Opera House dan Sydney Harbor Bridge

Berkunjung ke Australia tanpa mampir ke Opera House tentulah belum lengkap. Sama halnya kalau pergi ke Cina, tapi tidak mengunjungi The Great Wall. Karena itu, sehabis jalan-jalan di sekitar Myers di dekat gereja St. Mary, saya menuju ke Opera House. Sudah capek berjalan kaki, maka untuk meringankan kepegalan, saya menggunakan bus yang langsung menuju Opera House. Kami segera menuju perhentian bis, dan tak lama sebuah bis kota berhenti dan kami naik.

Pak supir yang kelihatannya sudah berumur 50 an dengan ramah menyapa sambil bertanya:

“Why do you waste your money by taking this bus, while you can take the free bus?”.

“It is okay, we in a hurry”, jawab kami.

Biasanya supir bis di Jakarta akan memanggil-manggil supaya calon penumpang menaiki bisnya, tapi supir bis di Sydney ini malah menyuruh menunggu bis gratisan yang memang tersedia di Sydney. Tidak lama, bis berhenti di perhentian dekat Opera House. Saya turun dari bis dan berjalan mengikuti arus pejalan kaki yang pada umumnya menuju Opera House.

Di bawah jembatan kereta di pelataran menuju Opera House, pemain sirkus jalanan sedang menunjukkan kebolehan menghibur orang-orang yang sedang lewat. Ternyata untuk benar-benar sampai ke gedung Opera House, pengunjung harus berjalan kaki sekitar 500 meter. Di sepanjang koridor menuju bangunan Opera House banyak restoran dan bar dimana orang bisa menikmati pemandangan Opera House di satu sisi dan kemegahan Sydney Bridge di sisi yang lain.

Pemain sirkus jalanan mempertontokan kebolehannya kepada orang-orang yang lewat.

Saya menyempatkan berfoto di pelataran yang cukup strategis untuk melihat jembatan dan gedung Opera House. Para pengunjung yang lain juga melakukan hal yang sama.

Kemegahan Opera House dengan atap putih yang terbuat dari sejenis marmer. Dari kejauhan, tidak terlihat bentuk marmer yang menutupi gedung ini.

 

Jembatan Sydney Harbor yang sering dinaiki orang. Tarif untuk naik menguji nyali ke atas jembatan sekitar 170 dolar australia alias lebih dari 1,5 juta rupiah sekali naik.

Di bagian dalam Opera House, struktur atap yang didukung oleh cetakan beton dengan permukaan halus tanpa dipoles, dilengkapi dengan variasi ornamen berwarna seperti kayu.

View dari arah Opera House ke arah lain, dimana bar dan restoran menyediakan makanan dan minuman kepada para pengunjung.

Dari kiri ke kanan: Dadang (BPKP), Ria (Kemenkes), Togar (Setwapres), Syuhadak (BPN), Asti (Bappenas), Pat (Kemendikbud), Adi (LAN) dan Asep (KemenPU). Sementara bu Murfi (Kemenkeu) dan bu Nafta dari (KemenPAN), sudah lebih dulu ke toko suvenir.

 

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s