Berwisata ke Pulau Tidung

IMG_4917Tanpa direncanakan secara khusus kami akhirnya sepakat akan ke Pulau Tidung, di Kepulauan Seribu Jakarta pertengahan bulan Nopember kemarin. Begitulah, Meilina, teman istri saya yang terutama menjadi promotor dan provokator ke pulau Tidung. Meilina pula yang pesan paket “wisata” akhir pekan dan sekaligus bayar  dan transfer “down payment” ke salah satu pengelola perjalanan ke pulau Tidung. Kami ikut paket yang berangkat dari Pelabuhan Muara Angke.

Menurut jadwal yang diberikan oleh “travel agent”, kapal akan berangkat dari Muara Angke jam 6 pagi, begitu pemberitahuan kepada kami. Karena itu malamnya saya kembali mengingatkan anak saya Dennis, dan keponakan saya Aldo dan Enrico supaya bangun pagi dan sebelum jam 5 pagi sudah berangkat. Sekitar jam 4 saya sudah terbangun, lalu kemudian saya membangunkan Dennis dan Maya istri saya. Tak lama kemudian Meilina menelepon dan bilang akan segera bergabung dengan kami. Enam orang dengan bersesak-sesak dalam satu mobil, sebelum jam 5 pagi kami meluncur dari Bintaro menuju Muara Angke.

Sekitar jam 6 pagi kami sudah masuk ke Pasar Muara Angke yang sepanjang jalannya becek. Setelah berbelok ke kanan, mobil bergerak ke Pasar Ikan Muara Angke. Aroma khas pasar ikan masuk ke dalam mobil meski kaca mobil tertutup rapat. Akhirnya kami sampai di tempat parkir Pelabuhan Muara Angke, dan membayar Rp. 50.000 untuk parkir satu hari satu malam. Pasar Muara Angke, Pasar Ikan dan Pelabuhan Ikan Muara Angke lokasinya berdampingan. Setelah keluar dari dalam mobil, kami mulai beradaptasi dengan aroma khas pasar Ikan Muara Angke, dan ciri khas pasar ikan dan pelabuhan ikan yang selalu becek.

Meilina menelpon orang yang sudah berjanji mengantar kami ke Pulau Tidung, kami disuruh menunggu dulu di dekat dermaga, karena si petugas masih menunggu penumpang lainnya. Sambil menunggu petugas tersebut, kami duduk didepan penjual kopi panas.

IMG_4837Pelabuhan Muara Angke

Pagi itu di pelabuhan Muara Angke sudah sandar beberapa “kapal penumpang”  yang melayani trayek Muara Angke ke Kepulauan Seribu termasuk Pulau Tidung. Selain itu terdapat puluhan kapal nelayan yang sandar di Muara Angke. Disisi Timur Pelabuhan Ikan, terdapat sebuah apartemen yang sedang dalam proses bangunan. Kalau tidak salah iklan apartemen tersebut sangat gencar di beberapa televisi dan ditampilkan sangat indah. Tapi menurut saya, aroma khas, yang amis,  Pasar Ikan Muara Angke akan sampai ke apartemen itu, karena letaknya persis bersebelahan dengan kapal-kapal ikan yang sandar.

IMG_4852Kapal nelayan Muara Angke dengan latar belakang apartemen yang sedang dibangun.

Setelah menunggu sekitar 15 menit, Endi, petugas yang ditelpon sebelumnya muncul dan mengajak kami untuk naik ke kapal. Ia menyuruh kami untuk masuk ke kapal “Kurnia I”, yang akan membawa kami ke Pulau Tidung. Kapal Kurnia I sandar berjejer dengan kapal penumpang lainnya, dan berada di urutan ke empat dari dermaga. Jadi kami harus melewati tiga kapal lainnya untuk sampai di kapal Kurnia I.

Kapal-kapal penumpang umumnya hampir berukuran sama dengan lebar rata-rata sekitar 4 meter dan panjang kurang lebih 25-30 meter. Ruang penumpang terdiri dari 2 lantai, lantai bawah terdapat ruang kemudi, dan ruang atas yang ketinggian plafonnya sekitar 1 -1,3 meter, sehingga orang harus menunduk untuk bisa bergerak. Di kapal tidak ada kursi penumpang, lantai kapal dialasi dengan karpet plastik untuk tempat duduk. Jadi para penumpang duduk lesehan di dalam kapal. Kapal Kurnia dijejali sekitar 200 orang penumpang dengan duduk lesehan di lantai.

IMG_4843Suasana di lantai atas Kapal Kurnia I.

