Angkot Simatupang di Canberra

Salah satu bidang usaha yang sering digeluti oleh masyarakat Batak adalah transportasi perkotaan. Sudah lazim diketahui di beberapa kota besar di Indonesia bahwa banyak orang Batak yang terjun ke bidang transportasi ini, atau yang lebih dikenal dengan “Angkutan Perkotaan” alias Angkot. Naluri bisnis masyarakat Batak di bidang ini rupanya cukup tajam. Banyak orang Batak yang merantau dari Bona Pasogit ke Jakarta, Bandung, atau Surabaya yang menjadi pengemudi angkot dan bahkan menjadi pemilik armada angkot. Rupanya “bisnis angkot” orang Batak tersebut sampai juga ke Canberra, Australia.

Begitu tiba di bandara Canberra, rombongan kami yang sebanyak 10 orang sudah di jemput oleh Adek Rendra, mahasiswa S3 di University of Canberra. Penjemput yang lain ialah ito Nella boru Aruan, ditemani oleh anaknya Samuel Sianturi. Wanita Batak, yang nama lengkapnya Daniella Aruan, ini sedang mengikuti pendidikan Doktor (S3) dibidang Public Performance Management di Australia. Dia dikirim oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan beasiswa dari Kemdikbud. Sementara Adek Rendra juga merupakan mahasiswa program Doktor dari Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan.

Panitia yang menjemput kami sudah menyiapkan “micro bus” 11 seater, sehingga kami semua bisa masuk sekaligus kedalam “Angkot Australia” itu. Tetapi karena kapasitas angkot itu memang cuma untuk 11 penumpang, maka sipengemudi yang bernama Jim harus membawa kereta gandengan untuk tempat koper-koper kami.

Jim, si sopir angkot Canberra membawa kami ke Hotel Clifton yang berlokasi di daerah jantung kota Canberra. Hotel yang berlokasi di 100 Nothbourne Avenue ini memang sudah dipesan untuk rombongan kami. Setelah istirahat sejenak, kami sepakat mencari makan siang di Canberra Center, yang jauhnya berjarak sekitar 7 menit jalan kaki dari hotel tempat kami menginap. Di kompleks pertokoan ini, terdapat toko, perkantoran, restoran dan supermarket Supabarn. Di supermarket ini, kantong plastik harus dibeli seharga 5 sen dollar per buah.

Pada hari kedua ketika selesai dari briefing di University of Canberra, dan kami kembali menggunakan Angkotnya Jim, barulah saya perhatikan kalau mobil angkot yang disupiri Jim ternyata milik seorang putra Batak yang bermukim di Canberra bermarga Simatupang. Tulisan R. Simatupang jelas terpampang di pintu mobil sebelah kanan seperti foto dibawah ini.

Saya bertanya kepada Jim bagaimana ceritanya mobil yang dia bawa ada tulisan R. Simatupang. Menurut Jim, mobil yang diawakinya itu memang milik Mr. Simatupang, putra Batak ini konon sudah lama merantau ke lama ke Canberra. kata Jim, Mr. Simatupang menikah dengan orang British Australia, dan punya 3 orang putri. Dia punya 5 unit kendaraan angkot Australia ini. Ketika saya tanya bagaimana prospek bisnis taxi alias angkot di Canberra, Jim bilang, sepertinya marginnya sangat kecil. Apalagi kalau musim parlemen cuti, maka kegiatan di Canberra sangat sepi. Tapi meski margin kecil, rupanya ada kepastian usaha, sehingga Simatupang sampai bisa punya 5 unit angkot.

Ito Nella boru Aruan, juga rupanya belum tau kalau dia punya dongan tubu yang jadi pengusaha angkot di Canberra. Suami Nella br. Aruan bermarga Sianturi, yang merupakan kelompok marga Simatupang. Saya surprise juga menemukan angkot Simatupang di Canberra. Orang Batak memang punya bakat bisnis angkot yang tajam.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s