“Bangsa” binatang versus “bangsa” manusia

Taken from Google

Ini bukan soal pertarungan manusia dan binatang untuk mencapai kemenangan. Kalau bangsa manusia mau berperang melawan bangsa binatang, sudah hampir pasti bangsa manusia akan menang, karena bangsa manusia akan lebih mampu menyusun strategi melawan bangsa binatang. Tapi ini adalah membandingkan manusia dengan binatang, untuk melihat pihak mana yang lebih rakus. Tentu saja cerita dibawah ini bukan hasil penelitian yang akurat, jadi jangan bertanya dimana cerita ini terjadi dan tingkat ketelitiannya.

Empat piring diletakkan di suatu ruangan, dan masing-masing piring diisi dengan beras, yang satu lagi diisi rumput, yang ketiga diisi daging dan piring keempat diisi uang 1 milyar. Bila ke dalam ruangan itu dimasukkan ayam, yang akan dimakan oleh ayam hanya beras. Bila beras sudah habis, ayam tidak akan mengambil yang lain. Bila ke dalam ruangan itu dimasukkan kambing, maka yang akan dimakan kambing hanya lah rumput. Meski masih lapar, kambing tidak akan memakan yang lainnya.

Lalu bila ke dalam ruangan itu, dimasukkan singa yang sangat lapar, yang dimakan oleh singa hanyalah daging.  Walau singa masih sangat lapar, dia tidak akan makan rumut, juga tidak akan mengambil uang dan tidak akan makan beras.

Bila ke dalam ruangan itu masuk seorang manusia, maka yang akan diambil adalah semua uang, ia juga akan mengambil daging dan beras untuk dirinya.  Si manusia juga akan mengambil rumput, untuk diberi kepada kambing milik si manusia. Bahkan kebanyakan manusia akan mengambil juga piring yang ada di ruangan itu.

Manusia jauh lebih rakus dari binatang meski manusia mempunyai kecerdasan yang lebih tinggi dari manusia. Mungkin boleh juga disebut kalau binatang lebih fair dari manusia. Binatang hanya mengambil apa yang sudah menjadi peruntukannya. Binatang tidak mengambil milik pihak lain.  Apakah dapat disebutkan kalau manusia lebih buruk dari binatang dalam hal mengambil peruntukannya? Manusia cenderung mengambil pihak lain, yang bukan miliknya.

***

Cerita diatas diinspirasi oleh kisah dari DR. Edi Suharto, salah seorang Direktur di Kementerian Sosial.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s