Tau teori berenang = bisa berenang ?

Kalau saya tau tentang teori berenang tentulah tidak berarti saya bisa berenang. Boleh jadi saya tau teori berenang karena sering baca majalah dan buku tentang olah raga renang.  Atau karena saya pernah lihat orang berenang, entah di kolam renang atau lihat di televisi. Saya tidak mungkin bisa berenang kalau cuma baca teori macam-macam. Saya baru bisa belajar berenang kalau nyebur ke kolam renang atau ke sungai, atau ke laut.  Belajar berenang di sungai arus deras akan melatih kita untuk menguasai teknik berenang sampai bisa berenang ke seberang.

Analogi belajar berenang mungkin bisa digunakan untuk mencermati penyelesaian suatu persoalan. Menyelesaikan suatu permasalahan bukanlah perkara mudah. Apalagi permasalahan tersebut menyangkut kepentingan orang banyak. Menyelesaikan permasalahan bangsa Indonesia menjadi jauh lebih rumit lagi, karena selain karena jumlah bidang persoalan yang banyak, kompleksitas permasalahan seringkali sangat rumit dan saling kait mengkait dengan permasalahan lainnya. Maka tidak heran, kalau penyelesaian oleh pemerintah sering terlihat kurang cepat dan seolah-olah tidak menyelesaikan persoalan yang sesungguhnya.

Bagi orang yang bertugas dan bertanggung jawab untuk menyelesaikan permasalahan bangsa, melaksanakan penyelesaian permasalahan merupakan pekerjaan yang sangat berat dan menyita enerji. Siapapun yang terlibat langsung dalam mengambil suatu keputusan dan melaksanakan keputusan tersebut bisa merasakan betapa beratnya beban yang dipikul dan memerlukan kerja keras dan menguras tenaga. Tidak mudah menjadi “pelaku” dalam menyelesaikan persoalan.

Banyak orang bisa merumuskan jalan keluar dari suatu permasalahan, mereka bisa membuat rencana aksi yang terlihat bagus. Persoalan baru menjadi rumit, ketika mereka harus menjalankan suatu rencana aksi untuk menyelesaikan persoalan.  Ketika berhadapan dengan realitas persoalan di lapangan, rencana aksi yang terlihat sangat bagus seringkali menghadapi benturan-benturan yang luar biasa.

Bagi para pengamat, solusi suatu permasalahan terlihat mudah. Mereka dengan enteng menyalahkan para pelaku pemecahan permasalahan. Para pengamat memang tidak terlibat langsung dalam “pertandingan” yang sesungguhnya. Mereka ibarat penonton yang hanya menikmati pertandingan. Pengamat adalah ibarat seseorang yang mengetahui “teori berenang”, tapi tidak pernah terjun ke kolam renang. Ketika pengamat tadi diterjunkan ke kolam renang, ternyata ia malah tenggelam, tak mampu mengapungkan diri apalagi berenang menuju tepian.

Kesan itulah yang saya tangkap dari seorang pengamat seperti Dr. Ichsanuddin Noorsy. Dr. Noorsy sudah malang melintang di diberbagai media, dan sejumlah seminar. Hampir disetiap forum diskusi dan seminar, Dr. Noorsy selalu menyalahkan pemerintah. Ia menganggap pemerintah tidak mampu menjalankan tugas. Gaya bicaranya lantang menyudutkan setiap pengambil keputusan di negeri ini. Ia bahkan sangat vulgar menyalahkan pemimpin negeri ini. Dari setiap pembicaraannya, seolah ia bisa menyelesaikan semua persoalan yang membelit bangsa. Pendapatnya seolah yang paling benar untuk menyelesaikan persoalan. Ia selalu mengklaim punya data yang tidak terbantahkan, bahwa apa yang dia katakan tidak salah.

Waktu Ichsanuddin Noorsy bicara lantang di Lembaga Administrasi Negara Selasa (29 Mei), saya jadi penasaran juga dengan omongan pengamat ini. Karena itu saya tanya dia, apakah ia sudah mempersiapkan diri menjadi Calon Presiden di Pemilu 2014. Tapi saya sangat kecewa, ketika Dr. Ichsanuddin Noorsy mengatakan bahwa ia tidak mau jadi Calon  Presiden. Saya pikir dia tadinya akan menjawab bahwa dia mau aja maju untuk menyelesaikan persoalan bangsa. Kalau tadinya Ichsanuddin Noorsy menjawab mau maju jadi Calon Presiden demi memperbaiki bangsa ini, itu baru terlihat ia seorang yang punya keinginan untuk berbuat sesuatu untuk Negara. Tapi ia tegas menyatakan tidak mau jadi Calon Presiden.

Padahal seandainya ia menjawab mau maju jadi Calon Presiden, saya tidak yakin ia mampu memenangkan pemilihan. Ia bahkan tak mampu mendapatkan dukungan berarti untuk menjadi bakal calon presiden.

Saya lebih menghargai seseorang  yang punya keinginan untuk berbuat sesuatu memperbaiki “sekrup kecil” dari peroalan bangsa ini, ketimbang seorang yang merasa pintar. Apalagi kalau orang  bisanya cuma menyalahkan orang lain, dan tidak mau berbuat untuk memperbaiki keadaan. Kalau cuma omdo, omong doang, ngehh..heh….., anak kecil juga bisa….

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s