Pembodohan massa melalui bahasa

Sejatinya bahasa dapat mencirikan karakter dan kepribadian, maksudnya kemampuan dan ketrampilan orang berbahasa bisa menunjukkan seperti apa karakter dan kepribadian seseorang. Kalau seseorang berbicara secara serampangan dan tidak beraturan, bolak-balik, membingungkan serta pemilihan kosa kata yang “asal bicara”, hal itu bisa menjadi indikasi bahwa orang tersebut sedang mengalami ketidakteraturan emosi kehidupan. Saya tidak mengatakan bahwa orang yang kacau kepribadiannya akan berbahasa secara berantakan, bukan. Tetapi cara orang berbahasa secara verbal maupun dengan gerak tubuh bisa mengindikasikan kondisi kepribadian seseorang.

Ada orang yang ketika berbicara menggunakan pilihan kosa kata yang santun, dan struktur kalimat secara runtut, itu indikator bahwa orang tersebut terstruktur pemikirannya, dan kemungkinan besar kepribadiannya memang baik.  Tetapi ada juga ada orang yang sebenarnya kepribadiannya tidak baik, tapi berusaha terlihat baik. Meski berusaha berbahasa secara baik, benar, dan santun; tetapi selang beberapa saat bahasa tubuh dan kalimatnya tidak mampu menutup-nutupi kepribadian buruknya sehingga muncul pilihan kata, ungkapan, atau struktur kalimat yang tidak baik.

Kalau kita perhatikan foto diatas, ekspresi wanita itu bisa memberikan pengertian ganda. Boleh jadi ekspresi yang demikian menggambarkan bahwa si wanita sedang merasa bersalah karena melakukan kecerobohan. Tapi ekspresi itu bisa juga diartikan bahwa ia dalam perasaan malu. Atau bahkan profil yang demikian bisa juga diartikan bahwa ia sedang berbohong. Ekspresi suasana hati dan keadaan seseorang yang digambarkan melalui aura wajah seperti itu bisa mempunyai makna yang sangat banyak. Kalau hanya melihat sebuah foto, ekspresi wajah seseorang bisa sangat beragam dan tidak mudah ditebak. Tapi jelas bahwa ekspresi wajah seperti itu menunjukkan kondisi tertentu tentang apa yang dirasakan pada saat itu.

Bahasa verbal dan bahasa tubuh bisa diatur sedemikian rupa untuk menunjukkan suatu citra tertentu yang diinginkan. Aktor dan aktris adalah orang-orang yang bekerja secara profesional untuk mengatur penampilan bahasa tubuh dan bahasa verbal untuk suatu lakon yang ditentukan. Untuk mereka yang bekerja dibidang ini, sudah tentu bahasa dalam acting mereka tidak ada hubungannya dengan kepribadian dan karakter sesungguhnya dari si aktris atau si aktor. Jadi kalau Deddy Mizwar terlihat nyentrik dalam Nagabonar, dalam kehidupan sehari-harinya, Deddy bukan seperti jenderal Nagabonar. Pada kenyataan yang sesungguhnya Jenderal nyentrik Nagabonar itu bukan kepribadian Deddy Mizwar.

Sayangnya akhir-akhir ini sering terjadi kerancuan yang disengaja untuk mengaburkan pengertian dari suatu permasalahan. Sejumlah media (terutama televisi) menyajikan pembodohan melalui bahasa yang digunakan oleh sejumlah orang yang sering muncul di televisi. Sejumlah elit politik mempertontonkan pengrusakan dan merancukan terminologi  bahasa.  Betapa tidak, para elit itu membuat pernyataan yang saling bertentangan untuk suatu persoalan. Bagi orang awam dengan mudah menilai bahwa salah satu (atau lebih) dari pernyataan yang bertentangan itu mesti ada yang salah, alias bohong. Bahkan para elit secara vulgar saling mengatakan bahwa dialah yang benar, dan pihak lain salah. (Untuk membuktikan hal itu, cobalah perhatikan acara di salah satu stasiun televisi pada setiap hari Selasa malam mulai jam 19.30)

Yang lebih konyol ada suatu kelompok yang membuat suatu pernyataan, tetapi ada anggota kelompok itu sendiri yang nyata-nyata mengatakan didepan umum bahwa pernyataan kelompoknya adalah salah. Contoh lain seorang elit, katakanlah si Pandir (bukan nama sebenarnya), pada suatu saat membuat pernyataan, tapi tidak berapa lama, si Pandir  dengan enteng mengatakan bahwa pernyataannya beberapa saat sebelumnya adalah tidak benar. Seolah-olah orang lain sudah tidak tau atau sudah lupa dengan pernyataan-pernyataan si Pandir sebelumnya. Bahasa yang digunakan si Pandir dijungkir balikkan sesukahatinya. Dengan sengaja orang-orang seperti si Pandir (dan koleganya) membuat pernyataan yang saling bertentangan atas suatu fakta atau keadaan yang sama.

Masyarakat awam sebenarnya tau dan memahami bahwa si Pandir (dan kawan-lawannya) sama-sama tidak jujur dan berbohong.  Untuk mengerti kebohongan si Pandir dan kawan-lawannya, orang tidak memerlukan pengetahuan yang luas dan dalam. Kita dengan mudah menilai, bahwa para elit itu mempertontonkan sandiwara murahan. Orang awam sebenarnya sudah muak dan bosan dengan sandiwara seperti itu. Tetapi para produser acara di stasiun televisi terus menerus menyajikan suguhan penjungkir balikan terminologi dan bahasa melalui sandiwara murahan tersebut. Dalam jangka waktu tertentu penayangan acara polemik di televisi yang berlangsung terus-menerus bisa menyebabkan inflasi terminologi bahasa yang berujung pada pembodohan massa.

Inflasi bahasa yang terus menerus bisa membahayakan karena dapat merubah persepsi orang tentang terminologi yang benar. Kalau secara berkesinambungan orang dijejali dengan terminologi yang salah, lama kelamaan orang bisa menganggap pernyataan dan pengertian yang salah itu sebagai suatu kebenaran. Disinilah kesalahan besar  orang-orang si Pandir (dan kawan-lawannya) yang membenarkan hal yang salah untuk tujuan yang sempit. Sebenarnya kelompok si Pandir (dan kawan-lawannya) ini adalah iblis yang menjerumuskan masyarakat. Karena itu kejahatan mereka harus dicatat, kemudian dihukum dan tidak boleh ditolerir. Pencatatan kesalahan penting, supaya pembodohan oleh si Pandir dan kawan-lawannya tidak terulang dikemudian hari.

+++

Image diambil dari Google

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s