Pertumbuhan yang menumbuhkan

dande kecil_0009Menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Saya jadi meyakini hal itu setelah menyaksikan ada orang yang tetap berjiwa kekanak-kanakan di usia yang sudah cukup tinggi. Kalau saya merasa lebih dewasa dari kondisi kemarin atau dari kondisi tahun lalu, itu adalah karena saya memilih untuk bertumbuh. Memilih untuk bertumbuh mengandung konsekuensi bahwa saya mau belajar, mau memahami diri sendiri, memahami lingkungan sekitar serta memahami orang-orang yang berada di lingkungan. Saya bisa saja memilih tidak mau bertumbuh dan membiarkan diri saya tidak berubah, membiarkan diri tidak bergerak dari satu posisi ke posisi lain yang lebih baik, meski ada tuntutan dari sekeliling yang menginginkan saya bergerak.

Bergerak dan bertumbuh selain mempunyai konsekuensi belajar, juga menuntut adanya keinginan untuk menerima kondisi sekitar yang kadangkala tidak mendukung pertumbuhan. Dalam kondisi itu proses belajar akan semakin mendewasakan dan semakin mau menerima sesuatu yang tidak selalu mendukung pertumbuhan.

Orang yang memilih tidak mau bertumbuh adakalanya membuat orang disekitarnya menjadi tidak nyaman. Apalagi kalau orang-orang disekitarnya punya kepentingan atau setidaknya ada keterkaitan dengan orang yang tidak mau bertumbuh itu. Seorang anak balita yang menangis dan ngotot minta permen, ia tidak akan berhenti menangis kalau belum mendapatkan permen yang diinginkannya.  Sia anak kecil tidak peduli apakah ditempat itu ada permen atau tidak. Seseorang harus memberi permen kepada anak kecil itu, barulah ia berhenti menangis.

Kawan saya Dody (nama yang disamarkan), ngotot bahwa dia lebih berhak atas peninggalan orang tuanya, ketimbang saudaranya yang lain. Alasannya karena saudaranya sudah pernah menikmati fasilitas yang dimiliki orang tuanya, sementara Dody merasa belum pernah menikmati fasilitas itu. Dengan kemampuannya sendiri Dody sudah dapat mempunyai fasilitas seperti yang pernah dinikmati saudaranya. Sekarang setelah orang tuanya tidak ada, Dody menuntut bagian yang lebih besar dari saudaranya, dan itu harga mati yang mau dia pertahankan. Kalau perlu melalui proses hukum di pengadilan. Dody menegaskan tuntutan dan kemauannya dengan gesture dan bahasa tubuh yang sedemikian rupa sehingga ia terlihat geram dan ngotot.

Bagi saya Dody memang dengan sadar memilih cara yang dia inginkan, yang menurut saya adalah cara kekanak-kanakan. Hal itulah yang saya sebut diatas sebagai memilih tidak bertumbuh. Dody memilih tetap sebagai anak kecil yang menangis dan ngotot minta permen. Seandainya Dody mau bertumbuh, ia akan menjadikan dirinya legowo meski ia tidak pernah menikmati fasilitas peninggalan orang tuanya. Selain karena ia sudah bisa mendapatkan fasilitas seperti yang dinikmati saudaranya dengan kemampuan diri sendiri, tapi juga bahwa saudaranya menggunakan fasilitas itu karena pada saat itu saudaranya tidak mampu memiliki fasilitas seperti milik orang tua mereka.

Memilih tidak mau bertumbuh sebenarnya termasuk pengingkaran terhadap proses alam. Di alam, mahluk hidup bertumbuh dari waktu ke waktu. Orang yang mempertahankan kelembaman diri dan tidak mau bergerak, tidak mau bertumbuh akan menerima konsekuensi alam.

2 thoughts on “Pertumbuhan yang menumbuhkan

  1. Shalom, pak.. Saya suka paragraf terakhir, “Memilih tidak mau bertumbuh sebenarnya termasuk pengingkaran terhadap proses alam. Di alam, mahluk hidup bertumbuh dari waktu ke waktu. Orang yang mempertahankan kelembaman diri dan tidak mau bergerak, tidak mau bertumbuh akan menerima konsekuensi alam”. Sehingga manakala secara sadar, qta tetap memilih untuk bersikeras memaksakan akan suatu hal dmna sebenarnya ada solusi bijak atas permasalahan tersebut…maka saat itu sebenarnya qta sedang mengingkari proses alam. Memang menjadi dewasa adalah PILIHAN. Gbu, Sir.

    Like

    • Trims mbak Resyangga. Sebenarnya apa yang saya tulis diatas adalah pengalaman nyata saya dengan seseorang yang saya sebut sebagai Dody. Sengaja saya samarkan dengan harapan agar tidak ada yang merasa ditelanjangi dan dirugikan. Saya coba tuliskan dan menjadikannya kasus umum, Dengan menuliskannya ada kelegaan dalam hati saya.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s