Diagnosa abu-abu dokter

Daniel Kecil_0011Saya tidak pernah bosan melihat foto di samping ini. Ini adalah foto anak laki-laki sulung saya, Daniel, sewaktu berumur sekitar 3 bulan. Siapapun tentu setuju kalau foto ini menggemaskan, lucu, montok, sehat. Tetapi dalam perkembangannya kemudian, Daniel sering sakit, terutama demam atau flu. Sedemikian seringnya dia sakit demam, sehingga frekuensi kunjungan ke dokter anak hampir setiap 2-3 minggu. Nyaris tidak ada bulan terlewati tanpa ke dokter. Itu terjadi sampai Daniel berumur sampai sekitar 6 tahun.  Selama itu, kami nyaris sudah “belanja dokter anak”, dokter anak yang katanya “paling top” sudah kami datangi.

Pengalaman “belanja dokter” mengajarkan banyak hal pada saya dan keluarga kami. Pengalaman paling berharga bagi saya adalah ketika Daniel berumur sekitar setahun. Ketika itu, karena sesuatu sebab, Daniel mengalami diare sehingga harus dirawat di rumah sakit. Tidak mau mendapat perawatan yang asal-asalan, saya dan istri membawa Daniel ke rumah sakit ternama di kawasan Mayestik, Jakarta Selatan. Hari pertama masuk perawatan, Daniel menjalani test alergi anti biotik, test yang dilakukan adalah test kulit dimana kulit ditusuk dengan jarum kemudian dilakukan pemeriksaan. Setelah menjalani test itu, dokter dan perawat mengatakan bahwa Daniel tidak alergi terhadap anti biotik, karena test alergi hasilnya negatif.  Maka diberilah obat anti biotik sebagai bagian dari perawatan untuk diare yang diderita oleh Daniel.

Diare yang diderita Daniel berangsur sembuh, tetapi pada hari ketiga, tubuh Daniel terlihat membengkak. Tangan, kaki, perut dan wajah anak saya membengkak.  Saya dan istri mempertanyakan pembengkakan kepada dokter yang menangani, apa yang terjadi dengan anak saya. Ibu dokter (saya sudah lupa namanya) mengatakan ia akan memberi obat agar bengkaknya berkurang, dan akan mengambil contoh darah, feses dan urin untuk memeriksa, mengapa terjadi pembengkakan pada tubuh Daniel. Karena berharap agar segera sembuh, saya dan istri menyetujui pemeriksaan yang diminta dokter. Hari itu juga dilakukan pemeriksaan darah, urin dan feses.

Besoknya, penyakit diare Daniel sudah berhenti dan sudah bisa makan secara baik, tinggal yang menjadi masalah adalah pembengkakan tubuhnya. Ketika dokter anak berkunjung, saya bertanya lagi kepada dokter tentang hasil pemeriksaan. Menurutnya darah, urin dan feses semua normal, tidak ada tanda-tanda kelainan. Dokter belum bisa menyimpulkan apa yang menjadi penyebab badan Daniel membengkak. Dokter juga mengatakan bahwa diarenya sudah tidak masalah.

Ketika saya tanya bagaimana tindakan selanjutnya, dokter menyarankan agar anak saya yang berumur setahun itu diobservasi dengan lebih intensif. Untuk itu dokter menyarankan agar dirawat selama sebulan, dan dalam sebulan itu akan diadakan pemeriksaan dan diamati penyebab pembengkakan dan bagaimana mengatasinya. Saya terkejut mendengar saran dokter itu, dan meminta waktu untuk mendiskusikannya dengan istri saya.

Reaksi pertama saya terhadap saran dokter anak itu adalah penolakan, karena saya tidak mau anak saya jadi “kelinci percobaan” dokter anak untuk mengetahui jenis penyakit yang mengakibatkan tubuhnya membengkak. Bagi saya tidak masuk akal kalau anak kecil berumur sekitar setahun yang sebelumnya sehat harus menjalani pemeriksaan intens selama sebulan di rumah sakit. Saya kuatir akan dilakukan berbagai pemeriksaan yang bisa mengakibatkan hal-hal yang negatif bagi anak saya. Hal kedua adalah soal biaya perawatan selama sebulan di rumah sakit beserta semua pemeriksaan yang akan dilakukan. Sudah tentu untuk perawatan seperti itu membutuhkan biaya yang sangat besar.

Karena itu saya dan istri sepakat untuk berdiskusi dengan keluarga tentang upaya lain untuk mengetahui penyebab pembengkakan tubuh anak saya. Kaka ipar saya kemudian berkonsultasi dengan seorang dokter spesialis alergi dan menceritakan kondisi anak saya kepada dokter yang kebetulan kenalannya. Dokter spesialis alergi tersebut, menduga bahwa anak saya menderita alergi, tapi untuk memastikan ia meminta agar anak saya dibawa kepadanya.

Dengan hasil konsultasi oleh kakak ipar, saya dan istri membawa Daniel pulang dari rumah sakit dan segera membawa ke dokter spesialis alergi tersebut. Hanya dengan melihat tubuh anak saya sebentar saja, dokter spesialis alergi menyimpulkan bahwa anak saya hanya menderita alergi, dan kemudian diberi obat anti alergi. Dokter spesialis itu berkata bahwa Daniel menderita alergi reaksi lambat. Meski test kulit untuk alergi dilakukan di rumah sakit, bagi orang yang mempunyai alergi reaksi lambat, dalam 2-3 jam test alergi tidak akan memberikan tanda apa-apa. Sehingga dianggap bahwa Daniel tidak alergi terhadap anti biotik.  Tanda-tanda alergi baru muncul setelah 3-4 hari bagi orang dengan alergi reaksi lambat seperti Daniel.

Dokter spesialis alergi mengatakan bahwa Daniel alergi reaksi lambat terhadap beberapa anti biotik seperti Amoxylin dan Penicillin. Reaksi alergi baru terlihat setelah 3 hari berupa pembengkakan pada bagian-bagian tubuh Daniel. Setelah itu dokter memberi obat anti alergi yang harganya relatif murah. Besoknya, pembengkakan Daniel berkurang sangat banyak, dan tidak mengalami gangguan yang lain.

Dari kejadian itu saya menjadi sangat hati-hati terhadap saran dokter. Sebisa mungkin saya selalu berkonsultasi dengan dokter kedua atau ketiga, bila seorang dokter menyarankan suatu tindakan pada saya dan keluarga saya.

Kalau saya mengikuti begitu saja saran dokter anak di rumah sakit untuk melakukan observasi terhadap anak saya selama. Bisa jadi anak saya justru akan mendapatkan musibah lain. Bila terjadi musibah malpraktek, hampir pasti dokter dan rumah sakit akan membantahnya. Dengan tenang dokter anak itu akan mengatakan sudah bekerja sesuai SOP. Mereka tidak akan mau tau dengan akibat yang terjadi dengan anak saya.

Karena itu saya ragu terhadap kasus dokter Ayu yang kemudian mengakibatkan komunitas  dokter se Indonesia mogok beberapa waktu lalu. Saya tidak yakin bahwa dr. Ayu dkk dikriminalisasi sebagai mana dituduhkan oleh komunitas dokter. Dalam banyak hal, saya melihat dokter tidak transparan dalam berinteraksi dengan pasien. Pasien selalu sebagai pihak yang lemah.

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s