Halleluya….Amin..

Alkisah seorang bapak yang rajin melakukan ritual ibadah, ia sering hadir dipersekutuan, ke gereja nyaris tidak pernah absen. Pak Jumollang sudah dikenal orang yang rajin beribadah. Rumahnyapun banyak dihiasi pernak-pernik kegerejaan, mulai dari hiasan dinding, kalender, poster, yang mengutip ayat-ayat Alkitab. Para tetangga sering menyaksikan kegiatan Pak Jumollang. Jemaat gereja sudah faham kebiasaan pak Jumollang. Pendek kata banyak orang yang mengatakan Pak Jumollang orang yang rajin beribadah.

Para tetangga dan kerabat sudah maklum akan perilaku Pak Jumollang yang sangat rajin beribadah. Jemaat gereja tidak sedikit yang memuji kebiasaan Pak Jumollang. Sedemikian rajinnya beribadah, bahkan kuda yang dipelihara pak Jumollang juga dilatih dengan kebiasaan tata ibadah. Pak Jumollang mempunyai seekor kuda yang tangkas dan cerdas. Setiap hari Pak Jumollang dengan tekun melatih kudanya. Untuk berjalan, perintah kepada kudanya adalah: “Halleluya”, sedangkan perintah berhenti adalah: “Amin”. Selama berbulan-bulan Pak Jumollang melatih kudanya dengan semangat. Akhirnya, kuda Pak Jumollang benar-benar menguasai perintah “Halleluya” dan “Amin”.

Bila Pak Jumollang menaiki kudanya, ia berkata: “Halleluya”, maka kudanya berjalan. Semakin keras pak Jumollang berkata “Halleluya”, maka semakin kencang si kuda berlari. Bila Pak Jumollang berkata “Amin”, maka kuda langsung berhenti. Pak Jumollang sangat bangga dengan kudanya. Tetangga dan kerabatnya terkagum-kagum dengan kehebatan kuda Pak Jumollang. Berita kehebatan kuda Pak Jumollang segera tersiar ke seluruh kampung, bahkan ke kampung-kampung tetangga. Kabar itu juga segera menyebar kepada seluruh jemaat gereja.

Salah seorangSintua, (penatua, pengurus gereja) penasaran dan ingin membuktikan kebenaran kabar yang ia dengar tentang kuda Pak Jumollang.   Pak Sintua mendatangi rumah Pak Jumollang.

Hebat kali kudamu itu Pak Jumollang, apa betul bisa diperintah dengan HALLELUYA dan AMIN?, tanya  pak Sintua.

Silahkan bapak naik ke kuda dan perintahkan saja pak”, Pak Jumollang berkata.

Pak Sintua pun mencoba naik keatas kuda, lalu pelan ia berkata: “Halleluya”,  lalu kuda pun berjalan dengan lambat-lambat. Pak Sintua terkagum-kagum, lalu ia berkata: “Amin”, kuda lalu berhenti. Pak Sintua sangat senang dengan kuda itu, ia memacu kuda berkeliling kampung yang dekat dengan tepi hutan. Pak Sintua tidak mengetahui kalau kuda takut kepada ular. Ketika sedang berlari-lari itu, tiba-tiba seekor ular sendok muncul di depan kuda. Sang kuda sangat terkejut dan kemudian berlari sekencang-kencangnya. Pak Sintua yang menunggangi kuda juga kaget bukan main, ia hampir terlempar dari pelana kuda. Pak Sintua mencengkeram tali kuda seerat-eratnya, dan ia sampai lupa memerintah kuda. Kuda terus berlari kencang, dan di depan mereka ada jurang yang dalam. Dalam keadaan ketakutan, Pak Sintua teringat pesan Pak Jumollang, lalu dengan keras ia berteriak: “AMIINN…”. Secara mendadak kuda berhenti dengan tiba-tiba persis di bibir jurang.

Pak Sintua merasa sangat bersyukur, kalau terlambat sedetik saja, kuda dan Pak Sintua akan jatuh ke dalam jurang yang dalam.  Setelah menarik nafas dalam-dalam, sebagai pengurus gereja, pak Sintua mensyukuri dia selamat. Dengan suara lega ia berkata: “Puji Tuhan,….Halleluya…..”. Mendengar itu kuda langsung bergerak dan berlari…. dan  kuda beserta Pak Sintua terjatuh kedalam jurang….

********

Cerita diatas diadopsi dari ilustrasi yang disampaikan dalam khotbah oleh Pendeta C. Harahap di gereja HKBP Kebayoran Baru, tanggal 30 Desember 2012 pada kebaktian pagi.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s