Masyarakat rumpi

dande kecil_0001Mengobrol pasti dibutuhkan semua orang, dengan mengobrol seseorang menyampaikan sesuatu maksud kepada orang lain. Perdefinisi mengobrol sifatnya netral, mengobrol menjadi negatif atau positif kalau mereka yang mengobrol menjurus ke hal negatif atau positif. Berdebat, yang sebenarnya bagian dari mengobrol juga,  merupakan obrolan yang beradu pendapat. Sementara gossip juga adalah obrolan ringan yang bisa mempunyai konotasi negatif. Rumpi juga obrolan ringan, kadang berupa kelakar, atau ledekan, tapi bisa juga sama dengan gossip, tidak jarang ngerumpi juga membicarakan bisnis atau proyek besar.

Merumpi, atau lebih sering disebut ngerumpi, sering menjadi kebiasaan banyak orang. Lihatlah ke sekeliling, hampir di semua tempat orang ngerumpi, di rumah, di pasar, di cafe, di kantor, di bis kota, di perjalanan, bahkan di rumah ibadah pun orang sering ngerumpi. Hebatnya, kalau biasanya ngerumpi ada beberapa orang berhadapan saling bicara, sekarang ngerumpi bisa dilakukan melalui jarak jauh dengan menggunakan HP, internet, media sosial dan alat komunikasi lainnya. Seorang yang sedang ada di lapo tuak di Balige bisa ngerumpi dengan temannya yang ada di Frankfurt, Jerman atau teman yang ada di Busan, Korea misalnya. Kebiasaan ngerumpi jarak jauh melalui media sosial semakin hari semakin menjadi-jadi.

Sedemikian perlunya orang ngerumpi, di mana-mana kita bisa melihat orang yang seolah tidak mau lepas dari alat komunikasinya. Ada orang yang punya alat telpon seluler sampai 4 sekaligus, belum lagi ditambah dengan tablet atau i-pad. Banyak orang sambil berjalan terus berbicara melalui telpon dan sambil mengisi enerji tambahan melalui power bank. Seolah tidak mau sedetikpun tidak stay connected atau tidak on line.

Ada yang sambil makan selalu on line meng-update status, di gereja terus menerus ber sms ria. Saya bahkan pernah melihat seorang di gereja sambil bicara menelepon saat jemaat menyanyikan lagu pujian. Kalau yang terakhir ini sudah sangat keterlaluan, kebetulan orang tersebut duduk di bagian depan saya. Mungkin kalau ada aplikasi dimana seseorang yang sambil tidur tapi bisa terus meng-update status atau chatting, maka program aplikasi atau fitur seperti itu pasti langsung di download rame-rame.

Masyarakat rumpi, atau bahasa lainnya masyarakat chatting menjadi konyol, ketika sesorang tidak bisa mengendalikan diri dari menggunakan alat komunikasi secara wajar dan proporsional. Saya tidak bisa membayangkan, seperti apa komunikasi manusia di tahun 2020 atau di tahun 2025 nanti. Teknologi komunikasi pasti akan semakin cepat berkembang, alat komunikasi tablet atau i-pad yang sekarang, dalam dua tiga tahun lagi akan ditinggalkan orang. Tapi kalau sikap manusia tidak berubah dalam penggunaan alat komunikasi, semua kemajuan teknologi itu justru akan memenjarakan orang di lingkungan masyarakat rumpi yang kurang bermartabat. Apakah saya terlalu pesimis?

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s