Demo, trus mau apa?

dokter-indonesiaSiang tadi saya lewat di Jl. Merdeka Utara, Jakarta, menjelang belokan ke kiri di depan istana, sejumlah orang memakai jas putih berdemo. Saya melambat untuk melihat sejenak apa bunyi spanduk yang dipampangkan para pendemo tersebut. Sekilas saya baca spanduk bertuliskan: “Batasi dokter asing, lindungi dokter Indonesia!”. Saya tidak sempat meperhatikan dengan lebih detil tulisan yang lain. Polisi yang bertugas menjaga pendemo melambai-lambaikan tangan agar kendaraan mempercepat laju.

Sambil jalan saya sembari berpikir, apa ya yang dimaui oleh para pendemo itu tadi. Saya menduga para pendemo itu adalah komunitas dokter Indonesia yang memperingati hari dokter pada hari ini. Saya tidak tau komunitas dokter yang mana yang berdemo di depan istana. Saya sangat tergelitik dengan tulisan di spanduk itu, apalagi kalau tulisan itu benar-benar adalah aspirasi komunitas dokter Indonesia yang disampaikan dalam demo di depan istana presiden.

Ber demo tentu sah-sah saja, siapapun boleh berdemo, termasuk komunitas dokter Indonesia. Tapi terus terang saya tidak habis pikir dengan tulisan spanduk pendemo hari ini. Profesi dokter dan komunitas dokter adalah komunitas ilmuwan, kelompok masyarakat Indonesia yang terdidik dan sangat dihargai oleh masyarakat. Jadi kalau komunitas dokter menuntut perlindungan dari maraknya dokter asing di Indonesia, menurut saya itu sudah salah kaprah, kebablasan dan tidak jelas apa maunya.

Secara tidak langsung, tulisan spanduk itu bisa diartikan bahwa dokter Indonesia tidak sanggup bersaing dengan  dokter asing sehingga meminta perlindungan, apalagi melalui demo. Pertanyaanya kenapa kehadiran dokter asing di Indonesia menghantui atau menjadi ancaman bagi dokter Indonesia? Kalau dokter Indonesia benar-benar profesional, kompeten, dan melayani pasien dengan baik, kenapa harus takut?? Apakah demo itu sekaligus pernyataan dari komunitas dokter Indonesia bahwa mereka tidak kompeten dan tidak profesional??

Tulisan spanduk itu bisa dimaknai bahwa komunitas dokter Indonesia tidak kompeten. Kalau dokter-dokter di Indonesia profesional, baik pelayanannya, rasanya orang sakit tidak perlu pergi jauh-jauh berobat keluar negeri. Sungguh sangat disayangkan komunitas dokter Indonesia sudah mengakui kekalahannya terhadap dokter asing. Apa daya beginilah kelompok masyarakat eksklusif Indonesia. Sungguh sangat disayangkan.

2 thoughts on “Demo, trus mau apa?

  1. Amang baca dulu kenapa dokter pada Demo, jangan buat tulisan tetang demo solidaritas dokter pada hari ini dengan mengambil satu sub tema kecil dari sebuah spanduk yang tidak sengaja amang liat.

    Sudah tau dokter di pedalaman hanya digaji 1,2 jt per bulan (yang lebih rendah dari buruh) dan tuntutan jam kerja yang lebih lama dari buruh sekalipun ?

    Belum lagi dengan pemerintah yang ogah2an memberikan fasilitas penjunjang di rumah sakit daerah2 pedalaman tersebut sampai2 dokter Indonesia akhirnya tidak update dan jadi bego karna nya.

    Sudah tau ?

    Semoga hikmat kebijaksanaan menjadi keutamaan sebelum menghakimi.

    Like

    • @Daniel, terimakasih atas komentarnya. Seperti saya tulis, saya menanggapi atas spanduk yang dibawa pendemo itu. Saya ada cerita teman yang anaknya seorang dokter muda. Anak teman saya ini seorang dokter (perempuan) yang setelah lulus harus bekerja sukarela di pedalaman NTT. Selama di NTT dia melayani di puskesmas, dan tinggal bersama di rumah kepala puskesmas. Setiap bulan ia menerima sekitar Rp. 6 juta lebih dari Pemerintah Pusat. Selain itu masih ada tambahan dari Pemda Kabupaten. Ia nyaris memutuskan untuk mengabdi disana lebih lama. Tapi keluarganya memaksanya segera kembali ke Jawa dengan alasan supaya segera sekolah spesialis. Si dokter muda merasa happy di pedalaman NTT, tapi orangtuanya yang “over protected”, tak mau anaknya di daerah terpencil.

      Jadi poin saya, di daerah terpencil, para dokter tetap jauh lebih hebat dari kondisi masyarakat sekitarnya. Dan saya tidak punya maksud untuk menghakimi. Saya justru prihatin dengan cara pendemo itu menyampaikan aspirasinya dan kekuatiran mereka akan saingan dokter asing. Kalau memang bagus kenapa takut bersaing.

      Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s