya keluar dari sungai menuju titik penjemputan untuk kembali ke base camp.

Di lokasi base camp, permainan off-road driving sudah menanti.

Daniel dan mamanya siap-siap ber “off-road”.

Gimana nih ma, mobilnya kepeleset, susah jalan!.

Udah di gas, mobil gak maju-maju, biarpun roda sudah berputar keras. Lumpur muncrat kesana-kemari karena ban yang berputar keras.

Daniel lagi mengendalikan mobilnya.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s