Burung beo dan jerapah

From Google

Menjadi penyaji suatu paparan di kelas atau di forum seminar atau sejenisnya, selain harus menguasai materi yang akan dipaparkan, perlu juga punya trik selingan, sehingga pendengar, audience, tetap bisa fokus kepada apa yang disampaikan oleh penyaji alias presenter. Trik selingan itu adalah ketrampilan seorang instruktur, penceramah, presenter untuk mengendalikan audiens. Seringkali, tips selingan itu sangat menghibur, apalagi bila materi ceramah termasuk berat. Tapi trik selingan bisa juga digunakan oleh seorang penceramah sebagai selingan bila ia terjebak bingung ditengah ceramah.

Hal itu yang terjadi di kelas kami sore itu. Sesi sesudah makan siang adalah sesi yang sangat berat bagi seorang penyaji atau peserta di kelas. Siang  itu setiap kelompok harus mempresentasikan hasil diskusi yang dilakukan dalam kelompok. Sebelumnya, ketiga kelompok sudah menyelesaikan diskusi pembahasan, dan siang itu hasil diskusi akan dipresentasikan di depan seluruh anggota kelas yang terdiri dari 3 kelompok. Salah satu kelompok, sepakat menunjuk Pak Willy (bukan nama sebenarnya) sebagai presenter. Dalam diskusi kelompok sebelumnya, Pak Willy tidak sempat membahas keseluruhan materi yang akan dipresentasikan, tapi karena sudah ditunjuk anggota, maka ia harus maju jadi pembicara.

Setelah beberapa lama presentasi, pak Willy, yang biasanya pendiam, rupanya kurang memahami materi bagian akhir. Slide Power-Point sudah terpampang di layar, tapi ia terdiam, mungkin ia kurang menguasai materinya. Tapi Pak Willy tidak kehabisan akal, ia mulai menceritakan suatu cerita, trik selingan presenter.

“Bapak, dan ibu, saya tau ini jam ngantuk, kita semua juga mengantuk, karena itu sebagai selingan saya akan bercerita. Di kampung saya ada seorang pemilik burung beo, burung beo itu sangat pintar berbicara, karena memang selalu diajari oleh si pemilik. Suatu hari, pemilik burung beo jalan-jalan ke kebun binatang bersama burung beonya.

Sambil jalan si bapak pemilik beo bertanya kepada burung beonya: Itu binatang apa beo?, si bapak menunjuk seekor buaya. Lalu burung beo menjawab: Buaya!. Pintar kamu nak, kata si bapak kepada beonya. Nih upahmu sepotong pisang”.

Pak Willy menceritakan kisah beo itu, anggota kelas ada yang senyum-senyum. Pak Willy melanjutkan ceritanya.

“Si bapak berjalan lagi dan berdiri dekat gajah. Sambil meninjuk ke gajah, si bapak bertanya  kepada beo: Itu binatang apa beo? Si burung menjawab: Gajah!. Wah pintar kamu nak!, lalu pemilik memberi lagi sepotong pisang kepada burung beo.”

Pak Willy berhenti sebentar bercerita, peserta kelas belum merasa lucu dengan cerita Pak Willy. Kemudian pak Willy meneruskan ceritanya.

“Pemilik beo bertanya lagi kepada beo: Beo, itu dibalik gajah yang badannya tinggi dan lehernya panjang sekali binatang apa beo,… itu yang lehernya panjang…..itu binatang apa beo?” Pak Willy mengulang pertanyaan sambil menggambarkan tangannnya seolah ada leher yang panjang.

Tiba-tiba salah seorang peserta di kelas berkata dengan spontan: “Jerapah!“.

Pak Willy berkata: “Pintar anakku!, nih ambil pisangmu“.  Mendengar itu semua peserta kelas tertawa, karena Pak Willy ternyata berhasil menjebak peserta kelas. Salah seorang peserta terjebak, dan  menjawab pertanyaan yang diceritakan pak Willy.

Itulah trik selingan yang diceritakan oleh pak Willy. pak Willy menceritakan itu, karena ia tidak begitu menguasai materi berikutnya dari slide Power-Point. Tapi peserta kelas jadi terhibur dengan joke pak Willy.

2 thoughts on “Burung beo dan jerapah

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s