Steve Jobs vs Inflasi pendidikan

Kemarin ketika mulai on-line (OL), mata saya langsung tertumbuk pada headlines berita meninggalnya Steve Jobs, mantan CEO Apple.  Saya kaget karena tidak menduga orang yang sedang berkibar-kibar seperti itu meninggal dalam usia yang “relatif” muda (untuk orang Amerika). Saya kaget, soalnya saya tidak mengikuti perkembangan kenapa Jobs non aktif di awal tahun 2011 ini. Rasa penasaran saya timbul untuk tau lebih lanjut tentang dia, maka saya lanjut dengan meng”klik” detail berita.  Ternyata Steve Jobs adalah seorang mahasiswa “drop-out” dari Universitas, tidak tamat kuliah!. Tapi Steve, seperti kata Presiden Obama di Twitternya, “Jobs mengubah cara kita melihat dunia“. Lha, terus apa hubungannya dengan judul posting diatas?.

Pertanyaannya, kenapa mahasiswa drop-out bisa jadi inspirator dan membangun perusahaan komputer dari kelas kambing menjadi perusahaan raksasa dunia. Steve Jobs dan temannya Wozniak memulai perusahaan di garasi membangun komputer Apple dari nol, starting from scratch, tanpa modal. Sama persis dengan Larry Page dan Sergey Brin mulai dari dasar membangun Google. Larry dan Sergey juga mahasisa yang tidak menamatkan kuliahnya, tapi membangun kerajaan bisnis Google dimulai dari kantor di garasi mobil.

Di sekitar saya, banyak orang yang punya gelar Magister, tapi tidak bisa kerja apa-apa. Bayangkan seorang Magister, kalau dalam bahasa lain disebut master, tidak bisa bekerja. Padahal menurut definisinya seorang master adalah seorang yang punya ketrampilan, atau disebut juga scholarly person.   Atau kalau ingat film kungfu Bruce Lee, Master Kungfu adalah seorang ahli kungfu, ilmu silatnya tinggi. Lalu kenapa banyak Magister tidak bisa bekerja, bahkan dikantornya sendiri.

Suatu ketika, saya menerima sepucuk surat dari sebuah instansi. Surat itu ditandatangani oleh kepala instansi itu, dan kepala isntansi itu mempunyai gelar Doktor. Jadi suratnya lengkap ditanda tangani oleh Dr.Ir. Polan,M.Si. Saya membaca surat itu berkali-kali, tapi tidak bisa memahami apa tujuan surat. Akhirnya saya menugaskan seorang staf untuk mengklarifikasi maksud surat yang ditujukan ke kantor kami itu.  Setelah diklarifikasi secara verbal, barulah saya faham maksud suratnya. Bayangkan seorang Doktor menanda tangani sebuah surat resmi instansi, tapi suratnya tidak bisa difahami orang. Artinya si Doktor itu tidak bisa membuat surat!. Minta ampun!, seorang Doktor tidak bisa membuat surat supaya komunikatif.

Kenapa Doktor dan Magister kita under-qualified, sementara mahasiswa drop-out seperti Steve Jobs bisa mengguncang dunia. Barangkali inilah yang disebut inflasi pendidikan; nominalnya tinggi, tapi nilainya rendah. Gelar pendidikan yang diperoleh tinggi, tapi kemampuan bekerja sangat rendah. Banyak instansi (terutama pemerintah) yang kalau dilihat dari kualifikasi normatif karyawan, banyak yang bergelar sarjana strata-1 sampai sarjana strata-2. Tapi kalau diteliti lebih dalam, kinerja dan kemampuan personil, sangat memprihatinkan.

Personil yang kurang kualifikasi membutuhkan persyaratan formal, melalui ijazah, untuk mendapatkan kenaikan pangkat. Sistim kenaikan pangkat yang kurang baik, ditambah kondisi atmosfir  “suka atau tidak suka” dalam lingkungan kerja, menjadikan orang berusaha mendapatkan gelar kesarjanaan yang tinggi walaupun tidak harus mempunyai kemampuan dan ketrampilan tinggi. Kondisi ini merupakan salah satu faktor pendorong terjadinya inflasi pendidikan.

Cilakanya, ada sejumlah perguruan tinggi yang menjual murah gelar kesarjanaan. Sejumlah perguruan tinggi mempraktekkan sistim dagang sapi dalam menentukan kelulusan. Mahasiswa bisa lulus dengan pasti dengan cara gampang. Bahkan semua bisa dikemas jadi paket terima bersih. Kuliah bisa fleksibel,  mau milih 2 jam seminggu atau 6 jam seminggu. Ujian dan jawaban ujian disiapkan, simahasiswa tinggal mencocokkan jawaban. Skripsi dan thesis, ada paket tersendiri. Pokoknya dalam 1,5 tahun paket Magister bisa didapat, tentu dengan harga yang sudah disepakati. Praktek seperti inilah yang membuat inflasi pendidikan. Kuliah cuma formalitas.

Tapi sebenarnya inflasi pendidikan sudah dimulai sejak usia awal sekolah. Sistem pendidikan mulai dari TK sampai perguruan tinggi tidak memberi murid dan siswa menjadi kreatif. Bahkan sebaliknya, kreatifitas seolah dipasung di sekolah. Murid dan siswa mengikuti sekolah seperti robot. Yang penting guru sudah mengajar, murid naik kelas, kreatifitas dan budi pekerti itu soal lain, sekolah tidak ambil pusing.

Kalau inflasi pendidikan di negeri ini terus berlangsung, rasanya 50 tahun lagi pun, sulit membayangkan Indonesia menyamai negara lain. Haddoh…haddooohhhh….

One thought on “Steve Jobs vs Inflasi pendidikan

  1. Hmm..suatu gambaran pendidikan yang sangat memprihatinkan..
    Saya sangat setuju dengan terminologi yang anda pergunakan “inflasi pendidikan”
    Fakta-fakta yang anda sajikan terkait kualitas SDM, khususnya di lingkungan pemerintahan pada umumnya benar..
    Saya ingin melihat wajah pendidikan kita berevolusi, karena saya adalah salah satu contoh siswa yang kreativitasnya direnggut di dunia pendidikan. Kita dipaksa untuk mengikuti pola yang saudh fix serta tidak mentolerir adanya improvisasi serta inovasi sebagai buah pikiran dari siswa/i..
    Saya juga menginginkan adanya pembelajaran/pendidikan yang seimbang antara teori serta praktek. Jadi kita tidak melulu dicekcoki dengan teori, tetapi memberikan kesempatan bagi kita untuk memvisualisasikan, menyentuh serta berinteraksi dengan produk dari teori2 yang diajarkan.
    Terima kasih, anda sudah membantu memperkaya pengetahuan saya..

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s