Pencemaran udara bisa memicu penyakit jantung koroner?

Prigen 084Ini peringatan bagi penduduk kota besar yang tingkat pencemaran udaranya tinggi. Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh Plos Medicine membeberkan hasil penelitian di 6 kota besar di Amerika, bahwa ada korelasi antara lamanya manusia terpapar dengan pencemar udara PM2,5 dengan tingkat ketebalan pembuluh darah intima-medial thickness (IMT), yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya serangan penyakit jantung koroner (cardiavascular disease, CVD). Menurut penelitian itu semakin rendah kadar PM2,5 di udara yang dihirup, maka semakin rencah pula tingkat terjadinya IMT. Penelitian dilakukan terhadap kurang lebih 6800 orang dari tahun 2000 sampai 2005.

Penelitian yang dilakukan di 6 kota Amerika, ,Baltimore, MD; Chicago, IL; Forsyth County, NC; Los Angeles County, CA; Northern Manhattan and Southern Bronx, NY; and St Paul, MN diterbitkan pada tgl 23 April 2013 mencatat hubungan yang kuat antara tingkat pencemara udara; terutama yang disebabkan oleh PM2,5; dengan terjadinya gangguan pada saluran pembuluh darah. Penelitian ini menjadi penting untuk menyusun suatu upaya penurunan pencemaran udara perkotaan.

Sebagaimana diketahui, PM2,5 adalah pencemar udara yang berasal dari hasil pembakaran minyak bumi, terutama dari kendaraan bermotor. Sumber utama pencemar PM2,5 perkotaan adalah  emisi gas buang kendaraan bermotor. PM2,5 adalah partikulat dari asap pembakaran yang mempunyai ukuran diameter kurang dari 2,5 micro milimeter, atau kira-kira 1/30 dari ukuran rambut manusia. Sedemikian kecilnya ukuran pencemar ini, sehingga hampir semua jenis penyaring (filter atau masker) tidak mampu menahan pencemar ini masuk ke dalam paru-paru manusia.

Di Indonesia, saat ini pencemar partikulat yang umum di monitor adalah PM10, yaitu partikulat yang ukurannya 4 kali lebih besar dari PM2,5. Indikator pencemaran udara yang lazim digunakan di Indonesia masih lebih longgar, yaitu partikulat yang lebih besar. Bila indikator pencemar yang digunakan adalah PM2,5, maka nilai pencemaran udara perkotaan di Indonesia akan menjadi lebih besar atau dalam bahasa umumnya dikatakan lebih buruk.

Dengan hasil penelitian diatas, maka pemicu terjadinya penyakit jantung menjadi bertambah. Bila selama ini dikenal ada 5 pemicu penyakit jantung, yaitu merokok, kegemukan, tekanan darah tinggi, kolesterol, dan stress, maka pemicu di perkotaan bertambah dengan pencemaran udara. Pemicu penyakit jantung yang dikenal selama ini adalah yang langsung berhubungan dengan pola atau perilaku hidup seseorang, maka sekarang dengan pemicu pencemaran udara, perlu ada perhatian pemerintah yang sangat serius untuk menurunkan tingkat pencemaran udara.

Semakin banyak jumlah kendaraan bermotor, maka semakin tinggi konsentrasi pencemaran udara, dan akibatnya semakin banyak orang yang beresiko terkena penyakit jantung. Semakin macet lalulintas di perkotaan, maka akan bisa meningkatkan resiko penyakit jantung. Ini peringatan bagi banyak orang.

Untuk membaca lebih lanjut penelitian dimaksud, silahkan klik disini.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s