Ruang tinggal 10 persen dari 3 millimeter

kateter jantungPernahkah anda membayangkan satu saluran pipa yang diameternya hanya 3 millimeter kemudian tersumbat, dan tinggal 10 persen yang terbuka, atau yang dapat berfungsi. Itu artinya pipa itu hanya tinggal berdiameter 0,3 millimeter. Tapi pipa ini sangat penting dalam kehidupan manusia. Saluran yang saya maksud adalah pembuluh darah di jantung yang hanya berfungsi dengan diameter 0,3 millimeter. Gambar disebelah adalah foto kateter dari jantung yang menunjukkan 3 pembuluh darah utama yang mengalirkan darah untuk membawa oksigen ke jantung.

Saya ingin menceritakan bagaimana kronologis proses katetar jantung yang saya alami. Siapa tau cerita ini bisa menjadi inspirasi bagi mereka yang juga mempunyai kecenderungan mengidap jantung koroner.  Untuk diketahui, saya dinyatakan positif mengidap penyakit jantung koroner setelah hasil test dengan treadmill menunjukkan fungsi jantung tidak lagi bekerja maksimal sebagaimana mestinya. Namun hasil treadmill tersebut belum bisa menunjukkan seberapa jauh tingkat penyakit jantung yang saya alami. Artinya test treadmill belum bisa menunjukkan seberapa “parah” fungsi jantung.  Untuk mengetahui dengan lebih baik, dokter menyarankan untuk melakukan test kateterisasi jantung.

Setelah menyelesaikan keperluan administrasi, jadwal pelaksanaan kateterisasi ditentukan. Penentuan jadwal itu perlu, agar pemakaian fasilitas ruang dan peralatan kateterisasi bisa diatur sesuai dengan jadwal dokter spesialis jantung yang menanganinya. Kali ini saya melakukan kateterisasi di RSPAD Gatot Subroto, dan dokter spesialis jantung yang akan menangani adalah dr. Hari Utomo, seorang dokter senior spesialis jantung di RSPAD. Sebelum pelaksanaan kateterisasi, dilakukan pemeriksaaan darah untuk mengetahui kondisi pasien terutama, kadar kolesterol, gula, laju endapan darah dan beberapa parameter medis lainnya. Hasil test darah itu diperlukan dokter untuk mengantisipasi segala tindakan yang diperlukan pada saat pelaksanaan kateterisasi.

Pagi itu saya dibawa menuju ruang kateterisasi jantung RSPAD Gatot Subroto di lantai 2. Memasuki ruangan, disana sudah menunggu 3 orang perawat, ibu Danu, Pak Rahmat dan Pak Zainal yang akan membantu dr. Hari Utomo melakukan kateterisasi. Saya memandangi ruang kateterisasi yang sepintas saya lihat mirip dengan ruang bedah seperti yang pernah saya lihat di TV dan di film. Di tengah ruangan terdapat “meja operasi” dimana pasien akan direbahkan. Menggantung di plafond terdapat sejumlah peralatan yang saya tidak tau namanya, tapi kelihatannya fungsinya untuk “memotret” pasien yang akan menjalani kateterisasi. Di sebelah  “meja operasi” menggantung empat buah layar monitor yang nantinya menunjukkan detail gambar jantung sebagaimana gambar diatas.  Beberapa perlengkapan medis lainnya termasuk jarum infus dan lain-lain.

Ibu Danu menyuruh saya untuk naik dan berbaring di “meja operasi”, saya pun merebahkan diri di meja operasi itu. Oh ya, sebelumnya saya sudah diminta membersihkan diri, mandi dan hanya menmakai sarung saja, pakaian dalam sudah dilepas sebelum saya masuk ke ruang kateterisasi. Setelah berbaring, ketiga perawat mulai bekerja. Ke atas tubuh saya diletakkan kain-kain yang nantinya melindungi tubuh saya dari radiasi yang tidak diperlukan. Jarum infus dipasang di tangan kiri, begitu juga peralatan untuk memonitor kondisi tubuh, ada yang dijepitkan ke ujung jari, sebagian lagi di tempelkan ke dada, ada juga yang ditaruh dibagian punggung.

Ketiga perawat memakai “seragam” operasi dari bahan berwarna hijau. Pakaian operasi itu melindungi para perawat dari radiasi selama kateterisasi.  Tidak lama kemudian dr. Hari Utomo muncul, beliau sudah mengenakan seragam operasi juga, dilengkapi masker, sarung tangan dan penutup kepala.

“Selamat pagi pak Togar!”, dr Hari menyapa dengan ramah.

