Senja di Sendang Biru

Melewati kawasan Druju, jalanan semakin menyempit dan mulai menanjak. Saya mengambil alih kemudi dari Dennis, ia agak kurang puas, karena harus berpindah menjadi penumpang. Tapi saya tidak mau ambil resiko membiarkaan kami semua dalam kecemasan melalui jalan mendaki, sempit dan berliku. “Driving hour” Dennis masih belum memadai untuk mengemudi di jalanan yang ramai, menantang menuju Sendang Biru. Jalanan menanjak tajam, mesin mobil meraung untuk bisa melewati setiap jengkal jalanan yang tidak terlalu mulus. Istri saya yang sudah pernah dinas ke Sendang Biru, karenanya mengingatkan kalau rute ke sini cukup rawan. Setelah tanjakan tajam terlewati, jalanan agak menurun, dan terus berliku sampai di kawasan Sumber Manjing. 

Akhirnya setelah sekitar 45 menitan melalui jalanan yang berliku kami tiba di kawasan Sendang Biru. Jalan akses ke pantai tempat agak kurang terlihat dengan baik, kami sempat masuk ke kawasan pelabuhan ikan, karena kurang memperhatikan jalan yang menuju pantai landai, dimana banyak orang berjalan menyusuri pantai. Memasuki pelabuhan ikan, aroma khas bau ikan menyusup sampai ke dalam mobil, kami sempatkan mampir dan menuju dermaga ikan. Foto di bawah ini di dermaga ikan.

Di dermaga ikan ini, banyak perahu nelayan ditambat. Aktivitas nelayan sore itu sudah sepi, mungkin juga karena masih dalam suasana lebaran.

Sejak awal maksud kami adalah untuk menuju Pulau Sempu, sebuah pulau kecil yang berada diseberang pantai Sendang Biru. Karena itu kami segera bergeser ke arah pantai dimana banyak perahu yang disewakan untuk menyeberang dan menjelajah pantai Sendang Biru.  Tarif sewa perahu sore itu dipatok Rp. 100.000. Mungkin ini tarif Lebaran, dan tidak bisa di nego. Ya sudah kami naik saja.

Perahu diawaki dua orang, ketika perahu mulai bergerak ke arah bibir luar pantai. Di kejauhan terlihat dua pulau batu yang seolah muncul dari tengah-tengah laut.

Kami menjadi sangat ingin mendekati pulau batu itu. Tapi nakhoda perahu bilang bahwa tarif 100 ribu tidak sampai ke pulau batu, dan dia minta tambahan 100 ribu lagi, cari kesempatan juga pemilik perahu ini. Saya lalu menawar tambahannya hanya 50 ribu, dan akhirnya dia setuju. Perahu kecil kami meluncur menuju pulau batu.

Perahu kecil dengan lebar tidak lebih dari dua meter itu terasa menjadi lebih kecil ketika mendekati pulau batu. Pantai Sendang Biru airnya tenang, karena berada di balik Pulau Sempu, jadi tidak berhadapan dengan Lautan Hindia yang ombaknya besar. Kedua Pulau batu berada di bibir pantai yang berhadapan dengan Samudera Hindia, jadi ombak di dekat pulau Batu cukup besar untuk ukuran perahu yang kami tumpangi.

Pulau Sempu yang terlihat masih asri. Menurut pemilik perahu, banyak anak muda yang sering kemping di pulau ini, menghabiskan malam, menikmati rerimbunan pohon.

Ganda bersama mamatua dan bapatuanya di haluan perahu.

Daniel bersama mamanya di pantai berpasir Pulau Sempu.

Berpose dulu ya. Kan tidak cuma orang muda yang boleh narsis nampang di pantai ini.

Trio Silaban, Dennis, Ganda, dan Daniel (ki-ka).

Mengingatkan pada saudara tua dengan bergelantungan di pohon.

Yah, ini buktinya Dennis sudah “touched down” di Pulau Sempu.

Senja di Sendang BiruKeindahan mentari menuju peraduan, senja di Sendang Biru.

Daniel mencoba menangkap siluet matahari senja.

Keindahan ciptaan Tuhan di senja ini.

**************

Pantai Sendang Biru berada di wilayah Selatan Kabupaten Malang, Jawa Timur

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s