Pingsan rebutan barang mainan

image taken from Google

Kalau orang rebutan zakat, sembako gratis, atau daging korban itu sudah biasa. Beberapa tahun lalu, pembagian zakat di daerah Jawa Timur mengakibatkan beberapa orang tewas terinjak-injak. Orang yang menunggu sangat banyak, dan pada saat pembagian dimulai, semua berebut untuk mendapatkan paling duluan. Begitu banyaknya orang berebut dan saling dorong, sebagian jatuh dan terinjak oleh massa yang banyak. Sejumlah orang tewas dan pingsan, massa berebut demi uang zakat yang dibagikan oleh Haji Saikhon di Pasuruan; zakat besarnya cuma Rp. 50.000. per orang. Uang sebesar itu bagian besar massa memang sangat berati, sehingga rela antri menunggu selama berjam-jam. Tapi kalau orang kaya berebut barang HP sampai beberapa orang pingsan, itu sudah keterlaluan.

Jumat hari ini, ketika sedang dalam perjalanan, saya mendengar berita radio yang sungguh memprihatinkan. Diberitakan bahwa hari ini di salah satu pusat pertokoan/perkantoran di kawasan Sudirman Jakarta, dilakukan penjualan perdana varian  terbaru dari smartphone produksi RIM Canada. Dalam rangka promosi, disediakan sebanyak 1000 unit produk smartphone tersebut dengan discount 50%. Promosi itu ternyata menarik minat banyak orang. Jadi kalau harga di pasaran saat ini disekitar 6 juta rupiah, maka pada promosi dan launching ini disediakan sekitar 1000 buah untuk pembeli pertama dengan harga sekitar 3 juta rupiah.

Dari segi promosi, strategi itu menarik minat banyak orang. Tapi sangkin banyaknya peminat, para calon pembeli antri dan dorong-dorongan. Menurut berita di radio Brava FM itu, beberapa orang pingsan, karena terjatuh di dorong-dorong. Polisi sampai harus turun tangan mengamankan situasi.

Saya jadi tidak habis pikir bagaimana kacaunya masyarakat kita. Orang yang mampu membeli smartphone seharga 6 juta itu sudah tentu orang yang berpunya. Meski di diskon 50 persen, kebanyakan orang belum bisa beli. Logika orang awam, orang berpunya akan lebih tertib membeli barang. Tapi logika orang awam itu ternyata sudah tidak berlaku. Nafsu egoisme dan keserakahan lebih didahulukan daripada ketertiban dan harga diri.  Orang berebut supaya mendapat lebih dulu dari orang lain. Mesti disiapkan petugas yang mengatur antrian, tapi massa rupanya sudah tidak peduli. Yang penting: “Aku duluan yang dapat diskon, orang lain EGP”; egoisme.

Kalau sudah begitu apa agi yang mau kita tulis tentang keserakahan manusia?.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s