Mahal-murahnya dokumentasi

diambil dari Yahoo

Minat saya terhadap sejarah cuma sekian persen, tidak besar. Bukan karena saya tidak menghargai sejarah, bukan. Tapi cuma karena kronologis “perjalanan” saya yang tidak banyak bersentuhan dengan bidang sejarah. Jadi ketika Tempo memuat feature yang panjang tentang Douwes Dekker (DD), saya beberapa kali melangkahi feature itu dan membaca bagian lain. Ketika tiba saatnya killing time barulah saya membaca tulisan tentang Douwes Dekker. Saya tergelitik dokumentasi tentang DD yang di Indonesia dan yang ada di Swiss.

Untuk menyiapkan feature DD, Tempo menyiapkan tim yang lumayan komplit dan melakukan sejumlah riset yang cukup mendalam di beberapa tempat. Douwes Dekker lahir di Pasuruan, Jawa Timur. Sebagai orang Belanda campuran ia menjalani kehidupan yang beraneka ragam. Dalam perjalanan kehidupannya, ia melihat dan terlibat dalam penindasan rakyat yang secara pribadi tidak dapat dia terima. Berawal dari “pergumulan batin“, DD kemudian menjadi pembela rakyat tertindas.

Dalam salah satu episode kehidupannya DD ke Eropa, sekolah ke Swiss di Universitas Zurich untuk menjadi Doktor, mendaftar sebagai mahasiswa baru pada tahun ajaran 1914-1915.  Tetapi DD tidak sampai diwisuda, DD kembali ke Nusantara bergabung dengan aktivis nasionalis.

Menariknya, informasi tentang pendaftaran Douwes Dekker sebagai mahasiswa sampai keterangan lulus bersyarat dari dosennya masih tersimpan rapi di Arsip Universitas Zurich. Disertasi DD seharusnya diperbaiki, komentar dosen penguji ada pada catatan tentang DD. Tapi DD tak pernah memperbaiki disertasinya. Majalah Tempo berhasil mendapatkan informasi lengkap tentang DD. Bayangkan, bagi Universitas Zurich, DD bukanlah siapa-siapa, ia cuma mahasiswa reguler yang kuliah disana. Tapi data dan informasi tentang pendaftaran DD sebagai mahasiswa baru pada tahun 1914, masih bisa dijumpai sampai sekarang.

Sebaliknya data dan informasi tentang DD di arsip Indonesia sulit dicari, setidaknya itu menurut Tempo. Douwes Dekker diketahui sebagai anggota Masyumi. Keabsahan DD sebagai anggota Masyumi diakui oleh banyak sejarawan dan pakar. Tapi dokumen dan informasi tentang peran DD pada awal Masyumi berdiri di tahun 1947 tidak bisa ditemukan. Padahal bagi Indonesia, Douwes Dekker dianggap sebagai tokoh nasional. Tapi arsip seorang pahlawan “khusus” itu tidak bisa ditemui secara lengkap di berbagai tempat di Indonesia.

Fakta ini membuat saya trenyuh, betapa kita sulit menghargai data dan informasi. Dokumentasi kita lemah. Informasi yang berharga saja tidak bisa disimpan dan dipelihara dengan baik.  Bagaimana kita mewariskan sesuatu yang berharga kepada masa depan.

Di jaman yang serba digital sekarang ini, mestinya lebih “mudah” dan lebih murah untuk membuat dokumentasi. Tapi apakah dokumentasi berharga itu sudah dikelola dengan betul??.

*******************

Maaf, setelah membaca posting ini, apakah anda berkenan untuk memberi penilaian (rate) dengan mengklik bintang dibawah.  Sangat membanggakan bagi saya bila anda sudi men”share” artikel ini, di Facebook, Twitter, Google+, LinkedIn atau bahkan mengemailkannya kepada orang lain. Kalau anda suka artikel ini, sudilah untuk mengklik “Like” dibawah. Semua tinggal klik menu dibawah ini. Terimakasih.

2 thoughts on “Mahal-murahnya dokumentasi

    • Ya pak Bowo, konon masyarakat yang bisa membuat dokumentasi dengan baik, itulah salah satu yang menjadikan mereka cepat maju. Karena mereka bisa memanfaatkan informasi pada dokumentasi itu. Hampir semua penemuan didukung oleh sistim dokumentasi yang baik. Umumnya negara-negara maju mempunyai kebiasaan dokumentasi yang baik.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s