Keakraban komunikasi

Minggu lalu, saya diundang oleh lembaga dimana anak saya sedang ikut bimbingan belajar (bimbel). Sekitar 15 orang orang tua siswa hadir di acara itu. Ada dua orang tua siswa, yang anaknya beberapa tahun lalu juga mengikuti bimbingan belajar di lembaga ini. Pengelola bimbel, Pak Tjondro, mengatakan bahwa ia masih menjalin komunikasi dengan eks siswanya yang sudah mahasiswa atau bahkan yang sudah tamat kuliah. Salah seorang dari ortu siswa yang anaknya dulu bimbel disana juga memberi testimoni, kalau anaknya masih berkomunikasi dengan pak Tjondro. Bagi saya, hubungan personal dengan mantan siswa itu adalah sesuatu yang menarik.

Dalam proses bimbel, yang maksimal berjalan setahun itu, nampaknya Pak Tjondro, tidak melihatnya semata-mata hanya bisnis, tapi juga hubungan baik, relationship, antara pengelola dan siswa serta orang tuanya. Tentu ada sesuatu yang terkesan (minimal), kalau tidak mau mengatakan istimewa, antara Pak Tjondro denga para siswa. Sampai-sampai mantan siswanya menyempatkan menelpon atau bertukar sms dengan Pak Tjondro, padahal sudah berjauhan beberapa lama.

Ternyata berkomunikasi lagi dengan orang yang pernah menjadi siswa kita atau pernah menjadi staf kita merupakan sesuatu yang menyenangkan. Apalagi kalau mantan staf masih memberikan respek dan penghargaan kepada kita. Saya juga merasakan keindahan berkomunikasi seperti Pak Tjondro. Ketika sedang mencek email, mata saya tertarik oleh kelap-kelip di yahoo, ternyata ada salah seorang mantan staf saya yang menyampaikan pesan lewat YM. Setelah ber halo ria, dia mulai mengatakan keluh kesah tentang kondisi di kantor belakangan ini. Saya bertanya kondisi apa yang membuatnya merasa tidak senang. Ada beberapa yang disampaikan, yang saya kira tidak perlu saya ungkapkan disini. Intinya sering persoalan kantor tidak bisa terselesaikan, dan malahan membuat staf menjadi bingung. Tapi kemudian mantan staf saya menuliskan sesuatu yang membuat saya merasa tersanjung. Inilah yang potongan chatting saya dengan mantan staf melalui YM:

lak***_w****at (Oct 21 1:13 PM):‎ kemaren jg kami rapat utk ukl-upl dari pt. t***u krn diminta utk kembali mengkaji oleh Propinsi krn dokumen UKL-UPL dianggap “tidak berisi/berbobot”
lak***_w****at (Oct 21 1:15 PM):‎ haduh.., seandainya bapak ada disini, senangnyaaa… :(
lak***_w****at (Oct 21 1:17 PM):‎ begitupun saat acara di Korea, wuah seandainya bapak ada disana pasti enak banget :)

Dengan sengaja saya ketik tanda (*) untuk menyamarkan nama mantan staf saya, karena saya belum minta ijinnya untuk memuat namanya dalam tulisan ini. Sebenarnya sewaktu di kantor lama, saya tidak terlalu sering berkomunikasi langsung dengan la***_w****at, karena secara struktural, ada atasan langsungnya, kemudian satu lagi atasan baru ke saya. Jadi secara tugas, saya tidak pernah memberi perintah atau arahan kepadanya, mesti lewat atasannya.  Jadi sewaktu  dia menulis seperti itu, saya merasa tersanjung juga. Saya kira dia mencoba mengungkapkan kegelisahan di kantor yang sudah saya tinggalkan itu, lalu mencoba membandingkan antara kondisi sekarang dengan dulu.

Sewaktu saya meninggalkan kantor lama, mereka sengaja mengadakan acara pelepasan, yang menurut saya sangat mengharukan. Saya tidak menduga respon staf yang demikian. Seingat saya, selama bekerja dengan mereka, saya menjalankan tugas dengan biasa-biasa saja. Kalau saya memotivasi mereka untuk bekerja lebih baik, saya kira itu sudah menjadi tugas dan kewajiban saya. Atau kalau saya menyelesaikan permasalahan dengan sebaik mungkin, itu juga adalah sesuatu yang harus saya lakukan.  Sebagai atasan mereka, saya merasa berkewajiban mebantu dan membimbing mereka.

Mungkin apa yang biasa-biasa saja seperti dulu itu, agak sulit mereka dapatkan sekarang, atau malahan menjadi sering bingung, itu mungkin juga. Mantan staf saya sampai mengeluh akan kondisi kantornya dengan berkomunikasi kepada saya. Memang sangat disayangkan, kalau sampai mereka merasa tidak jelas dalam bekerja. Tapi semoga itu hanya sementara dan segera menjadi lebih baik.

2 thoughts on “Keakraban komunikasi

  1. saya senang sekali membaca surat-surat dari Bapak, banyak sekali yang bisa saya ambil pelajaran dari pengalaman – pengalaman Bapak.

    Saya harap, Bapak tidak berhenti menulis pengalaman pribadi yang luar biasa ini.

    Terima kasih, salam sejahtera bagi kita semua, amin.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s