Pagi itu Sabtu di long-weekend, ada banyak sekali penumpang yang sudah tiba di pelabuhan Muara Angke. Sekitar jam 6.20 pagi, kami sudah duduk di lantai atas kapal Kurnia I, menunggu kapal untuk segera berlayar ke Pulau Tidung. Sambil menunggu beberapa camilan sudah mulai dikeluarkan, ada coklat, biskuit dan tidak lupa air minum. Saya perkirakan jam 7 pagi kapal akan berangkat, meski kami diberitau jadwalnya jam 6 pagi. Tapi tunggu punya tunggu, sampai jam 7.30 Kapal Kurnia I belum juga bergerak, sementara beberapa kapal penumpang lain sudah meninggalkan dermaga.

Akhirnya jam 8 pagi kapal mulai bergerak, setelah serombongan penumpang terakhir masuk. Rupanya kapal menunggu rombongan terakhir ini yang berjumlah sekitar 15 orang. Kapal Kurnia I bergerak meninggalkan Muara Angke, suara kapal semakin menderu manakala melewati area pelabuhan. Dari buritan terlihat puluhan kapal ikan di dermaga dan dibelakangnya terlihat bangunan apartemen. Lama-kelamaan bangunan apartemen terlihat semakin kecil seiring semakin jauh kapal meninggalkan Muara Angke.

Setelah berlayar sekitar 2,5 jam, akhirnya kapal sampai di pelabuhan Pulau Tidung. Dermaga pulau ini juga tidak terlalu besar, sehingga penumpang yang hendak turun harus melewati kapal lain yang sandar persis di dermaga.

IMG_4856Kedua sahabat ini terlihat ceria setelah 2,5 jam berlesehan ria di kapal.

Seturun dari kapal, kami menemui mas Endi yang ternyata juga ikut di kapal. Endi kemudian mempertemukan kami dengan Anto, petugas yang menjadi pemandu kami selama di Tidung. Mas Anto menawarkan kami apakah akan berjalan kaki atau menumpang becak bermotor ke penginapan. Kami tanya seberapa jauh ke panginapan, Anto bilang tidak terlalu jauh. Akhirnya kami minta naik becak bermotor saja, tapi harus bayar sendiri karena tidak menjadi bagian dari paket wisata kami. Ongkos becak sekali jalan Rp. 15.000, setelah ditawar “guide” kami Anto. Kalau nawar sendiri ke tukang becak, kata Mas Anto bisa lebih mahal.

IMG_4857Enrico (bertopi berkacamata), dan adiknya Aldo di “betor” (becak motor), sementara Dennis menumpang dibelakang pengemudi. Inilah jalan yang ada di pelabuhan setelah penumpang turun di dermaga.

Dari pelabuhan Tidung, kami menyusuri jalan-jalan sempit, yang lebarnya sekitar 1,5 – 2 meter, kalau ada dua betor berpapasan, maka salah satu harus menepi. Jalan di Tidung tidak ada yang lebar. Di Tidung, angkutan yang ada hanya betor, saya tidak menjumpai. Sepertinya, mobil tidak diperbolehkan beroperasi di Tidung.

IMG_4862Tiba di depan rumah penginapan. Enrico masih sempat angkat jempolnya.

IMG_4861Maya dan Meilina siap-siap turun dari “Betor”.

Penginapan kami adalah rumah penduduk yang disewakan bagi pengunjung. Rumah terdiri dari ruang tamu, 2 buah ruang tidur dilengkapi AC, ada ruang tengah dengan perangkat televisi, 2 buah kamar mandi, dan sebuah dapur yang ditutup. (Tidak dipergunakan oleh tamu wisata). Rumah ini perabotannya sedehana sekali, tapi cukup bersih. Ruang tamu hanya disediakan karpet. Ruang tidur tersedia kasur pegas, dan di ruang tengah juga dilengkapi kasur pegas plus kasur karpet. Jadi kalau mau di isi pengunjung, untuk tidur, rumah ini bisa diisi antara 6 sampai 12 orang.

Sesampainya di rumah penginapan, di ruang tamu sudah tersedia makanan paket yang disiapkan oleh “travel agent”. Makanan di gelar diatas karpet, ada nasi dalam termos, sayur sop yang masih panas di termos, tahu goreng, ikan tongkol balado, potongan semangka, kerupuk dan tentu saja air mineral.

IMG_4863

Karena kami sudah lapar, maka makanan langsung disantap, apalagi pagi-pagi dari Bintaro, kami belum sarapan, kecuali camilan coklat di kapal. Cuaca yang panas siang itu, ditambah kekenyangan, menjadikan kami agak malas untuk bergerak, jadi kami beristirahat dulu berbaring-baring di kamar.

