Bedanya Askes dengan BPJS Kesehatan

BPJS 2014Meski sosialisasi “tukar baju” Askes menjadi BPJS Kesehatan tidak begitu gencar, tetapi BPJS sesumbar akan jauh lebih baik dari Askes. Setidaknya itu yang dijanjikan oleh Dirut BPJS Kesehatan kepada Wapres, akhir desember 2013 lalu. Tapi dari segi pengguna Askes/BPJS ada satu perbedaan yang menyolok yang saya rasakan. BPJS malah merepotkan. Di awal tahun 2014 saya sudah merasakan kerepotan perubahan kebijakan BPJS. Ceritanya begini.

Setiap bulan, saya harus kontrol ke rumah sakit, untuk memeriksakan kondisi pembuluh darah jantung saya yang menyempit. Setiap bulan pula saya harus mengkonsumsi beberapa jenis obat yang diperlukan agar kondisi jantung dan pembuluh darah saya tidak bermasalah. Pemberian obat-obatan itu tentu harus atas kontrol dan “perintah” dokter spesialis jantung. Selama tahun 2013, setiap bulan saya diberi obat untuk selama sebulan. Obat bulanan saya itu antara lain Clopidogrel untuk pengencer darah, Bisoplorol, Isosorbide Dinitrate  dan Asetosal Aspilet untuk penguat jantung, serta Simvastatin/Atorvastatin untuk mengontrol Cholesterol. Dokter spesialis jantung memberi resep obat-obatan itu untuk selama sebulan. Saya mendapatkan obat-obatan itu dari Apotik Askes, kecuali Statin, yang pada 2013 lalu tidak ditanggung oleh Askes.

Tanggal 2 Januari 2014, seperti biasa saya ke rumah sakit PAD untuk kontrol sekaligus minta obat tambahan, karena obat saya sudah habis. Sebagaimana biasa, proses rawat jalan di RS Pemerintah dimulai dengan pendaftaran di Askes alias BPJS Kesehatan untuk mendapatkan Surat Jaminan Perawatan (SJP). Ruangan pendaftaran SJP berpindah dari loket lama ke loket baru seperti foto diatas. Loket yang disediakan hanya ada 3 unit untuk melayani pengantri yang jumlahnya ratusan. Loket pendaftaran melayani mulai jam 07.00 pagi, kalau ada pasien yang datang sekitar jam 7 pagi, rata-rata pasien sudah mendapat antrian pada nomor diatas 300. Dengan loket yang hanya 3, dipastikan bahwa jumlah pengantri yang menunggu menjadi sangat banyak.

Saya sudah mengambil nomor antrian pada sekitar jam 06.30 sewaktu akan ke kantor, pada jam itu nomor antrian sudah 196.  Ketika saya datang kembali ke loket jam 08.30, loket baru melayani nomor 120 an. Saya harus sabar menunggu sampai sekitar jam 09.10 untuk mendapatkan SJP.  Idealnya dengan jumlah pengantri yang demikian besar, loket BPJS Kesehatan di rumah sakit ini setidaknya berjumlah 10 buah, agar antrian tidak terlalu lama. Apalagi nantinya BPJS akan melayani tidak hanya peserta Askes, tapi juga dari eks Jamkesmas dan juga eks ASABRI. Jadi loket BPJS di RSPAD mestinya ditambah, agar masyarakat dapat dilayani dengan lebih baik.

Dengan membawa SJP, saya mendaftar ke Poli Jantung, disini harus menunggu lagi. Petugas harus mencari berkas Rekam Medik, baru kemudian akan dilayani oleh perawat . Pencarian dokumen rekam medik masih sangat sederhana, seorang petugas pergi ke gudang dokumen rekam medik untuk mencari berkas pasien yang membutuhkan pelayanan hari itu. Karena begitu banyaknya pasien yang menjalani perawatan jalan, pencarian dokumen rekam medik bisa mencapai 2 jam. Sekitar jam 11.00 siang, nama saya baru dipanggil suster untuk diperiksa tekanan darah dan pencatatan rekam jantung alias EKG.

