Akal-akalan kontes “World Mayor Prize” ala “Indonesian Idol”

Satu lagi akal-akalan menjanjikan popularitas mulai ramai diperbincangkan orang. Adalah “City Mayor Foundation” yang membuat daftar panjang (longlist) kandidat walikota dari seluruh dunia untuk diberi gelar “World Mayor Prize”, BUKAN sebagai “Walikota terbaik dunia”. Saya perlu menegaskan ini, karena beberapa media lokal keburu menyebutnya sebagai calon “walikota terbaik dunia”, padahal bukan demikian yang dimaksudkan oleh penyelenggara “World Mayor Prize“. Dalam “longlist” yang dikeluarkan oleh penyelenggara, ada 3 orang dari Indonesia yang masuk nominasi, yaitu Gubernur Sulawesi Selatan, Syahrul Yasin Limpo, Walikota Solo, Joko Widodo, dan Walikota Surabaya, Tri Rismaharini. Entah bagaimana, gubernur Sulawesi Selatan, dimasukkan alias turun pangkat menjadi kategori Walikota.

Awalnya saya melihat “running text” di salah satu stasiun TV yang menyebutkan bahwa Jokowi dan Tri Rismaharini masuk nominasi sebagai “walikota terbaik dunia”. Lalu saya menemui “Oppu Google” untuk mencari tau informasi lebih lanjut tentang informasi itu, seperti biasa, si Google memberi informasi sebanyak yang kita mau. Benarlah dalam website worldmayor.com ada longlist yang menyebut ketiga orang tadi. Tapi sayangnya sipenyelenggara yang menyebut dirinya sebagai City Mayor Foundation, sudah membuat kesalahan dalam menyusun longlist.

Dalam ketentuan untuk menyusun longlist disebutkan bahwa mereka yang masuk dalam longlist adalah walikota yang menjabat pada periode kedua. Lengkapnya saya kutip dari situsnya yang ditulis sebagai berikut: While it is up to the constituents of a mayor to judge his / her achievements, the City Mayors Foundation is seeking candidates who are at least in their second term of office.”

Kenyataannya salah satu daftar dalam longlist yang disusun sudah tidak memenuhi kriterianya. Walikota Surabaya, Tri Rismaharini dilantik untuk pertama kalinya menjadi walikota pada tanggal 28 September 2010. Risma baru menjabat pada periode pertama, dan baru menjabat sekitar 1,5 tahun. Semestinya Risma tidak memenuhi syarat masuk dalam longlist, jadi “City Mayor Foundation” sudah salah menyusun longlist, karena jelas-jelas disebutkan harus walikota yang menjabat pada periode kedua.

Dalam websitenya, “City Mayor Foundation” sebagai penyelenggara tidak menjelaskan apa kriteria untuk mendapatkan penghargaan ala “World Mayor Prize”. Tapi kalau dicermati lebih mendalam, kalimat yang tercantum dalam keterangan umum di website, kelihatannya, nominasi menjadi masuk longlist adalah berdasarkan banyaknya pengusul yang masuk ke penyelenggara. Jadi pemilihan ini miriplah seperti pemilihan “Indonesian Idol”, dimana setiap orang bisa mengirimkan usulan sebanyak-banyaknya.

Jelaslah bahwa “World Mayor Prize” bukanlah penghargaan bagi Walikota yang berprestasi baik, tapi semata-mata pemilihan Walikota terbanyak pengusul.

Jadi kegiatan itu sama persis seperti kontes “Indonesian Idol“, pemenangnya bukanlah penyanyi terbaik dari pesertanya, tapi semata-mata hasil “polling” terbanyak. Cilakanya, “polling” nya tidak sehat, karena ada yang berani memberi vote sebanyak-banyaknya agar jagoannya menjadi pemenang kontes.

Saya menyimpulkan bahwa penyelenggara “City Mayor Foundation” tidak kredibel dalam membuat kegiatan.

Ada-ada saja cara orang untuk cari popularitas, cilakanya Walikota pun ikut-ikutan cari popularitas murahan.

Tapi supaya lebih jelas, saya tanya (melalui email) kepada penyelenggara, dan berdasarkan jawabannya, kesimpulan saya diatas tidak salah. Selengkapnya jawaban dari penyelenggara, Tann vom Hove menjawab email saya sebagai berikut:

FROM:
TO:
Wednesday, April 4, 2012 9:30 PM

Dear Togar

Thank you for your email of 3 April.

We are aware that Tri Rismaharini is only in her first term of office and this fact will be taken into account when deciding on the shortlist of 25 finalists.

While we will give preference to mayors who are at least in their second term of office there are other factors which may weigh stronger. Also, in some countries mayors are only allowed to be in office for one term.

We don’t have specific criteria for candidates for the World Mayor Prize because we believe the requirements of a ‘good’ mayor differ greatly in different parts of the world. A mayor in a developing country faces very different challenges from one in, let’s say, Western Europe.

However, wherever a mayor resides he or she must lead an honest, open and non-corrupt administration for the benefit of all people. We will therefore be asking all shortlisted mayors to sign up to the City Mayors’ Code of Ethics:
http://www.citymayors.com/gratis/code-ethics.html

Best wishes

Tann

Tann vom Hove
Senior Fellow
The City Mayors Foundation
UK: London SW1
Tel: + 44 (0)20 7630 0615
Email:
editor@citymayors.com
Internet:
City Mayors:
http://www.citymayors.com
Twitter: http://twitter.com/#!/city_mayors
Facebook: http://www.facebook.com/CityMayors
World Mayor: http://www.worldmayor.com
Twitter: http://twitter.com/world_mayor
Facebook: http://www.facebook.com/pages/World-Mayor/169623778755

***

One thought on “Akal-akalan kontes “World Mayor Prize” ala “Indonesian Idol”

  1. Akal-akalan kontes “World Mayor Prize” ala “Indonesian Idol”

    Penggunaan kata “akal-akalan” berarti ada motivasi lain di baliknya ?
    menurut bapak apa tujuan sebenarnya dari program ini?

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s