Sekitar jam 3 sore, saya mengajak peserta untuk mulai menjelajahi Pulau Tidung. Mas Anto, pemandu kami, sudah menyiapkan 6 buah sepeda di depan penginapan. Lalu kami masing-masing mengambil satu sepeda. Rute pertama kami ke arah Barat dari penginapan, sekitar 100 meter, terdapat Kantor Camat Kepulauan Seribu Selatan. Ke arah Barat lagi, masih ada tanah kosong, karena itu kami berbalik menuju ke Timur.

Melalui perkampungan rumah penduduk kami menuju “Jembatan Cinta”, yang berada di paling Timur Pulau Tidung. Sepanjang perjalanan, terdapat banyak rumah-rumah yang disediakan bagi pengunjung yang datang ke Tidung. Saya bisa melihat ada banyak rumah penginapan yang merupakan rumah penduduk.

IMG_4866

Mendekati “Jembatan Cinta”, terdapat beberapa warung yang berjejer menawarkan makanan dan minuman. Kami mampir untuk menikmati es kelapa muda sebelum ke arena permainan “banana boat”. Oh, ya sebelumnya sepeda harus diparkir di tempat khusus dan membayar uang parkir sebesar Rp. 2.000 untuk satu sepeda.

IMG_4869Nimkatnya es kelapa muda di hari yang cukup terik

Setelah minum es kelapa muda, keponakan dan anak saya sudah tidak sabaran untuk segera ber banana boat. Tentu harus memakai jaket pelampung dulu seperti foto dibawah ini.

IMG_4875

Nah, sekarang rombongan sudah siap untuk berlayar.

IMG_4878

Mejeng dulu ya untuk diambil fotonya.

IMG_4879Dari kiri ke kanan: Meilina, Maya, Enrico, Aldo, Dennis.

Speed boat yang menarik “pisang” berputar beberapa kali dan melintasi jembatan cinta, sebelum akhirnya kembali ketempat asal. Di bagian akhir, pengemudi speed boat bermanuver sehingga kelima orang di “banana boat” terjungkal ke air.

IMG_4888Naik “banana boat” merupakan bagian dari paket wisata kami. Jadi tidak perlu bayaran tambahan. Tapi namanya anak muda, tentulah tidak cukup hanya berbanana boat saja, Aldo, Enrico dan Dennis minta permainan air lainnya. Dan untuk itu harus antri. Setiap permainan tambahan dikenakan bayaran Rp. 35.000 per orang.

IMG_4884Dennis dan kawan-kawan habis “dilemparkan” dari “banana boat”.

IMG_4894Inilah Jembatan Cinta yang menghubungkan Pulau Tidung Utama dengan pulau kecil di sebelah Timurnya. Saya tidak sempat cari tau kenapa disebut jembatan cinta.

IMG_4897Aldo, Dennis dan Enrico siap-siap permainan yang ditarik speed boat.

IMG_4899Ya, lambaikan tangan dulu sebelum berputar-putar di tarik speed boat.

IMG_4905

IMG_4909Sehabis permainan kedua, ternyata Aldo, Dennis dan Enrico masih mau mencoba permainan lain yang lebih menantang yaitu “donut boat”. Tumpangannya memang berbentuk donat, dan bisa ditumpangi 3 orang. Pemainan “donut boat” ini ternyata lebih seru, karena “donut”nya lebih “bergoyang”, sehingga manuver yang dibuat speed boat sangat mengguncang adrenalin anak muda itu. Dennis bilang malahan jadi kurang nikmat karena sulit membuka mata. Percikan air laut sangat keras, sehingga penumpang tak sempat memuka mata.

IMG_4911Sambil menunggu anak dan keponakan bermain, “parhuta-huta” pemilik blog ini mejeng disamping istri yang baru saja berbasah ria di “banana boat”.

IMG_4867Sehabis permainan air, kami mampir lagi untuk menikmati otak-otak dan kelapa muda. Tenyata sudah hampir sore juga.

Matahari semakin miring ke Barat, jadi kami kembali ke penginapan.

IMG_4918Hampir semua sepeda yang disewakan di Pulau Tidung, dilengkapi keranjang di bagian depan. Yak, senyum dan angkat tangan…!

IMG_4921Kedua ibu ini memang selalu kompak, jadi bersepeda juga mesti bersama.

IMG_4922Jalan sore-sore….

IMG_4923

Maya seperti baru bisa naik sepeda aja.