Selesai perekaman EKG, masih harus menunggu konsultasi dengan dokter spesialis jantung.  Penantian dokter bisa lama bisa agak lebih cepat, karena kadang-kadang dokter jaga yang bertugas hanya 1 orang. Setelah mengantri, akhirnya perawat mempersilahka saya masuk ke ruang dokter untuk diperiksa dan konsultasi. Saya menyampaikan beberapa hal sehubungan dengan kondisi jantung yang saya rasakan, dari konsultasi sekitar 7-10 menit itu, dokter memberi resep untuk 30 hari.

Tahap berikutnya adalah membawa resep ke apotik untuk mendapatkan obat. Disini proses antri dimulai lagi, karena apotik melayani pasien rawat inap dan rawat jalan. Berdasarkan pengalaman, saya meninggalkan resep di apotik untuk saya ambil obatnya di sore hari sepulang dari kantor.  Sore itu saya mengambil obat, tapi petugas apotik hanya memberi obat untuk 10 hari, si petugas menjelaskan bahwa menurut ketentuan BPJS yang baru, jumlah obat maksimal diberi kepada pasien rawat jalan hanya untuk 10 hari. Saya tidak bisa mendapatkan penjelasan kenapa peraturan itu berubah demikian, karena si petugas apotik mengatakan dia juga tidak tau kenapa terjadi perubahan itu.

Kebijakan baru BPJS itu akan sangat merepotkan pasien rawat jalan yang biasanya mendapatkan obat untuk selama 30 hari. Selain harus ke rumah sakit menjadi 3 kali sebulan, yang tentu menambah biaya transportasi dan penantian antri yang lama, tetapi juga akan merepotkan rumah sakit sendiri. Ketentuan baru BPJS tersebut harus sejalan dengan manajemen rumah sakit secara keseluruhan. Kalau pasien rawat jalan semakin sering ke rumah sakit, mestinya harus diimbangi oleh kesiapan dokter, paramedis dan sarana yang lebih banyak agar tidak terjadi antrian yang lebih panjang. Hal ini nampaknya belum dipertimbangkan secara matang oleh BPJS. Mestinya BPJS harus mempertimbangkan secara komprihensif sebelum merubah ketentuan pelayanan kepada masyarakat. Saya pikir membatasi jumlah obat maksimal untuk 10 hari bagi pasien rawat jalan justru akan merepotkan rumah sakit dan pada akhirnya merepotkan BPJS sendiri. ini yang saya lihat bahwa BPJS Kesehatan semakin merepotkan masyarakat, terutama pasien rawat jalan.

37 thoughts on “Bedanya Askes dengan BPJS Kesehatan

  1. Kalo ga mau susah ngantri atau nunggu lama ya ga usah pake bpjs, ada uang ada service. Skrg mah yang ada uang aja bisa sampe ga kebagian kamar atau UGD gara2 yang pake bpjs kayak kacang goreng, tp rumah sakit nya ga ada yang memadai. Kamar vip aja bisa penuh di rumah sakit yang terima bpjs, akhirnya skrg kalo berobat lebih enak cari RS yg belum ada embel2 kerja sama dgn BPJS. Because the service is far more better than most of those hospitals with BPJS patients.

    Like

  2. seperti biasa program pemerintah selalu muluk-muluk tp implementasinya selalu buruk, tdk memperhitungkan bahwa kenyataan di lapangan tdk semudah teori diatas kertas, dalam prakteknya BPJS layak mendapatkan nilai BBB+ bukan Baik, Berguna, Bermanfaat, tapi Birokrasi, Birokrasi, Birokrasi plus birokrasi dan birokrasi, kalau bisa dipersulit knp dipermudah, gampang tho?

    Like

  3. sebagai seorang PNS sy juga tdk setuju klu Askes di gabung jd BPJS , jelas ini sangat merugikan para PNS… krn mereka yg BPJS mandiri iurannya baru 1 bulan minta beobat lgsng ke RS tdk mau dilayani di FKTP , dia beranggapan klu dia sdh bayar…… intinya semua fasilitas kesehatan yg dimiliki peserta ASKES berkurang jauh setelah dilebur jd BPJS

    Like

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s