Ayo maju, ayo berubah

Taken from Google

Tidak dapat disangkal bahwa sangat mudah untuk mengatakan “Kita akan berubah“, tapi sangat sulit untuk melaksanakannya. Bahkan pihak yang selalu mengkampanyekan perubahan, dalam kenyataannya sulit melakukan perubahan.  Seringkali orang atau organisasi melakukan banyak perubahan, tapi kenyatannya tidak ada yang berubah. Fakta seperti ini sudah banyak dijumpai. Itu juga yang menjadi kegelisahan saya mengikuti pelatihan kali ini. Saya kuatir bahwa lembaga pendidikan  yang saya ikuti ini  sangat sulit melakukan perubahan.

Perubahan sesungguhnya merupakan sesuatu yang selalu terjadi pada semua orang, pada semua institusi bahkan pada alam. Tidak ada yang mampu menolak perubahan. Meski begitu, perubahan yang diinginkan tidak selalu dapat dilakukan. Resistensi untuk melakukan perubahan justru sering disebabkan oleh hal-hal yang sederhana.

***

Hubungan kausal antara dua keadaan dapat dijelaskan secara sistematis.  Langkah awal yang dilakukan adalah dengan mengidentifikasi kedua keadaan tersebut. Dari identifikasi itu, akan ditemukan keadaan mana yang menjadi  penyebab dan keadaan mana yang menjadi akibat. Bila sudah ditemukan penyebab dan akibat, maka hubungan keduanya dapat dideskripsikan.  Boleh jadi hubungan sebab – akibat itu dikaitkan oleh satu variabel atau lebih. Dalam kenyataan sehari-hari meski keadaan dua hal terlihat sederhana, boleh jadi hubungan sebab – akibat antara dua hal yang sederhana itu mempunyai variabel yang sangat banyak. Untuk orang yang sedang belajar, variabel hubungan antara sebab – akibat dimulai dari analisis terhadap satu variabel.

Kira-kira paragraph diataslah materi pelatihan hari Jumat lalu. Dari pagi sampai sore peserta dan instruktur berkutat di model sebab – akibat itu. Akan tetapi penyederhanaan model seperti itu bagi saya jadi terasa lebay, seperti kata orang muda sekarang. Peserta latihan kali ini rata-rata sudah punya pengalaman kerja 20 tahun. Tapi kalau peserta kemudian diminta untuk belajar model system thinking dengan metoda untuk mahasiswa semester 2, rasanya menjadi lebay. Dua hari sudah belajar seperti ini, rasanya saya bukan menjadi lebih pintar, tapi sebaliknya. Metoda pembelajaran seperti ini sudah tidak sesuai untuk peserta yang sudah karatan seperti saya. Akan lebih mudah dan menarik membahas kasus yang sederhana atau kasus yang kompleks. Penyelenggara pelatihan  seharusnya selalu mengupdate kurikulum dan mau belajar lagi tentang proses pembelajaran. Penyelenggara sebagai pusat riset dan pendidikan bagi para birokrat harus mau berubah untuk memperbaiki kurikulum dan meningkatkan kapabilitas.  Tapi kenyataan yang saya rasakan, seolah-olah penyelenggara jalan ditempat dengan kurikulum dan metoda pembelajaran seperti sekarang.

Dari obrolan ringan dengan beberapa peserta pelatihan, hal yang saya rasakan ternyata dirasakan juga oleh peserta yang lain. Jadi tidak berlebihan kalau saya menulis seperti diatas. Jurnal harian yang saya buat menyinggung hal yang sama  hari ini dan sehari sebelumnya. Jangan-jangan jurnal saya akan selalu ada materi tuntutan perubahan kurikulum penyelenggara.

Saya berharap jurnal ini bisa dilihat dengan lebih arif. Sebenarnya bisa saja saya cuek pada pelatihan  ini, dan tidak menulis apa-apa tentang penyelenggaraan pelatihan ini. Tapi saya menyanyangkan kalau pusat pembelajaran bagi  birokrasi ini hanya sekedar pelaksanaan kegiatan formal. Mudah-mudahan masih ada kemauan untuk berubah. Ayo berubah!.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s