Belajar menjadi ortu dewasa

IMG_2233

Daniel menunjukkan “bidikannya” ke ompungnya.

Pengalaman hidup menjadi orang tua ternyata tidak pernah habis-habisnya. Mulai dari merasakan adanya janin di dalam kandungan, sampai mengantarkan jenazah ke makam, selalu ada banyak cerita. Ada cerita gembira, ada cerita memilukan, kadang hampir putus asa, di lain hari amat bersyukur akan nikmat Tuhan yang besar. Lain lagi cerita orang tua yang tak mampu memberi makanan sehat bagi anaknya.  Atau cerita ibu yang menghadapi kepedihan ditinggal keluarga. Semua cerita silih berganti sampai tiba hari tidak bisa lagi bercerita dan tidak bisa menikmati cerita kehidupan.

Beberapa bulan berselang, saya merasa lega sebagai orang tua, ketika anak saya Dennis  lulus dan diterima menjadi mahasiswa di salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Ketika itu saya merasa lega, karena saya pikir dengan menjadi mahasiswa disitu, sedikit banyak arah kehidupannya bisa menjadi lebih baik. Dengan diterimanya di jurusan itu, saya merasa dan berkeyakinan bahwa anak saya tidak akan terlalu sulit mencari pekerjaan nantinya setelah lulus kuliah. Hal itu membuat saya merasa lega sebagai orang tua.

Tapi ternyata cerita kehidupan sebagai orang tua (ortu) tidak hanya sampai disitu. Beberapa minggu lalu anak saya Daniel sangat sibuk di kampusnya.  Sangking sibuknya kalau di telpon bicaranya buru-buru, terkesan ingin cepat-cepat menyudahi pembicaraan. Saya tidak bisa menghalanginya, saya pikir dia memang sedang sibuk. Saya cuma bisa berharap dan berdoa semoga dia tetap bisa sehat dan menjaga diri.

Meski begitu saya tetap memperhatikan update di jejaring sosial anak saya. Saya menjadi sedikit cemas membaca kicauannya di jejaring sosial, karena kesibukan di kampus itu, dia sampai tidak tidur dua hari dua malam. Saya kemudian meminta istri saya untuk menelpon Daniel untuk mengingatkan  agar anak saya menjaga kondisi fisik dan jangan memaksa sampai tidak tidur. Saya juga mempuat sms yang “panjang” untuk mengingatkan dia. Terus terang saya cemas akan kondisi fisik  anak saya ini, dia pernah sampai pingsan, karena lupa makan seharian.

Itu hanya salah satu contoh kecemasan saya terhadap anak saya, saya jadi teringat ibu saya. Saya membayangkan bagaimana perasaan ibu saya dengan kondisi anak-anaknya pada waktu lalu sampai sekarang. Suatu hari saya pernah bilang pada ibu: “Sudahlah omak, jangan terlalu pikirkan dia, toh anakmu  sudah dewasa dan dia tau apa yang mesti dilakukan untuk dirinya“, waktu itu ibu begitu kuatir akan keadaan salah satu adik saya. Saya enteng saja bilang ke ibu jangan terlalu pikirkan keadaan itu. Ketika saya menghadapi anak saya tidak tidur dua hari dua malam karena sibuk di kampus, saya sudah cemas dan gemas. Saya baru tersadar sekarang, bagaimana cemasnya ibu saya waktu itu.

Hari Minggu kemarin (9/12) saya lebih terenyuh lagi ketika bertemu dengan pasangan ibu bapak yang sedang mempergumulkan keadaan putrinya. Putri kesayangan yang dibanggakan bapak tersebut ternyata semasa kuliah (yang baru selesai beberapa bulan lalu) mengingkari keimanan yang pernah diyakini dan dipelajarinya. Ia yang tadinya seorang yang sering aktif di gereja, sekarang berbalik dan menyangkal Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Si bapak menceritakan itu kepada saya dengan sedih. Percakapan kami terputus karena kemudian ada tamu lain yang harus kami ladeni bicara. Tapi siibu menyempatkan curhat lagi kepada saya, tentang putrinya itu. Ia curhat hampir menangis di tengah orang banyak. Dia merasa gagal sebagai ibu, mengandung, melahirkan, membesarkan, menyekolahkan, dan mendidik putrinya.  Dia merasa sakit sekali, tapi tak berdaya. Saya bisa memahami keadaan siibu, betapa besar beban pergumulan yang dia hadapi. Saya tidak bisa berkata banyak selain membesarkan hatinya agar tabah dan lebih banyak berdoa.

Sebagai orang tua saya terhenyak mendengar kisah bapak dan ibu itu. Apakah yang akan terjadi dengan saya dan anak-sanak saya kelak. Saya merasa menjadi orang tua yang belum dewasa.  Hanya Tuhan yang tau apa yang akan terjadi pada saya dan keluarga.

Tuhan Yesus, ajari dan bimbinglah kami agar senantiasa berada di jalan-Mu.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s