Museum di Kaliurang

Diambil dari Google

Saya sudah lupa, ini kunjungan keberapa kalinya ke Yogya. Mungkin tidak terlalu penting seberapa sering ke Yogya, tapi rasanya selalu ada yang baru untuk di lihat dan diexplore di kota ini. Siang itu, sesampainya di Yogya, setelah makan siang, kami menuju kawasan Kaliurang disebelah Utara Yogya. Tujuan kami adalah Musium Ullen Sentalu, yang berada di lokasi berhawa sejuk Kaliurang.

Di tengah jalan, kami didampingi oleh Mas Made, tour leader kelahiran Bali. Sejak awal Mas Made tidak banyak menjelaskan apa saja kekhasan musium ini, katanya lebih baik mendengarkan langsung dari petugas museum. Made lebih banyak cerita tentang sejarah kerajaan Mataram yang menjadi cikal-bakal Kerajaan Yogya sekarang. Pak Made juga cerita tentang raja-raja Mataram sampai ke Sultan Hamengkubuwono X.

Begitulah, sambil mendengar cerita Mas Made, dan melewati jalanan macet, akhirnya kami sampai juga di musium yang dituju. Karena kami rombongannya cukup banyak (empat belas orang sih), maka kami dibagi menjadi 2 grup didampingi seorang petugas musium. Oh ya, harga tiket masuk ke musium di awal bulan Juli 2012 ini dipatok Rp. 25.000 per orang. Di ruangan-ruangan musium ini tidak diperkenankan mengambil gambar dengan kamera. Seorang teman yang mengambil gambar dengan mobile-phone sempat ditegur oleh tour guide. Berfoto baru boleh di luar ruangan musium.

Menurut si Mbakyu, tour guide dari musium ini, pada setiap obyek di musium ini sengaja sangat sedikit informasi yang dituliskan pada obyeknya agar para pengunjung mendapat penjelasan dari tour guide. Cara itu sengaja dipilih selain untuk mewariskan kebiasaan bertutur dan bercerita. Jadi informasi yang diperoleh tentang musium ini sangat tergantung pada kepiawaian si Mbakyu berceloteh tentang isi dan maksud musium. Dari segi itu, si Mbakyu memang menguasai cara menceritakan obyek, selain itu ia juga tegas terutama menegur pengunjung yang mencoba memotret dengan kamera.

Saya mengelompokkan obyek di musium ini menjadi 3 hal. Yang pertama adalah obyek informasi yang dituangkan dalam bentuk foto atau lukisan. Obyek ini mendominasi kesluruhan isi musium. Yang kedua adalah obyek yang berupa barang yang pernah digunakan oleh orang-orang yang terlibat dalam sejarah kerajaan Ngayogyakarta alias keraton Yogya dan Paku Alaman. Obyek ini pada umumnya berupa kain batik, dan ada sedikit asesoris perhiasan wanita. Yang ketiga adalah obyek pendukung yaitu tempat makan alias restoran yang terdapat di area musium dan toko souvenir. Sebagai pelengkap ada juga patung Dewi Sri dan karya outdoor.

Lukisan yang ada di musium ini, sepertinya sengaja dibuat sekelompok seniman khusus untuk tujuan melengkapi musium. Sejumlah pelukis memang sengaja ditugaskan untuk membuat lukisan yang diharapkan bisa menceritakan tentang sesuatu kejadian di masa lalu. Sebagian kecil ada foto-foto yang di reproduksi menjadi ukuran besar. Menurut si Mbakyu, musium ini memang dimiliki oleh sebuah keluarga di Yogya yang peduli tentang budaya Jawa. Upaya untuk menjadikan musium ini dioperasikan secara komersial, memang terasa dari keseluruhan penampilan musium maupun kemasan penjelasannya. Pengunjung tidak bisa belajar memahami sendiri obyek yang ada di dalam musium. Pengunjung dibuat sangat tergantung pada penjelasan pengelelola musium melalui si Mbakyu, tour guide. Melalui si Mbakyu, saya baru tau, Kalau nama panggilan dari teman-temannya untuk Sultan Hamengku Buwono IX adalah Hengky.

Ada yang menurut saya kurang lancar dalam penataan ruangan musium. Pada umumnya ruangan diatur sedemikian rupa, sehingga pengunjung masuk dan keluar melalui pintu yang sama. Kalau saja pintunya dirancang sedemikian rupa sehingga pengunjung memasuki suatu ruangan melalui pintu keluar ruangan lainnya, maka pengunjung akan lebih lancar bergerak dan tidak terasa membosankan. Saya juga tidak melihat ada pintu darurat alias emergency exit, kalau terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Pintu darurat  sangat diperlukan, karena musium ini berada di kaki Gunung Merapi yang masih aktif dan sering meletus.  Pintu darurat ini penting. Itulah serita tentang Musium Ullen Sentalu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s