Dua ibu, dua ayah, banyak saudara, semua senang

gambar diambil dari Google

Dua ibu, dua ayah, banyak saudara, semua senang, semua gembira. Ah, jangan berpikir ini cerita anak keluarga poligami, bukan. Tidak ada hubungannya dengan keluarga yang berpoligami. Ini adalah pengalaman anak muda yang dalam perjalanan hidupnya, kemudian mendapatkan keluarga baru. Ini cerita anak muda yang mendapatkan ibu baru, ayah baru, saudara baru yang menyayangi dirinya sebagaimana keluarga kandungnya. Anak muda yang mendapatkan keluarga baru bukan karena perkawinan, tapi dari cinta kemanusiaan yang tumbuh dalam diri mereka.

Cinta ibu barunya seolah sama dengan cinta ibu yang melahirkannya. Sayang ayah baru nya, sejajar dengan sayang ayah kandungnya. Perhatian saudara barunya seperti perhatian saudara kandungnya. Cinta dari keluarga baru tak kalah hebat dengan cinta keluarganya. Cinta kasih melimpah-limpah dari orang-orang yang baru dikenalnya. Kasih sayang itu masuk jauh ke sanubarinya. Cinta yang tumbuh dan mengakar dalam hatinya, dan tak dapat dicabut lagi. Mengikat dalam hidup.

Candra Wibowo, Anies Baswedan, Agung dan Dika

Itulah cinta yang dikisahkan dua anak muda Dika dan Agung yang menjadi Pengajar Muda di Gerakan Indonesia Mengajar. Gerakan ini mengajak anak muda berprestasi untuk mengabdikan dirinya menjadi guru SD selama satu tahun di daerah-daerah terpencil di Indonesia. Selama satu tahun itu para Pengajar Muda tidak hanya menjadi guru SD tetapi berbaur dengan kehidupan masyarakat di lokasi dimana ia ditempatkan. Mereka menjadi bagian dari masyarakat desa, bekerja, bermain, dan menjalani keseharian warga desa.

Banyak diantara pengajar muda itu yang sudah dianggap anak oleh warga desa. Tidak heran karena kegiatan anak muda menyatu dengan semua warga desa. Di usia yang sekitar 25 tahunan atau kurang, anak-anak muda itu memang menjadi “lilin”  yang membuat desa menyala. Begitu juga halnya Dika dan Agung.

Dika, yang sudah bekerja, punya prospek bagus,  dan gaji bagus, tidak ragu mendaftarkan diri jadi guru yang akan ditempatkan di daerah terpencil. Ya, dia menempati pos di Halmahera Selatan. Di lokasi itu ia menjadi anak angkat sebuah keluarga, diperlakukan seperti anak sendiri. Dika sendiri memang sudah terlatih untuk bisa menjadi bagian dari suatu komunitas desa. Tidak ada masalah baginya menjalani sebagai guru muda sekaligus sebagai pekerja segala macam.

Dari perjalanan hidupnya selama kurang lebih setahun itu, Dika malah mengaku “belajar’ dari murid-muridnya didesa terpencil di Halmahera Selatan. Dia menimba ilmu kehidupan yang tidak mungkin dia dapatkan di kota. Di desa tepi laut itu ia menjadi “matang”, sekaligus menyatu menjadi warga desa. Itu sebabnya ia mengaku punya dua kampung, satu di Bukit Tinggi, dan satunya lagi di Halmahera Selatan. Dika menceritakan pengalamannya menjadi guru di depan para pejabat di Kantor Wakil Presiden pertengahan April 2012 ini.  Lilin Indonesia akan terus menyala dengan adanya Dika dan Dika-Dika yang lain.

One thought on “Dua ibu, dua ayah, banyak saudara, semua senang

  1. Yup, bener tuh Ito…

    hari gini ga penting cuma obral kebaikan, tapi melakukan kebaikan itu secara nyata ^__^
    Maju terus Indonesiaku!!!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s