Sydney, I’m coming

Tidak seperti yang saya bayangkan bahwa QF42 Qantas akan take-off on time jam 20.20 sebagaimana skedul, ternyata QF42 (bound to Sydney) juga delayed sekitar 30 menit. Padahal boarding announcement sudah dimulai 19.15. Entah kenapa si burung besi baru bisa mengangkasa sekitar jam 20.55. Sudah menjadi kebiasaan saya sulit tidur di perjalanan, jadi kali ini, karena terbangnya sekiat 7,5 jam, saya memerlukan bantuan obat tidur kelas ringan dengan harapan bisa sedikit istirahat diperjalanan.

Mungkin karena sudah capek atau memang obat itu mulai bekerja, saya mulai merasakan kantuk, tapi rasanya masih bisa mendengar suara mesin pesawat. Sesaat agak mulai enak tidur, tau-tau dibangunin oleh colekan pramugara:

“Excuse me sir, do you prefer chicken or fish”?

Ya tentu saja kemudian saya pilih ikan. Seperti biasa makanan di pesawat, nasi dengan ikan diberi saus dan beberapa potong brokoli dan potongan jagung muda, ada juga dessert yang manis-manis. Setelah menghabiskan inflight dinner itu, saya mencoba menutup mata dengan harapan bisa tidur lagi. Lagi-lagi sulit juga untuk terlelap, akhirnya saya hidupkan monitor di depan saya, dan memilih-milih film untuk ditonton. Akhirnya pilihan saya jatuh pada film “Iron Lady” yang dibintangi Meryl Streep. Tidak saya sampai setengah film, saya kembali menutupkan mata mencoba untuk tidur. Antara tidur-tidur ayam dan setengah tidur, saya merasa tetap bisa mendengar suara mesin pesawat menderu ditengah malam.

Ditengah “menikmati” deruman pesawat, saya kembali dibangunkan suara-suara pramugari yang sibuk menawarkan makanan ringan untuk inflight breakfast. Ternyata sudah hampir jam 6 pagi (waktu Sydney). Pesawat dijadwalkan akan touch-down di Sydney jam 07.35, jadi sarapan pesawat itu memang disajikan ketika pesawat sudah hampir mendarat. Dan benar saja, pesawat menyentuh landasan sekitar jam 07.35. Sambil menuju tempat parkir, pilot mengumumkan bahwa system computer imigrasi mengalami gangguan, sehingga antrian di depan loket imigrasi sudah cukup panjang.

Perjalanan kami masih harus naik pesawat lagi ke Canberra, jadi dari terminal kedatangan internasional, kami harus menuju terminal keberangkatan domestik yang berada diseberang terminal internasional. Landasan pacu airport Sydney berada di tengah-tengah diantara terminal domestik dan terminal internasional. Untuk sampai ke terminal domestik, kami harus keluar terlebih dulu dari terminal kedatangan internasional, kemudian menuju loket terminal domestik. Setelah menunjukkan bording pas, penumpang transit dibawa dengan bus ke terminal keberangkatan domestik.

Inilah kedatangan saya pertama kali ke Sydney, yang Cuma berjalan di lorong-lorong terminal internasional ke terminal domestick Pesawat kami baru akan terbang ke Canberra jam 11.00, jadi kami masih harus menunggu di keberangkatan terminal domestik. Di sepanjang ruang keberangkatan terdapat took-toko dan restoran. Pintu keberangkatan pesawat kami ke Canberra ada di Gate-17, jadi saya dan teman-teman mencari restoran di dekat gate 17.

Disana ada restoran Wok yang menyediakan makanan ala continental. Saya memesan nasi Thai, yaitu nasi dengan sayuran dan potongan daging ayam yang dimasak ala masakan Thai, tapi mirim cap-cay. Pesanan saya harus dimasak dulu, setelah saya membayar, kasir restoran memberi sebuah alat seperti dibawah ini.

Selang berapa lama, alat itu berbunyi dan bergetar, yang menandakan bahwa makanan saya sudah siap dan saya harus mengambil sendiri ke loket kasir. Jadi tidak ada pelayan yang akan mengantarkan makanan kita. Namanya saja Thai Rice, tapi rasanya sudah campuran antara lidah Australia dengan rasa bumbu Thai, tapi mau apa lagi itulah hasil percampuran berbagai budaya di Australia.

Sekitar jam 10 an kami menuju ruang tunggu Pintu-17, yaitu pintu ke pesawat QF1473 yang akan membawa kami ke Canberra. Pengumuman boarding jam 10.30, kami menuju “belalai” yang ada di Gate-17, dan berujung di sebuah pesawat baling-baling berkapasitas sekitar 60 penumpang dengan dua orang pramugari. Petugas yang memeriksa boarding pass di Gate-17, ternyata adalah pramugari yang menyertai penerbangan kami ke Canberra. Sedemikian efisien menggunakan tenaga kerja sehingga pramugari juga merangkap tugas menjadi pemeriksa boarding pas di gate 17. Inilah Sydney, yang untuk pertama kalinya saya kunjungi, dan Cuma berada di terminal penumpang bandara.

This is it, Sydney, I’m coming.

****

Foto-foto baru bisa diupload setelah di Jakarta

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s