Saxophone Dennis di perayaan Natal BPKP Jatim

Tidak mudah mengajak Dennis untuk tampil di depan umum, apalagi untuk diminta main saxophone. Sejak beberapa bulan terakhir Dennis belajar main saxophone, terutama setelah nonton pertunjukan live Kenny G di Surabaya. Maka untuk meyakinkan dia mau tampil di perayaan Natal BPKP Jatim tahun 2011, mamanya menyanggupi untuk mendampingi main keyboard. Karena itu sejak beberapa saat lalu, pasangan duet ibu-anak ini giat latihan membawakan lagu Ave Maria. Selama latihan keduanya lumayan seru, kadang saling ngambek, kalau ada yang keliru. Belum lagi membayangkan tampil didepan umum, mereka berdua sempat grogi. Tapi ya akhirnya, semakin dekat dengan hari-H, keserasian keduanya semakin mantap.

Sesungguhnya bagi Dennis dan mamanya Maya Situmeang, tampil berdua didepan publik adalah untuk pertama kalinya. Meski sebenarnya Maya pernah kursus piano semasa kecil, tapi permainannya selama ini hanya untuk kalangan terbatas, untuk keluarga saja. Dennis yang  sudah pernah menjadi juara-I piano di kategori kelasnya, jadi latar belakang pianonya sudah lumayan. Namun main saxophone bagi Dennis belum genap  setahun dia belajar, yaitu sejak melihat penampilan Kenny G bulan Nopember 2010 lalu di Surabaya. Nah jadi kalau pasangan ibu-anak ini sudah berani tampil di perayaan Natal BPKP tanggal 17 Desember 2011, itu adalah kemajuan yang sangat hebat. Lihatlah penampilan keduanya  di video yang diambil dari Youtube berikut ini.

Kalau sudah melihat penampilan yang begitu. Bagi saya, permainan pasangan anak dan istri saya itu sudah luar biasa. Itu adalah permainan yang memadukan kasih dan keakraban keluarga dalam memuliakan Tuhan. Congrats to Dennis and Maya, both of you are great!.

Selain main saxophone, Dennis menjadi pemandu lagu-lagu pujian kebaktian pada malam perayaan Natal BPKP Perwakilan Jawa Timur 2011. Pada awalnya Dennis agak ragu untuk menjadi pengiring pujian keyboard pada acara kebaktian, tapi setelah berkali-kali diyakinkan, Dennis akhirnya mau mendampingi kebaktian Natal dan  juga untuk mendampingi paduan suara BPKP Perwakilan Jatim.

Memainkan pujian Natal bersama jemaat BPKP Perwakilan Jatim

Malam itu, puji Tuhan,  Dennis tampil sukses mendampingi kebaktian, nyanyian Natal berkumandang dengan merdu dengan iringan permainan keyboard Dennis. Jadi lain kali Dennis sudah siap mengiringi jemaat di perayaan Natal atau mengiringi di gereja.

Paduan Suara karyawan dan karyawati BPKP Perwakilan Jawa Timur dengan Dennis di keyboard

Renungan Natal yang dibawakan oleh Bapak Pendeta.

Perayaan Natal malam itu bertema: “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan, telah melihat terang yang besar”. Tema itu diuraikan panjang lebar oleh bapak pendeta: “Kita akan kembali dari acara malam ini dengan hati yang berbeda”, kata pak pendeta.

Pak Ignatius dan Pak Victor menjadi worship leader.

Dennis juga mengiringi Pak Ignatius yang menyanyikan lagu “You Raise Me Up”, yang dipopulerkan Josh Groban. Pak Ignatius benar-benar menghayati lagu itu, serasa ia menjadi Josh Groban sungguhan. Padahal Pak Ignatius dan Dennis baru latihan beberapa menit sebelum acara Kebaktian Natal malam itu dimulai. Jadi wajarlah kalau keduanya sedikit “kejar-kejaran“.

Pak Thomas, Bu Tri dan Bu Wiwit menjadi song leader

Vokal group dari GKJW mengumandangkan pujian Natal secara atraktif

Jemaat mengikuti kebaktian dengan khidmat

Suasana kebaktian Natal

Didampingi Bp. Eddy Sapantri, Kepala Perwakilan BPKP Jawa Timur, Bp. Hotman Napitupulu,  menyerahkan “bakti kasih” kepada anak-anak panti asuhan dari Kembang Kuning, Surabaya.

Selamat Hari Natal & Selamat Tahun Baru !!!

Ladies Night of BPKP Jatim

Kita senyum untuk semua!

 “Aku siap main saxophone lagi Ma!”

Dennis and his Mam

Maya and her ex-boyfriend

Two chic-ladies

“I used to be young and cute too!”

Pak Ignatius, Bu Wiwit, Pak Thomas, Bu Maya, dan Pak Yohanes (ki-ka)

2 thoughts on “Saxophone Dennis di perayaan Natal BPKP Jatim

  1. Horas Amang,Saya bangga membaca Biografi yang ada di blog ini,Begitu saya baca”Togar Arifin Silaban; lahir di huta Lumban Silintong, Desa Silaban, Kecamatan Lintong Ni Huta, Humbang Hasundutan, pada tanggal 27 April.
    Tetapi,setelah saya baca sampai ke akhir tulisannya,kebanggaan saya jadi sirna.kenapa ya,,,diam…diam…dan diam seribu bahasa.kenapa tidak ada yang bersinggungan dengan marga silaban program apa yang di buat di lumban silintong,apakah cukup untuk identitas kelahiran saja dan mungkin kalau sudah meninggal di butuhkan lagi lumban silintong.
    Mudah-mudahan persepsi saya ini salah,tetapi itulah kenyataannya kalau menelaah biografi Amang.

    Like

  2. @: Rajahuta: Terimakasih anda sudah mampir di blog ini, terlebih lagi sudah memberi komentar.

    Saya akui bahwa secara langsung saya belum berbuat apa-apa terhadap tanah kelahiran saya. Keinginan itu tentu selalu ada, saya menaruh hormat pada para leluhur dan tanah kelahiran. Bagi saya jauh lebih penting dapat berbuat sesuatu yang berarti bagi orang lain, tidak memandang apakah itu dari daerah kelahiran atau bukan.

    Seandainya saya dilahirkan di Trenggalek Jawa Timur, atau Timika, Papua, atau bahkan di California, Amerika, saya tetap Silaban. Saya pikir jauh lebih baik bersama dengan banyak orang dibelahan bumi manapun. Apalagi bisa memberi inspirasi kepada orang, itu jauh lebih berarti. Tanah kehidupan adalah bumi manusia yang memerlukan banyak perhatian dan curahan kasih. Saya melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya, itu memang belum cukup. Semoga saya bisa memberi inspirasi kepada banyak orang.

    Mauliate di hamu Rajahuta. Horas jala gabe.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s