Mengaudit kehidupan di momento mori

Image taken from Google

Kebanyakan orang tidak suka membicarakan kematian; padahal cepat atau lambat, suka atau tidak suka, semua orang akan menghadapi kematian. Ketimbang membicarakan kematian, barangkali lebih enak membicarakan kehidupan. Karena kehidupan adalah sisi lain dari kematian, jadi kalau bicara kehidupan, secara tidak langsung sebenarnya juga bicara tentang kematian. Bagi gereja-gereja Lutheran, minggu ketiga Nopember adalah minggu untuk mengenang orang-orang yang sudah meninggal, momento mori. Pada kebaktian minggu itu, akan diumumkan nama-nama orang yang meninggal pada tahun itu. Suasananya hening, malahan cenderung menyedihkan. Teringat akan orang-orang yang sudah pergi, dan memaknai bahwa kita juga akan menyusul mereka. Minggu keempat Nopember adalah minggu penantian, Advent.

Kawan saya, guru etos Jansen Sinamo, mencoba membuat audit kehidupan pada saat momento mori. Teman sekelas saya di TPB ITB itu menyebutkan sudah menulis sekian buku, ratusan artikel, dan ribuan jam berbicara di depan banyak orang tentang etos kerja. “Itulah audit hidupku” tulisnya di akun Facebook-nya. Saya sependapat dengan Sinamo bahwa setiap orang perlu membuat audit kehidupan masing-masing.  Perlu membuat hitungan debet-kredit; apa yang sudah diterima dari Sang Pemberi Hidup, dan apa yang sudah kita berikan pada orang lain. Meski audit kehidupan perlu, tapi yang lebih penting adalah penyerahan diri kepada Yang Kuasa.

Kalau kita mengaudit pribadi kita, jangan-jangan hasilnya adalah Tidak Memberi Pendapat” alias disclaimer, atau malahan masuk kategori “Tidak Wajar“. Dalam bidang audit, kalau hasil suatu audit dinyatakan disclaimer, artinya ada dugaan kuat terjadinya ketidak taatan terhadap aturan main. Apalagi kalau hasilnya “tidak wajar”, maka hampir dipastikan terjadi penyelewengan dan penyimpangan. Kalau dianalogikan dalam audit kehidupan, jika audit hidup kita hasilnya masuk katagori disclaimer atau malahan tidak wajar, maka  pertanggungjawaban kita kepada Pemberi Hidup menjadi beban yang sangat berat.

Semestinya audit kehidupan tidak dilakukan pada saat tertentu saja, tetapi setiap saat. Karena Sang Pemberi Hidup dapat “memutus kontrak kehidupan” kita secara sepihak kapan saja. Dia mempunyai otoritas mutlak akan masa berlakunya kontrak. Setiap saat kontrak kehidupan bisa dinyatakan terminated.  Jika kontrak itu sudah diputus, kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita tidak bisa menuntut klaim atau banding. Keputusan itu menjadi final, inkraht.

Ketidak mampuan untuk mengajukan “banding kehidupan” itu baru saja saya saksikan minggu lalu. Kantor kami mengadakan retreat ke Bogor Kamis (17/11) lalu, kegiatan itu merupakan evaluasi akhir tahun sekaligus persiapan tahun 2012. Atau bahasa kerennya, kami juga sebenarnya mencoba mengaudit pekerjaan kantor kami, semacam “momento mori” kantor.  Disepakati bahwa perjalanan ke Bogor akan dilakukan dengan beberapa kendaraan. Jadi keberangkatan ke Bogor tidak bersamaan.

Pak Syaiful berangkat ke Bogor dengan menggunakan kendaraannya. Ia mengemudikan sendiri dan ditemani oleh 4 orang lainnya di kendaraan itu. Mereka berangkat dari kantor sekitar jam 11 siang.  Sekitar jam 11.20 saya bergerak dari kantor menuju Bogor bersama Pak Iyus. Beberapa kawan masih di UI Depok menghadiri pengukuhan gelar Doktor teman mantan sekantor.

Saya mengendara dengan santai, karena tidak terburu-buru; jalan tol Jagorawi  ke arah Bogor tidak terlalu ramai. Selepas membayar tol di pintu tol Ciawi, Pak Iyus menerima telepon dari Elly yang satu mobil dengan Pak Syaiful. Dari apa yang saya dengar, rupanya Pak Syaiful dan kawan-kawan mengalami kecelakaan. Saya memperlambat kendaraan, sambil meminta pak Iyus menanyakan lokasi terjadinya kecelakaan. Awalnya karena masih panik, Elly tidak bisa menyebutkan lokasi dimana persisnya kecelakaan, setelah ditanya lebih detail, kemudian disebutkan bahwa mereka masih berada di jalan tol di km 46, sekitar 1 km dari pintu tol Ciawi ke arah Gadok. Untuk lebih memastikan, pak Iyus menelpon Sari, teman lain yang juga satu mobil dengan Elly, dan dengan itu saya yakin lokasi kejadian.

