Di Jakarta mondok lagi

Urusan tempat tinggal di Jakarta rupanya bisa bikin repot. Ini yang saya alami ketika kembali bertugas di Jakarta tahun 2011 ini. Tahun 1987 lalu, ketika pertama kali bekerja di Jakarta, saya sempat menjadi penghuni asrama mahasiswa UI di Pegangsaan Timur. Asrama UI yang terkenal kereng & seram bagi mahasiswa baru itu sempat saya tinggali hampir 2 tahun. Di asrama itu ada Penguasa Pegete, sebutan bagi mahasiswa senior yang “menguasai” asrama. Kalau tidak kenal dengan salah satu penguasa pegete, jangan harap bisa tinggal di asrama UI Pegangsaan Timur. Karena saya mengenal salah satu penguasa pegete, maka walau bukan mahasiswa UI, saya bisa mondok 2 tahun di asrama yang punya kamar besar.

Sekarang saya bekerja di Jakarta lagi, urusan tempat tinggal jadi suatu hal yang harus dipertimbangkan baik-baik. Sebab kalau jarak tempuh antara tempat tinggal dengan tempat kerja cukup lama, selain menghabiskan banyak waktu dan enerji, tapi lama-kelamaan bisa melelahkan juga, fatigue. Sejak bekerja di Jakarta akhir Juni lalu, awalnya saya tinggal bersama anak saya Daniel di Bintaro, di rumah yang pernah saya tinggali ditahun 1989 sampai tahun 1993.

Waktu tempuh dari rumah di Bintaro ke kantor di pagi hari berkisar antara satu jam sampai satu setengah jam, padahal jaraknya hanya sekitar 15 kilometer. Itu kalau berangkat dari rumah antara jam 05.45 – 06.05. Kalau berangkat lewat dari jam itu, maka waktu tempuh itu akan jauh lebih lama. Nekat berangkat di sekitar jam 07.00, berarti waktu tempuh akan lebih dari 2 jam. Kalau pulang kerja di sore hari, waktu tempuh minimal satu setengah jam, tapi lebih sering hampir dua jam. Waktu tempuh selama dua jam itu dilalui dalam keadaan macet, artinya kendaraan lebih lama berhenti daripada berjalan. Kendaraan yang saya gunakan masih menggunakan transmisi manual, jadi di tengah-tengah kemacetan harus sering injak kopling. Dan secara fisik itu melelahkan.

Sewaktu mau pindah kerja ke Jakarta lagi, saya sudah meyakinkan diri saya, bahwa Jakarta memang kota macet, jadi tidak perlu mengeluhkan kemacetan. Saya mengatakan kepada diri sendiri untuk “menikmati” kemacetan Jakarta, dan hal itu mengurangi beban mental menghadapi lalu lintas Jakarta. Meski begitu, saya masih bercerita kepada kawan-kawan soal kemacetan itu, pada umumnya banyak kawan yang memaklumi, karena saya menjadi “pendatang baru” di kemacetan Jakarta.

Kawan saya, sebut saja Pak Ope, ternyata memahami kondisi itu, lalu pada suatu hari dia menawarkan sharing untuk menjadi room-mate nya yang jaraknya ke kantor cukup dekat. Dia menyewa dua kamar untuk dirinya sendiri, yang seharusnya dia cukup sewa satu kamar saja. Kalau dia sewa dua kamar, “jatah biaya sewa”  dari kantor sedikit dibawah harga sewa untuk dua kamar. Jadi ada selisih harga sewa yang harus ditambahkan kalau menyewa dua kamar. Pak Ope menawarkan saya tinggal di kamar yang dia sewa dengan menambahi selisih harga sewa dua kamar itu.  Waktu itu saya bilang terimakasih, saya masih mau tinggal dengan anak saya Daniel.

Setelah menjalani kemacetan Jakarta selama beberapa bulan, saya mulai merasa kelelahan dengan menghabiskan antara 3 – 3, 5 jam sehari dijalanan macet. Selama 4 bulan bekerja di Jakarta, saya menghabiskan 280 jam di jalanan macet, sementara bekerja hanya sekitar 640 jam, dan sekitar sekitar 700 jam tidur (termasuk di hari libur), karena rata-rata saya tidur dari jam 21.00 sampai jam 05.00 pagi. Saya mulai berpikir untuk mengurangi kelelahan fisik di jalanan macet. Dengan kondisi itu, saya kembali tanya Pak Ope, apakah tawaran dia beberapa waktu lalu masih berlaku. Dengan senang hati Pak Ope mengatakan, bahwa dia masih bersedia sharing kamar dengan saya. Dia berjanji akan segera mengatur menyewa dua kamar, karena ternyata belakangan dia sewa satu kamar saja.

Begitulah, setelah Pak Ope kembali menyewa dua kamar, saya pindah ke tempat Pak Ope di kawasan Jalan Kebon Kacang. Kamar itu cukup luas, Pak Ope menempati “master room“, dan saya menempati kamar kedua. Masing-masing kamar dilengkapi kamar mandi sendiri-sendiri. Diantara kedua kamar itu ada ruang duduk yang bersebelahan dengan dapur. Ruang duduk menghadap ke sebelah Barat, dilengkapi sofa dan televisi. Dapurnya cukup lengkap walau tidak terlalu luas. Ada stove dilengkapi oven, ada microwave, ada mesin cuci, dan tentu saja lemari dapur yang berisi piring gelas dan peralatan dapur lainnya. Bersebelahan dengan dapur masih ada ruang tidur dan ruang mandi untuk asisten rumah tangga.

Dari “pondokan” di Jl. Kebon Kacang, waktu tempuh ke kantor di jl. Kebon Sirih antara 10-15 menit, dan relatif lancar di pagi hari maupun sore hari. (Jadi dari kebon-ke kebon nih!).  Secara fisik, kelelelahan saya berkurang, biaya yang saya keluarkan untuk “menomboki” pondokan dua kamar itu cukup worthwile. Untuk sementara ini, tempat tinggal saya cukup baik. Terimakasih kepada Pak Ope yang sudah mau sharing. Kondisi jarak tempuh dari kantor ke “pondokan” seperti sekarang hampir mirip dengan waktu saya sharing dengan Uda G**n di asrama Pegete tahun 1987-1989 yang lalu. Kalau dulu saya ke kantor CPMO di Jalan Surabaya, hanya menempuh 5-7 menit dengan jalan kaki, sekarang dari “pondokan” di kawasan Kebon Kacang ke kantor di Kebon Sirih saya tempuh 10-15 menit dengan kendaraan.  Jarak tempuh yang demikian sebenarnya sangat berharga di kota Jakarta yang sangat hectic. Saya beruntung karena saya tidak perlu bayar terlalu mahal untuk manfaat yang saya dapatkan. Persamaan keduanya adalah, saya mondok lagi di Jakarta. Saya beruntung mendapat fasilitas pondokan tahun 1987 dan tahun 2011.

Thanks God for such great things!.

*****

Anyway, setelah di klik publish, ada notice bahwa posting ini adalah posting ke 777 yang sudah published di blog ini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s