Hai dunia, Selamat Natal! Gembiralah..

gereja alun-alun MalangHati saya tergelitik menyaksikan sebuah foto di sosial media. Foto itu menunjukkan sebuah spanduk yang dibentangkan dan bertuliskan peringatan tentang fatwa Majelis Ulama Indonesia yang mengharamkan mengucapkan Selamat Natal. Saya tidak bermaksud untuk mempermasalahkan spanduk itu, biarlah masyarakat yang menilai sendiri apakah spanduk seperti itu produktif atau tidak untuk membangun kemanusian yang berkarakter.

Saya meyakini Natal adalah untuk semua, karena Natal adalah kelahiran. Semua orang membutuhkan kelahiran, baik kelahiran secara fisik maupun secara spirit, secara rohani. Secara fisik kita dilahirkan oleh ibu, setiap manusia diantarkan oleh ibunya kedunia ini. Secara spirit, setiap orang juga membutuhkan kelahiran rohani.

Kelahiran fisik, atau natal fisik, hanya terjadi sekali pada setiap orang. Tentu tidak ada orang yang dilahirkan duakali oleh ibunya. Tetapi natal rohani bisa lebih dari sekali. Ketika seorang anak menjadi dewasa, itu adalah kelahiran atau natal seorang dewasa. Pada saat seseorang meyakini dan menyatakan keimanannya, itu juga adalah natal, kelahiran baru seorang hamba kepada Tuhan, pengakuan seorang mahluk akan Tuhan. Jadi Natal adalah milik semua orang, Natal adalah untuk dunia.

Dalam hal Kristen, Natal adalah perayaan kelahiran Yesus. Kegiatan Natal dewasa ini dilakukan dalam bentuk ibadah, ataupun non ibadah. Perayaan non ibadah bisa berupa kegiatan sosial, pengucapan syukur, makan bersama atau kegiatan dalam bentuk lain. Sementara ibadah Natal dilakukan menurut kaidah-kaidah ibadah Kristiani.

Menyampaikan salam Natal, atau mengucapkan Selamat Natal, sejatinya adalah komunikasi antar individu. Komunikasi antar individu diperlukan oleh setiap orang, tidak melihat latar belakang atau keyakinan individu yang berkomunikasi, komunikasi adalah netral.  Mengucapkan Selamat Natal tidak berarti ikut ibadah Natal. Terlalu picik kalau diartikan menyampaikan ucapan selamat Natal seolah-olah meyakini ke-Ilahian Yesus. Anggapan seperti itu tidak masuk logika, tidak masuk nalar.

2 thoughts on “Hai dunia, Selamat Natal! Gembiralah..

  1. Pak Togar, apa kabar? Banyak kerancuan yang terjadi yang justru mengarahkan wacana ini ke arah kebencian dan perselisihan. Natal bagi umat Islam bukanlah kelahiran Yesus, karena Islam menggunakan tanggalan komariah (tahun Islam) dan bukan Masehi / syamsiah / kalender Romawi. Hanya saja, saya tidak setuju dengan pemahaman para ulama yang bilang bahwa mengucapkan selamat natal berarti meyakini keTuhan-an Yesus itu sendiri. Betul bapak bilang, itu hanya bentuk komunikasi antar manusia, seperti mengucapkan “selamat menempuh hidup baru” bagi pasangan yang baru menikah. Tidak mesti toh apa yang ‘diselamatkan’ berhubungan dengan hidup (apalagi kepercayaan) kita. Menjaga toleransi itu HARUS. Buat saya pribadi, sekalipun saya tidak meyakini Natal, saya tidak masalah mengucapkannya, terlebih kepada teman dekat yang selalu ada untuk kita. Merry Christmas Pak, selamat merayakan kebersamaan dengan keluarga!

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s