Keterbukaan yang ditutupi

Saat ini sudah tidak mungkin menghentikan proses reformasi di Indonesia. Kalau ada pemikiran menghentikan reformasi, apalagi pemikiran untuk kembali ke sistem di masa lalu, tentulah pemikiran demikian akan ditolak oleh banyak pihak. Tetapi dari berbagai informasi yang muncul di khasanah resmi maupun tidak resmi, ternyata ada juga orang yang seolah-olah “merindukan masa lalu”. Bisa jadi kerinduan “nostalgia masa lalu” itu disebabkan rasa frustasi akan keadaan sekarang yang tidak memberikan kemajuan yang berarti. Karena frustasi, maka timbul pemikiran “Sepertinya keadaan pada waktu yang lalu lebih mendingan dari pada kondisi sekarang”.

Kondisi yang disebutkan diatas, adalah realita yang tidak jarang dijumpai. Banyak orang yang pesimis akan hari-hari kedepan. Kejadian-demi kejadian menunjukkan bahwa pihak yang semestinya melakukan sesuatu untuk masyarakat sesuai mandatnya, ternyata tugas dan mandatnya tidak dilaksanakan. Atau hasilnya tidak memenuhi harapan orang banyak. Contohnya seorang yang seharusnya bertanggung jawab menyelesaikan persoalan keselamatan pelayaran, ketika terjadi kecelakaan laut secara beruntun, mengatakan bahwa ia sudah melakukan banyak hal untuk mengatasi keselamatan kapal. Tapi kenyataan yang dilihat masyarakat, kecelakaan kapal kerap terjadi, dan penyelesaian terhadap kecelakaan seolah tak membawa hasil. Dan masyarakat kecewa.

Berbagai contoh lain, cukup sering disaksikan masyarakat, tapi lagi-lagi harapan masyarakat tidak bisa terpenuhi. Lalu muncul pertanyaan yang mendasar: mengapa hal-hal semcam itu terus terjadi? Apakah tidak ada upaya untuk mengantisipasi untuk menghindarinya? Sepertinya tidak ada seorangpun yang dapat memberikan jawaban yang tuntas akan pertanyaan itu. Bahkan pihak-pihak yang secara aturan harus bertanggung jawabpun, akan memberikan jawaban menghindar.

Kalau ditelisik lebih dalam, salah satu penyebabnya adalah masalah ketidakjujuran. Orang sering tidak mampu dan tidak berani mengungkapkan persoalan yang sesungguhnya, karena kuatir kalau dibeberkan secara terang-benderang, ada pihak-pihak yang jadi korban. Secara langsung atau tidak langsung korban itu juga bisa termasuk orang yang mengungkap kebenaran fakta. Meski dipaksa, orang sering tidak mau membeberkan fakta yang ada, sekedar untuk mencari “keselamatan sementara” seraya berharap masyarakat akan segera melupakan persoalan itu. Cari aman dengan melakukan kebohongan publik.

Padahal secara aturan perundang-undangan, semua fakta dan informasi publik harus terbuka dan diinformasikan kepada masyarakat.  Dengan aturan dalam Undang-undang keterbukaan informasi publik, nyaris tidak ada informasi yang boleh ditutupi. Bahkan informasi yang masih berupa rancangan dan rencanapun, harus disampaikan kepada publik. Bagi orang yang berusaha menutupi keterbukaan, bisa-bisa diancam dengan hukuman pidana. Keterbukaan tidak boleh ditutupi.

Kalau saja semangat keterbukaan difahami dan dilaksanakan semua orang, maka ketidak jujuran bisa diberantas. Kalau ketidakjujuran hilang, kebenaran akan menjadi dasar dari setiap tindakan. Kalau tindakan dilandasi kebenaran universal, maka sejahteralah dunia.

*)

A Sunday notes folk!

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s