Singa jahatpun, tidak begitu

Dalam cerita-cerita dongeng fabel, konon binatang bisa berbicara antara sesama binatang, bahkan  binatang bisa ngomong dengan manusia. Sudah tentu dalam kenyataan yang sebenarnya binatang tidak dapat berbicara dengan manusia. Pada cerita dongeng binatang sering dikisahkan tentang binatang yang licik, pura-pura baik kepada binatang lain, tapi hanya dengan maksud menipu. Dalam cerita “Lion King”, Simba singa muda, dicoba dirayu oleh pamannya yang jahat. Rayuan singa jahat nyaris merenggut nyawa Simba. Singa jahat merayu dengan mulut manis sehingga Simba terpesona, saat Simba mulai lengah, singa jahat hendak menerkam Simba untuk dijadikan mangsa. Untung pada saat yang tepat ayah Simba datang menolong sehingga nyawa Simba selamat.

Pada cerita dongeng Lion King, dari mulut singa jahat keluar kata-kata manis, tapi sesaat kemudian keluar auman untuk menerkam dan mematikan. Mulut yang semula ramah dan baik, tiba-tiba berubah drastis menjadi pembunuh, sadis dan tidak berperasaan, tidak peduli perasaan “korban”. Itulah gambaran singa jahat, pembunuh, pemangsa.

Analogi cerita Lion King saya kontraskan dengan topik khotbah yang saya ikuti minggu lalu di Surabaya. Topik khotbahnya adalah “Lidah seorang murid”. dalam khotbah itu dinyataian bahwa seorang murid Yesus adalah orang yang senantiasa menjaga “lidahnya”, menjaga ucapannya. Idealnya mulut kita harus seperti mulut Yesus yang senantiasa menyebarkan kabar baik bagi semua orang. Tidak mungkin dari satu mulut yang sama akan keluar ucapan baik, memuji Tuhan, tapi pada saat yang lain dari mulut itu keluar caci maki, hujatan, bahkan kata-kata sadis.

Mulut orang beriman akan selalu konsisten mengeluarkan kata-kata mencintai, menyejukkan, mensejahterakan hati semua orang, memberi rasa aman, selain memuliakan Tuhan. Kalau ada orang mengaku beriman, tapi mengeluarkan kata-kata kasar, apalagi mengancam akan mencederai pihak lain, atau bahkan mengancam akan mencelakakan orang, maka ke-imanan orang itu tidak mungkin benar. Bahkan meskipun orang atau pihak yang diancam itu adalah orang bersalah, manusia beriman tidak punya hak untuk mencelekai mahluk citptaan Tuhan.

Hakikat orang beriman adalah menyayangi, mengasihi, mengampuni orang yang mungkin bersalah. Sebab kalau orang tidak bersalah untuk apa diampuni. Tapi dunia disekeliling kita, banyak orang mengaku beriman, mengaku memuliakan dan mengagungkan nama Tuhan, tapi mulutnya penuh sumpah serapah, menghujat orang lain. Bahkan orang-orang itu berdemo, mengaku memuliakan Tuhan, tapi berniat mencelakai orang lain. Semoga Tuhan mencerahkan ke-imanan kita semua.

*******************

Maaf, setelah membaca posting ini, apakah anda berkenan untuk memberi penilaian (rate) dengan mengklik bintang dibawah.  Sangat membanggakan bagi saya bila anda sudi men”share” artikel ini, di Facebook, Twitter, Google+, LinkedIn atau bahkan mengemailkannya kepada orang lain. Kalau anda suka artikel ini, sudilah untuk mengklik Like dibawah. Semua tinggal klik menu dibawah ini. Terimakasih.

One thought on “Singa jahatpun, tidak begitu

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s