Pendeta sebagai Doktor Hukum Islam

Diambil dari Google

Minggu lalu saya dinas ke luar kota. Karena tidak mau berspekulasi kemacetan di jalan tol ke bandara, saya berencana ke SHIA (Soekarno Hatta International Airport), berangkat lebih awal dari jam keberangkatan. Ternyata kegiatan saya pagi dan siang hari itu bisa saya selesaikan dengan lebih cepat, sehingga saya punya banyak waktu, dan saya putuskan ke bandara untuk naik bis Damri dari Gambir. Di kursi sebelah saya duduk seorang bapak yang sepertinya sudah lebih separoh baya.

Awalnya saya tidak membuka pembicaraan dengan bapak yang duduk disebelah saya.  Selang beberapa saat, entah bagaimana mulanya dia membuka pembicaraan dengan saya. Dari pembicaraan itu, dia mengatakan kalau dia adalah seorang dosen dari sebuah sekolah tinggi teologia di Ungaran, Jawa Tengah. Ia menceritakan bahwa ia mengajar mata kuliah ilmu hukum Islam.

“Lho bapak seorang dosen sekolah Pendeta, tapi menjadi dosen mata kuliah hukum Islam?” tanya saya.

“Ya, saya seorang Pendeta, dan saya juga Doktor dalam hukum Islam,” lanjut si bapak.

Saya lalu bertanya bagaimana ceritanya seorang pendeta kemudian menjadi Doktor ilmu hukum Islam. Pak Pendeta ini kemudian menceritakan latar belakang pendidikan dan lingkungannya sejak masa kecil. Semasa kecil, meskipun ia seorang penganut Kristen, tapi ikut belajar mengaji dengan teman-temannya di lingkungan rumahnya, dan ia juga belajar bahasa Arab. Keluarganya, terutama ibunya, mengijinkan ia belajar mengaji.

Dalam perjalan kehidupannya, ia kemudian menjadi seorang pendeta. Suatu ketika ada kejadian yang memacu keinginannya untuk mempelajari hukum Islam. Tentu sebagai seorang Pendeta, ia tidak mudah untuk mempelajari hukum Islam. Ada beberapa rintangan dan prasangka ditujukan kepada dirinya, untuk keperluan apa ia belajar hukum Islam. Dengan tulus pak Pendeta menjelaskan ke beberapa pihak, bahwa ia benar-benar ingin mempelajari hukum Islam.  Akhirnya setelah mendapat beberapa rekomendasi dari sejumlah tokoh, ia diterima menjadi mahasiswa doktoral hukum Islam.

Dalam proses mempelajari hukum Islam itu, Pak Pendeta ini harus menyantri di beberapa pondok pesantren, ia belajar dari sejumlah kiyai terkemuka. Ia juga berdiskusi mendalam dengan banyak ulama dan tokoh-tokoh Islam. Singkat cerita ia bisa menyelesaikan pendidikan dan berhasil menjadi seorang Doktor Hukum Islam dengan hasil yang memuaskan. Pak Pendeta menjadi seorang ahli hukum Islam dan mengetahui banyak hal tentang Islam.

Pak Pendeta bercerita panjang lebar kepada saya sepanjang perjalanan dari Gambir ke bandara Cengkareng. Saya sempat juga menggoda dengan pertanyaan:

Ada beberapa orang yang mendalami suatu ajaran yang berbeda dari yang diyakininya, dalam prosesnya kemudian orang beralih pada ajaran yang dipelajarinya, bagaimana bapak bisa tidak berubah keyakinan?”. Pak Pendeta tersenyum dan menjelaskan beberapa hal prinsip tentang keyakinannya dan ajaran yang dipelajarinya, sehingga ia tetap menjadi seorang Pendeta.

“Saya merasa sangat berbahagia menjadi seorang penganut Kristen dan menjadi Pendeta. Saya memang Doktor ilmu Hukum Islam, kebahagiaan saya adalah menjadi Pendeta.”

Kami ngobrol sepanjang perjalanan itu, dan tidak terasa kami hampir sampai di Bandara SHIA. Sebelum berpisah saya memperkenalkan diri, dan minta nama beliau.

“Nama saya Gunarto, dan senang ngobrol dengan bapak, mudah-mudahan kita bisa ketemu lagi Pak Togar!“, katanya mengakhiri pembicaraan kami sambil berdiri untuk turun dari bus Damri di terminal A. Saya sempat tercenung mengingat pembicaraan kami sebelum saya turun di terminal F.

One thought on “Pendeta sebagai Doktor Hukum Islam

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s