“Selamat pagi dokter”, saya membalas.

“Kita mulai ya, saya akan menyuntik sedikit, tapi tidak sakit kok”, dr. Hari menambahkan.

“Baik dokter”, saya menjawab.

dr. Hari menyuntik pangkal paha sebelah kanan, suntikan itu untuk melakukan bius lokal. Kemudian bagian pangkal paha diolesi dengan sejumlah alkohol. Rasa dingin merembes tubuh saya bagian bawah. Beberapa saat kemudian dr. Hari mulai bekerja. Saya bisa merasakan sesuatu di pangkal paha saya, meski sudah di bius lokal, tapi saya masih bisa merasakan pangkal paha saya agak ditekan, mungkin pada saat itu alat kateter mulai dimasukkan ke pembuluh darah di pangkal paha. Pembuluh darah di pangkal paha termasuk pembuluh darah yang besar yang membawa darah bersirkulasi. Kalau pembuluh darah “dibuka” sembarangan, darah akan muncrat, karena tekanan darah cukup tinggi, karena itu pembukaan pembuluh darah di pangkal paha mesti dilakukan oleh dokter yang berpengalaman.

Beberapa menit kemudian dr. Hari mulai memperhatikan layar monitor. Dari keempat layar monitor yang ada, salah satu memperlihatkan gerakan jantung. Saya yang terbaring juga bisa melihat keempat layar monitor meski harus sedikit menekuk kepala. Dokter Hari berdiskusi dengan para asistennya tentang gambar yang ada di monitor. Layar kadang memperlihatkan gambar dengan pembuluh darah, gambar itu terlihat ketika cairan “kontras” disemprotkan. Ketika itulah bisa terlihat dimana posisi “kabel” kateter berada. Dengan terlihatnya posisi kabel kateter, terlihat juga kondisi pembuluh darah yang menyempit.

Dokter Hari menunjukkan kepada saya kondisi pembuluh darah jantung saya yang menyempit.

“Pak Togar, ini pembuluh darah di jantung sebelah kiri dengan penyempitan sudah mencapai 90%. Inilah yang menyebabkan rasa nyeri di dada bapak, karena oksigen yang masuk ke jantung jumlahnya sedikit.” Dokter Hari menjelaskan.

Untuk orang biasa seperti saya, diameter pembuluh darah itu sekitar 3-4 milli meter. Jadi kalau ada penyempitan sampai 90%, berarti ruang yang tersedia untuk aliran darah hanya tinggal sekitar 0,3 millimeter. Tentu saja ini sangat sempit untuk menyalurkan darah dan oksigen ke jantung saya. Dokter Hari juga menjelaskan kondisi pembuluh darah saya yang lain. Semua ada 5 titik penyempitan yang terjadi, ada yang penyempitannya sebesar 70% dan bahkan ada yang 95%.

“Pak Togar, kita akan tangani penyempitan ini secara bertahap. Sekarang ini saya akan pasang “stent” (bahasa umumnya ring) di pembuluh darah sebelah kiri. Karena ada dua titik, maka saya akan pasang stent yang agak panjang. Lain kali akan kita tangani pembuh darah lainnya”, dokter Hari berkata.

“Silahkan pak, lakukan saja yang terbaik“, kata saya.

Kemudian dokter Hari berdiskusi lagi dengan para perawat, meminta diambilkan peralatan tambahan termasuk “stent” yang akan dipasang di pembuluh darah di jantung saya. Saya mendengarkan semua pembicaraan dokter dengan asistennya. Sambil terus berdoa, saya menatap langit-langit ruang operasi itu. Saya tidak mau tidur, saya kuatir kalau saya tertidur, nanti saya tidak tau apa yang terjadi dengan proses kateterisasi yang berlangsung ini. Sesekali saya mengamati ke empat layar monitor yang tergantung di bagian kiri saya. Meski tidak tau persis apa arti gambar yang tertera di layar monitor itu, saya terus mengamati layar, sesekali dokter menjelaskan kepada asistennya posisi alat kateter yang digunakan.

Saya bisa melihat di layar letak penyempitan yang disebutkan oleh dokter. Layar monitor yang lain menunjukkan sejumlah angka-angka. Salah satu monitor menunjukkan data-data kondisi tubuh saya, seperti tekanan darah, dan lain-lainnya.

Saya merasakana penantian yang sangat lama, kadang-kadang sambil bekerja, dokter juga bercerita hal-hal lain, yang ditanggapi oleh ketiga perawat. Rupanya dokter juga sambil memproses kateterisasi merasakan lamanya pemasangan itu. Mereka sempat berdiskusi lama, karena tidak mudah memasukkan alat stent di posisi yang diinginkan.

