Dari “Little Rock Nine” ke Taman Yasmin

Image taken from Google

Diskriminasi rasial dan ketidakadilan merupakan bagian dari sejarah Amerika. Perjuangan panjang kaum minoritas kulit hitam Afro-Amerika untuk membela hak-hak mereka mendapat perlawanan kaum mayoritas kulit putih. Banyak catatan sejarah yang menorehkan perjuangan itu. Banyak sekali korban yang jatuh untuk melawan penindasan kaum mayoritas. Salah satu milestone penting dalam sejarah itu adalah peristiwa yang disebut Little Rock Nine. Kejadian di bulan September 1957 adalah ketika 9 calon siswa akan mendaftar ke Central High School di Little Rock, ibu kota negara bagian Arkansas. Kejadian mirip diskriminasi rasial Little Rock Nine di Amerika, ada juga di Indonesia, di Taman Yasmin Bogor.

Pada tahun 1956, Mahkamah Agung Amerika memutuskan bahwa Central High School Little Rock harus menerima siswa baru berkulit hitam. Keputusan itu adalah hasil perjuangan para pejuang anti rasial di Amerika. Mahkamah Agung Amerika telah memenangkan gugatan warga kulit hitam, sehingga diperbolehkan sekolah di sekolah umum. Tertapi mayoritas penduduk kulit putih tidak rela dengan keputusan Mahkamah Agung tersebut. Gubernur negara bagian Arkansas pada saat itu Orval Faubus merupakan salah satu yang tidak senang dengan putusan hukum yang sudah final itu. Atas dasar putusan Mahkamah Agung tersebut, sembilan orang calon siswa berkulit hitam merencanakan mendaftar sebagai murid baru pada tahun ajaran baru pada awal September 1957.

Mengetahui bahwa ada semilan orang calon siswa kulit hitam mau mendaftar, para pendukung rasialisme (mereka menyebut diri “segregation“) berdemo memblokir jalan masuk ke Central High School. Mereka menolak pendaftaran 9 siswa kulit hitam masuk kesekolah itu. Gubernur, Orval Faubus menolak keputusan Mahkamah Agung Amerika dan membela pihak yang menolak warga kulit hitam untuk memasuki sekolah menengah Central High School. Faubus bahkan memerintahkan polisi negara bagian untuk memblokir sekolah sehingga warga kulit hitam tersebut tidak bisa masuk untuk mendaftar. Dalam keterangan resminya, Faubus mengatakan bahwa pengerahan polisi negara bagian tersebut adalah untuk menghindari pertumpahan darah. Tapi kenyataannya Faubus menentang pendaftaran ke 9 siswa berkulit hitam di Central High School. Gubernur Faubus tidak mengindahkan keputusan Mahkamah Agung Amerika.

Presiden Dwight D Eisenhower mengambil tindakan tegas, Eisenhower mengambil alih polisi negara bagian dan memerintahkan 1000 tentara ke Little Rock untuk mengamankan pendaftaran siswa kulit hitam. Presiden turun tangan menegakkan keputusan Mahkamah Agung yang memerintahkan agar siswa kulit hitam tidak didiskriminasi dan boleh sekolah di sekolah umum Central High School di Little Rock. Tindakan Eisenhower di tahun 1957 itu merupakan penegasannya terhadap penegakan hukum. Ketegasan Presiden Eisenhower itu menjadi tonggak sejarah penghapusan diskriminasi rasial di Amerika. Akhirnya kesembilan siswa itu diperbolehkan mendaftarndi Central High School, meski setiap hari mereka selalu diejek dan dihina oleh para siswa kulit putih. Untuk menghargai dan menghormati perjuangan ke 9 siswa itu, dibangunlah patung mereka didepan Central High School, seperti pada foto diatas.

Ulil Abshar Abdalla membandingkan Eisenhower dengan pemimpin negeri ini melalui sebuah tulisan. Ulil menjelaskan tentang tindakan hukum yang dilakukan oleh Presiden Amerika, ketika ada warga Afro-Amerika yang didiskriminasi oleh Gubernur Negara Bagian Arkansas Orval Faubus. Ulil Abshar Abdalla mengatakan bahwa persoalan Little Rock Nine mirip dengan persoalan GKI Taman Yasmin Bogor. Keputusan Mahkamah Agung tidak dilaksanakan oleh Kepala Daerah. maka Presiden Amerika mengambil tindakan tegas, tapi Presiden Indonesia tidak melakukan tindakan apa-apa untuk menegakkan keputusan Mahkamah Agung.

Ibu Pendeta berkhotbah di trotoar dengan latar belakang mobil polisi yang sengaja diparkir menutup pintu GKI Yasmin. (Gambar diambil  tanpa ijin dari Album Eliap Lumbantoruan). Secara visual gambar diatas sungguh tidak pantas, seorang Pendeta memimpin ummat beribadah di trotoir, sementara dua mobil polisi menghadang pintu masuk ke gedung gereja, supaya ummat tidak boleh masuk ke pekarangan gereja yang diblokir oleh Walikota Bogor Diani Budiarto. Gereja dibiarkan kosong melompong di belakang ibu pendeta, tidak boleh dimasuki, karena ibadah dianggap meresahkan warga sekitar.