Selama pembicaraan di telepon itu, saya sudah keluar dari jalan tol ke arah Gadok, karena itu saya segera memutar balik menuju lokasi kejadian di jalan tol. Sebelum masuk pintu tol Ciawi, saya memutar di pemutaran darurat yang ada di dekat pintu tol Ciawi, dan menuju ke lokasi di km 46.

Begitu sampai di lokasi kejadian, saya mendapati sudah ada petugas polisi dengan mobil derek dari Jasa Marga. Di lokasi ada Sari dan Pak Wi. Pak Amat dan Elly sudah membawa Pak Syaiful ke rumah sakit Ciawi dengan mobil yang dihentikan di jalan. Saya lihat mobil pak Syaiful terjerembab ke pinggir jalan menabrak besi pembatas jalan tol. Ban sebelah kiri depan terlepas dan terbelah, kemungkinan as roda depan patah, bagian kiri body tergores keras ke besi pembatas jalan tol.

Pak Polisi memberitahu bahwa mobil akan segera di derek dan dipindahkan ke pos polisi di dekat pintu tol. Saya menyetujui dan segera meminta teman-teman memindahkan barang dari mobil yang rusak ke mobil saya. Lalu kami, Sari pak Wi, dan Pak Iyus segera menuju rumah  sakit Ciawi. Di perjalanan menuju rumah sakit, Sari menceritakan kronologis kecelakaan.

Menjelang pintu tol Ciawi, ban belakang mobil pak Syaiful terasa kempes, karena itu mobil diberhentikan untuk mengganti ban. Pak Syaiful sendiri yang mengganti ban. Selesai mengganti ban, pak Syaiful terlihat berkeringat dan lelah, kemudian Sari menawarkan minuman kotak dan untuk istirahat sebentar. Tapi pak Syaiful bilang tidak usah istirahat dan   langsung meneruskan perjalanan. Sejenak setelah melewati pintu tol, Pak Amat yang duduk di bangku belakang melihat bahwa arah mobil melaju semakin ke kanan. Pak Amat mengingatkan untuk mengendalikan mobil. Tiba-tiba terlihat Pak Syaiful pingsan saat mengemudi mobil yang melaju kencang….

Keempat penumpang yang lain menjadi luar biasa panik.  Mobil melaju kencang dengan pengemudi yang pingsan, suasana sangat mencekam.  Pak Amat minta Pak Wi yang duduk di kursi depan, untuk mengendalikan kemudi dan membalik ke arah kiri supaya mobil tidak menghantam beton median jalan. Karena panik, Pak Wi membelokkan ke kiri terlalu tajam sampai mobil keluar jalan. Mobil terasa seperti melompat.  Dalam keadaan bingung dan panik Pak Wi berusaha mengendalikan setir dan mengarahkannya kembali kejalan. Sebuah tiang rambu jalan ditabrak, tapi mobil masih berlari kencang. Pak Wi tidak dapat menginjak rem karena terhalang oleh tubuh pak Syaiful yang pingsan….

Sambil berteriak-teriak, Pak Amat meminta Pak Wi memegang setir dan mengarahkan ke bagian kiri jalan dan memepet besi pelindung jalan tol. Dalam keadaan mobil berlari kencang Pak Wi mempertahankan setir memepet mobil ke besi pelindung. Setelah lebih kurang 300 meter, mobil akhirnya berhenti, karena ban kiri depan menabrak apa saja yang ada dijalan. Mesin mobil segera dimatikan, dan mereka segera menyetop mobil yang lewat untuk membawa pak Syaiful ke rumah sakit. Sebuah mobil Avanza kemudian berhenti, tubuh Pak Syaifuk dipindahkan ke mobil Avanza, Pak Amat dan Elly mendampingi pengemudi Avanza membawa Pak Syaiful ke Rumah Sakit Ciawi.

Begitu saya tiba di bagian UGD Rumah Sakit Ciawi, Elly mengatakan bahwa Pak Syaiful meninggal diperjalanan menuju rumah sakit yang jaraknya hanya sekitar satu kilometer dari lokasi kecelakaan. Diduga mengalami serangan jantung. Saya menemukan tubuh terbujur, diam tak bergerak; padahal paginya Pak Syaiful masih bercanda di kantor. Sang Pemberi Hidup memutus kontrak kehidupan, terminated. Tidak ada tanda-tanda, tidak ada pesan, tak ada pemberitahuan. Begitu saja berakhir…

Saya terhenyak membisu. Sesaat saya memandangi tubuh terbujur yang sudah tidak bernyawa itu. Kalau sudah dipanggil Yang Kuasa, tak ada yang mampu menolak. Ketika sudah terminated, audit kehidupan sudah terlambat dilakukan, Sang Pencipta sudah memutuskan konsekuensi kehidupan dan kematian kita. Manusia harus mempersiapkan diri,  menyerahkan kehidupannya kepada Dia, Sang Maha Kuasa. Maka kalau kita berserah kepada-Nya, dan kemudian ketika sampai di titik termination kontrak kehidupan, kita akan bersama Dia.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s