“Sabar ya pak Togar, posisi pembuluh darah ini terlalu miring, sehingga agak sulit mencantolkan alatnya” dokter Hari mengatakan kepada saya. Saya hanya menjawab pendek.

“Iya pak“, kata saya. Tentu saja saya tidak mungkin protes atau komplain. Dokter dan perawat itu sedang bekerja keras memasang stent di pembuluh darah di jantung saya.

Akhirnya setelah hampir dua jam, proses pemasangan stent yang pertama itu selesai.

“Sudah selesai pak, kesempatan berikutnya kita pasang lagi.” dokter Hari berkata kepada saya.

“Terimakasih dokter” saya menjawab.

“Rasa nyeri di dada bapak nanti akan berkurang”

“Mudah-mudahan dokter”.

Kemudian dokter membereskan seragamnya, perawat mulai membereskan peralatan yang digunakan. sekitar beberapa menit kemudian saya diindahkan dari ruang kateterisasi ke ruang sebelah untuk proses pencabutan alat dari pangkal paha saya.  Ruang kateter akan segera dipakai untuk pasien lainnya. Saya bersyukur akhirnya proses kateter selesai juga. Berterimakasih kepada Tuhan, semoga proses kateterisasi ini bisa memulihkan fungsi jantung saya.

3 thoughts on “Ruang tinggal 10 persen dari 3 millimeter

  1. Lae Togar, apakah tidak ada tanda tanda yang bisa dirasakan sewaktu proses penyempitan sudah mencapai 50? Selama ini, kalau lae mengukur tensi, berapa/berapa?

    Like

    • Terimakasih lae hh, berdasarkan informasi yang saya dapatkan dan pengalaman saya, tanda-tanda fisik dan medis bisa berbeda dari orang yang satu ke orang lainnya. Tergantung pada daya tahan dan kondisi tubuh seseorang. Saya merasakan nyeri di dada dan nafas tersengal ketika melakukan aktifitas fisik, misalnya jalan kaki agak cepat sejauh 500 meter terasa nyeri dan capek. Ternyata setelah di kateter, penyempitan sudah 90%. Mungkin pada saat penyempitan 50% saya belum merasakan kesulitan, memang pernah mengeluh terasa capek di sore hari, waktu itu saya pikir ya biasalah kalau pulang kerja capek, karena umur sudah mencapai 50 an. Saya pernah ketemu dengan seorang yang hampir pingsan, lalu dibawa ke rumah sakit, dokter jantung memerintahkan kateter, ternyata pembuluh darahnya normal. Adik ipar saya sudah pingsan (anfal) dua kali, ternyata setelah di kateter dia hanya penyempitan di satu titik sebesar 85%.
      Selain itu karena pemicu jantung koroner itu banyak, tidak mudah untuk menentukan apakah gejala yang kita alami, merupakan akibat dari penyempitan pembuluh darah. Dalam kasus saya, sampai sekarang ini, tekanan darah saya hampir selalu normal, begitu juga kadar gula selalu normal, saya tidak merokok, tidak mudah stres, saya juga nyaris tidak pernah begadang, berat badan belebih hanya sekitar 2 kg dari normal. Pemicu jantung saya hanya 2 yaitu kolesterol tinggi dan kurang olah raga.

      Jalan terbaik menurut saya adalah pemeriksaan yang teliti oleh dokter yang berpengalaman. Kadang ada dokter yang terlalu cepat mengambil kesimpulan. Ini tidak baik. Sebaliknya ada juga dokter yang meski sudah ada hasil pemeriksaan, tapi masih bilang: “Enggak apa-apa”. Perlu juga ada “second opinion” untuk meyakinkan kita. Saya sampai dua kali kateterisasi dan hasilnya sama, baru saya yakin bahwa saya kena jantung koroner. Terimaksih.

      Like

  2. Saya juga baru satu minggu dipasang stent jantung 2 bh di RS Binawaluya Jakarta, dari proses masuk ruangan dan pemasangan hanya 1 jam, pemasangan kateter dan stennya paling 15 menit. Dirawat hanya 25 jam sdh bisa pulang dan segar. Untuk yg ada keluhan di jantung tidak usah takut dan ragu. Proses cepat dan tidak ada rasa sakit, kecuali setelahnya saat tangan bekas luka kateter diikat dengan kuat sehingga lengan bengkak. İtu saja.

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s