IMG_4924Senja di Pulau Tidung….

IMG_4926Siluet senja di tepi pantai….

Ketika kembali ke rumah penginapan, saya dan Maya mampir ke sebuah losmen di dekat tempat kami menginap. Penginapan yang satu inti memang khusus disiapkan bagi wisatawan, jadi tidak merangkap rumah tinggal penduduk. Penginapan “Ananda” hanya terdiri dari sekitar 5 kamar, dan sewa perkamar pemalamnya sekitar Rp. 400.000. Menurut pengelolanya, masing-masing kamar kalau diisi rombongan bisa memuat sampai 8 orang. Maya mencoba melihat fasilitas kamar penginapan Ananda, tapi segan mau masuk, karena hari itu semua kamar terisi pengunjung. Di sebelahnya ada juga penginapan lainnya yang hampir sama dengan penginapan Ananda, dan didepan kamar-kamar itu sudah disiapkan beberapa kursi dan sebuah panggung kecil. Di belakang panggung terpampang spandung bertuliskan: “We love Yoda Idol”.

Menurut pengelola penginapan, Yoda, finalis Indonesian Idol memang nginap di penginapan sebelah, dan malam itu akan nyanyi dengan teman-temannya. Penginapan Yoda hanya berjarak sekitar 20 meter dari rumah penginapan kami. Mengetahui itu Dennis jadi mau melihat Yoda nyanyi.

IMG_4943Jempol Dennis buat diri sendiri atau buat Yoda yang ada di latar belakang.

IMG_4940“Yoda Idol” konser mini di Tidung, penontonnya teman-temannya sekitar 20 orang, termasuk kami.

IMG_4934Dennis dan Aldo nongkrong di tepi pantai menyaksikan Yoda Idol “ngamen” di antara teman-temannya.

IMG_4948Meilina dan Maya, duduk di teras penginapan,  ikut nonton Yoda nyanyi. Yoda menyanyikan beberapa lagu, teman-temannya memberi tepukan. Salah satu lagu barat yang dinyanyikan Yoda adalah lagunya Bee Gees “How Deep is Your Love”, dan pada beberapa spelling kata lagu itu Yoda “terpeleset lidah”. Saya jadi ingat Juri Indonesian Idol yang mengomentari Yoda dengan “Kebumen English”.

Sekitar jam 9 malam kami beranjak meninggalkan “pentas” Yoda, kembali ke rumah penginapan untuk tidur. Saya langsung tergeletak di kamar, karena sudah merasa kelelahan. Maya dan Melinina tidur dikamar yang satunya. Sementara Aldo, Dennis dan Enrico masih menyempatkan nonton TV.

Besok paginya, Anto, si pemandu datang, dan anak saya dan keponakan sepakat untuk ber snorkling sebelum pulang ke Jakarta. Dalam jadwal semula, jam 10 kami sudah kembali ke Jakarta dengan kapal. Tapi Dennis dan kawan-kawan mau snorkling, jadi kami minta Anto mencarikan Kapal yang berangkat sekitar jam 12. Pagi itu hujan gerimis turun, Dennis, Enrico, Aldo, Maya dan Meilina pergi snorkling diantar Anto, sementara saya menjelajah pulau Tidung sendirian dengan sepeda. Sekitar jam 10 para pesnorkling sudah kembali ke penginapan di tengah hujan gerimis yang terus turun.

Setelah berkemas-kemas, kami menuju dermaga Pulau Tidung. Di dermaga Anto memberi kami masing-masing tiket kapal yang bertarif Rp. 33.000 sekali jalan. Kapal Cahaya Laut akan membawa kami pulang ke Muara Angke.

IMG_4977Dennis dan mom nya berpose dulu di dermaga Tidung.

IMG_4987Suasana lesehan di Kapal Cahaya Laut.

IMG_4989Hujan yang turun dan atap kapal yang bocor, sehingga lantai kapal basah. Kami harus duduk di lantai kapal yang basah selama 2,5 jam ke Muara Angke.

******

Info:

Paket wisata ke Pulau Tidung untuk 6 orang, harganya Rp 300.000 per orang. Paket ini sudah termasuk tiket kapal pulang pergi, nginap di rumah penduduk (yang ber kamar tidur AC), sewa sepeda sehari, makan 3 kali, dan permainan “banana boat”.  Semakin banyak peserta paket harga bisa di turunkan. Paket yang lebih mahal adalah bila jumlah permainan air bertambah, atau kalau mau sewa kamera tahan air untuk snorkling.

Cobalah berlibur ke Pulau Tidung di Kepulauan Seribu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s