Mahkamah Agung RI telah memerintahkan Walikota Bogor, Diani Budiarto untuk mencabut pembekuan IMB GKI Taman Yasmin. Tapi Walikota Bogor tetap tak peduli dengan putusan MA yang sudah final. Ombudsman juga mendukung keputusan Mahkamah Agung. Diani Budiarto tetap tidak bergeming. Seorang pejabat negara melawan keputusan final lembaga Yudikatif tertinggi di negeri ini. Dalam tulisannya, Ulil Abshar Abdalla menyayangkan kenapa pemimpin Indonesia tidak meniru ketegasan Presiden Eisenhower dalam menegakkan hukum.

Tindakan Walikota Diani Budiarto melawan putusan Mahkamah Agung RI, mirip tindakan Gubernur Orval Faubus yang melawan putusan Mahkamah Agung Amerika. Seperti halnya Faubus, Diani Budiarto berdalih bahwa pembekuan IMB GKI Taman Yasmin adalah untuk mencegah tindak kekerasan. Sayangnya Presiden SBY tidak seperti Presiden Eisenhower. Kalau Eisenhower menegakkan putusan MA Amerika, Presiden SBY sampai saat ini tidak menegakkan putusan MA RI. Kalau mau, Presiden SBY dapat memanggil Walikota Diani Budiarto ke istana dan meminta pertanggung jawabannya, seperti yang dilakukan oleh Eisenhower yang memanggil Faubus ke Washington DC. Yudhoyono memang bukan Eisenhower.

Tuntutan terhadap jemaat GKI Taman Yasmin disebutkan bahwa keberadaan gereja dan jemaat itu “meresahkan” warga sekitar.  Saya tidak mengerti logika apa yang dipakai untuk menyebutkan bahwa kebaktian dan keberadaan gereja itu menjadi meresahkan. Siapapun tau kalau GKI atau bahkan semua umat Kristen di Indonesia adalah kaum minoritas. Sebagai kaum minoritas, umat Kristen tau dan sadar betul bahwa kegiatan jemaat Kristen tidak boleh mengganggu ketertiban umum. Orang Kristen Indonesia benar-benar memahami keberadaan minoritas-nya dan mengerti dengan sesungguhnya arti meresahkan. Dan sepanjang sejarah GKI, saya yakin jemaat GKI belum pernah melakukan tindakan yang meresahkan.  Jadi tidak masuk akal, kaum minoritas GKI dituduh akan melakukan kegiatan yang meresahkan masyarakat umum di Taman Yasmin. Mereka cuma mau beribadah, membimbing dan mendidik anak-anak  mereka untuk menjadi warga Indonesia yang baik, mengenal dan berbakti kepada Tuhan. Mereka tidak terpikir untuk melakukan tindakan yang meresahkan.

Maka kita akan terus mendengar Suara lirih anak-anak GKI Yasmin seperti dilukiskan oleh Agnes Hening Ratri di Blog Berita Satu. Agnes mengisahkan bagaimana perasaan dan upaya ibu-ibu untuk membawa anak-anak mereka ke Sekolah Minggu GKI Taman Yasmin. Anak-anak sekolah minggu ingin beribadah mendengarkan ajaran Tuhan yang akan membimbing hidup mereka. Tapi mereka menyaksikan, ibadah mereka, anak-anak kecil itu harus dilakukan di trotoir, dinaungi tenda seadanya dan dijaga polisi pula. Bogor yang sering diguyur hujan, menjadi pelengkap penderitaan anak-anak sekolah minggu itu.  Pendidikan apa yang didapat anak-anak yang masih polos itu dari kondisi yang mereka rasakan dan saksikan. Apa yang akan dikatakan anak-anak itu melihat keangkeran orang-orang yang mengintimidasi mereka ketika anak-anak kecil itu melakukan sembahyang dan berdoa kepada Tuhan.

Anak-anak itu diajar dan dididik untuk mengasihi sesama manusia, tapi orang-orang berwajah garang memaki dan menghardik ketika mereka tengah berdoa kepada Tuhan di trotoir.

Inikah Indonesia yang menghormati dan saling mengasihi?

Ya Tuhan, ampunilah kami manusia berdosa ini.

One thought on “Dari “Little Rock Nine” ke Taman Yasmin

  1. Di Majalah Tempo edisi 30 Januari – 5 Februari 2012, halaman 21: GKI Yasmin Masuk Catatan Dunia. Persoalan GKI Taman Yasmin Bogor masuk dalam laporan dunia HUman Rights Report 2012 sebagai “Events of 2011”.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s